Sabtu, 10 September 2016

LCC SMP Kabupaten Kudus Segera Digelar

BELAJAR: Anak-anak sedang bejar di ruang kelas.
Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus hendak menggelar lomba cerdas cermat (LCC) tingkat SMP Se-Kabupaten Kudus. Baik untuk SMP negeri maupun swasta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak semua SMP mengikuti. Hal ini terjadi karena ada sekolah-sekolah yang memiliki keterbatasan sehingga tidak mengikutinya.

Kegiatan LCC  diselenggarakan Selasa (20/9) bertempat di lingkungan kantor Disdikpora Kabupaten Kudus. LCC yang diprakarsai oleh musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Kudus ini meliputi lima bidang pengetahuan, yakni bidang Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika, dan pengetahuan umum.

Tahun-tahun yang lalu pelaksanaannya dilakukan dua tahap. Tahap pertama, tes tulis. Setiap regu/kelompok (tiga anak) diberi soal dan harus dikerjakan. Soalnya berbentuk pilihan ganda. Di tahap pertama ini, ditentukan tiga regu/kelompok terbaik. Dan, tiga regu/kelompok terbaik inilah yang masuk ke tahap kedua. Tahap kedua, tahap final. Dalam tahap final, ketiga regu/kelompok terbaik diberi soal secara lisan dan dijawab secara lisan juga. Ada soal wajib, soal lemparan, dan soal rebutan.

Pelaksanaan LCC ini sebagai program tahunan untuk menjaring anak-anak berprestasi. Anak-anak yang berprestasi tersebut diberi ruang khusus untuk terus dibina. Karena bukan mustahil, setelah even di tingkat kabupaten, mereka harus berjuang di tingkat yang lebih tinggi, provinsi dan nasional. Dan, dari anak-anak inilah bangsa ini berharap untuk ke depan lebih maju dan siap berkompetisi dengan bangsa lain.



Rabu, 31 Agustus 2016

Melek Huruf Sudah 94%, Tapi Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih Rendah



SERIUS: Anak-anak sedang membaca buku di pembukaan Gerakan Masyarakat Membaca
Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan Nasional RI, menjelaskan bahwa sekarang tingkat melek huruf penduduk Indonesia  sudah mencapai 94% dari 250 juta jiwa. Berarti tinggal 6% saja yang buta huruf. Ini sejatinya fakta sejarah yang sangat membanggakan. Sebab, Indonesia tentu akan mudah untuk mencapai tingkat kesejahteraan hidup.

Masyarakat yang melek huruf memiliki peluang akses lebih baik ketimbang masyarakat yang buta huruf. Karena, mereka dapat memeroleh banyak informasi lewat membaca. Lebih-lebih di zaman digital ini begitu banyak tersedia informasi yang dapat dibaca kapan dan di mana saja. Tidak hanya di kota-kota besar, di pelosok-pelosok desa pun akses untuk melahap banyak bacaan (informasi) mudah dilakukan. Siang dan malam dapat dilakukan. Yang bukan mustahil, hal ini dapat mengantarkan masyarakat pada tahap kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Akan tetapi, modal besar (melek huruf) itu ternyata belum termanfaatkan dengan baik. Hal itu terbukti dalam hasil studi "Most Littered Nation In the World" oleh  Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu. Dalam studi itu tercatat betapa rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Karena Indonesia ternyata berada di urutan ke-60 dari 61 negara peserta di seluruh dunia.
Fakta itu pun menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara melek huruf dan minat membaca. Tidak dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang melek huruf pasti memiliki minat membaca tinggi. Di  Indonesia, secara umum, rendahnya minat membaca masyarakat boleh jadi disebabkan oleh budaya literasi belum terbentuk di kalangan masyarakat.
Masyarakat Indonesia pada umumnya masih terbiasa dengan budaya mendengar dan bertutur. Budaya mendengar dan bertuturdialami oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Baik di kota maupun desa. Keadaan ini semakin diperparah oleh datangnya budaya pandang-dengar yang merebak ke segala penjuru. Budaya ini memanjakan masyarakat. Sehingga budaya literasi, yang membutuhkan “energi” lebih, yang belum dialami secara mendalam, terabaikan begitu saja. Kenyataan ini (sepertinya) memenuhi prinsip, kalau ada yang mudah dan enak buat apa memilih yang sulit dan tak enak.

Barangkali apa yang dilakukan Saur Marlina Manurung, antropolog sekaligus penggerak pendidikan masyarakat rimba (suku pedalaman), dapat menjadi renungan dan inspirasi. Mengapa? Karena olehnya dijumpai bahwa masyarakat rimba yang didampinginya memiliki minat membaca yang tinggi. Menurut Butet Manurung, demikian ia sering disapa, masyarakat rimba sudah memiliki budaya membaca meski tanpa media buku. Mereka pintar membaca alam dan lingkungan. Saat hendak berburu binatang, misalnya, mereka sudah membaca arah angin, cuaca, kondisi lingkungan, dan lain-lain terlebih dahulu. Sehingga binatang yang diburu mudah ditangkap.

Butet Manurung mengajari mereka membaca dan menulis dengan materi-materi yang bersentuhan dengan kehidupan mereka. Materi-materi yang sesuai dengan konteks keseharian mereka. Sehingga mudah dan langsung bisa dipraktikkan. Di samping itu, cara-cara yang bersifat menyenangkan dilakukan dalam mengajar. Kenyataan itulah yang memengaruhi masyarakat rimba senang membaca. Juga, barangkali karena mereka belum tercemari budaya global (baca: teknologi informasi), itu memudahkannya mencintai aktivitas membaca.
Hal-hal itu menunjukkan bahwa masih dibutuhkan kerja keras dari berbagai pihak untuk membangun minat membaca masyarakat Indonesia. Perlu ada gerakan gemar membaca dari lingkup keluarga, RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, dan seterusnya. Satu dengan yang lain saling terkait dan bersinergi. Sehingga saling menguatkan dan memotivasi. Perlu ada Butet Manurung-Butet Manurung lain, yang menjadi penggerak. Pemerintah daerah/pusat menyediakan sarana prasarana yang memadai. Para pejabat yang berwenang memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi dan respek terhadap gerakan ini. Lembaga-lembaga masyarakat dan mahasiswa ikut berperan penuh.

Sebab, sia-sia jika modal besar (95%) melek huruf masyarakat Indonesia tidak diberdayakan secara optimal. Pemberdayaan secara optimal potensi yang ada dengan melibatkan berbagai pihak, diyakini mampu mendorong masyaraka tmemiliki gairah membaca.
""