Minggu, 10 Desember 2017

Begitu Pulas Ia

Pukul sebelas tiga puluh pagi ulangan atau penilaian akhir semester pada hari pertama usai. Anak-anak langsung meninggalkan sekolah. Meski masih ada beberapa anak di sekolah. Entah sedang melakukan apa. Saya tidak mengetahui. Saya kira guru-guru lain yang masih berada di sekolah juga tidak mengetahui. Kami memang tidak memperhatikan secara khusus keberadaan mereka.
Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, sekelompok anak mulai meninggalkan sekolah. Diikuti oleh sekelompok anak yang lain. Sekolah menjadi sepi. Tidak terdengar lagi celoteh anak-anak. Candaan mereka lenyap seakan ditelan sepi. Ya, siang itu hanya ada beberapa guru dan karyawan. Tidak terlihat lagi satu pun anak di lingkungan sekolah.
Namun, salah satu teman guru, wanita, memberitahukan bahwa di ruang BK ada seorang anak, tidur karena sakit dan tidak bisa dibangunkan. Katanya, sudah dibangunkan dengan menggerak-gerakkan tubuhnya, tetapi tidak bangun. Tindakan itu dilakukan berkali-kali, tetapi tidak ada perubahan. Tetap. Tidur pulas. Sampai-sampai teman guru BK itu terlihat takut. Tidak pernah aku menghadapi kejadian seperti itu, akunya.

Ya, siapa pun dapat mengalami keadaan hati seperti yang dialami teman guru BK tersebut. Khawatir kalau terjadi apa-apa. Sudah dibangunkan dengan cara menggoyang-goyangkan  tubuhnya kok tidak bangun-bangun. Rasa tidak nyaman pun berkelebat dalam hati saya ketika mendengar pengakuan tersebut. Ada rasa tidak percaya. Khawatir juga kalau sampai terjadi akibat terburuk. Saya penasaran. 
Saya dan seorang teman guru, laki-laki, mengikuti teman guru BK. Begitu kami memasuki ruang BK, di tempat konsultasi, yang kebetulan ada tempat rileks sejenis sofa, terlihat seorang anak berjilbab tertidur, membujur. Dadanya turun-naik. Pertanda masih bernapas. Melihat ritmenya, proses menghirup oksigen, relatif normal. Tubuhnya terasa hangat, tetapi cenderung panas. Wajahnya tidak pucat. Akan tetapi, tidurnya betul-betul pulas. Saya mencoba turut membangunkannya, tetapi nihil. Tidak berhasil.
Informasi tersiar bahwa anak tersebut sebelumnya diberi panadol oleh salah satu teman tata usaha. Diminum dengan teh hangat. Yang, tentu ia berharap dapat menyembuhkan sakitnya.  Lalu diminta istirahat di BK. Dan, tertidur.

Ada beberapa teman yang menyayangkan kenapa sampai diberi panadol. Satu butir disuruh sekali minum. Kok tidak separuh saja. Bukankah panadol berdosis tinggi? Ada yang memberi argumentasi lagi, bahwa memberi obat itu harus hati-hati. Perlu resep dokter. Kalau tidak ada resep, jangan meminumkan obat. Kok berani ya? Lalu, terbersit juga dalam pikiran saya, jangan-jangan anak tersebut tertidur pulas gara-gara habis minum panadol. Itulah dugaan-dugaan kami, yang awam tentang seluk-beluk obat dan kesehatan.

Pikiran saya berubah. Saya menduga-duga anak tersebut memiliki beban psikologis saat wali kelasnya menceritakan keadaan anak tersebut. Ternyata ia anak yatim-piatu. Ia ikut mbahnya, kakeknya. Jadi, yang mendukung kehidupan dan sekolah anak tersebut adalah kakeknya. 
Saya beruntung ketimbang anak tersebut. Alasan pertama, saya sejak kecil, sebelum masuk sekolah, hanya piatu. Akan tetapi, ayah tidak bersatu dengan kami. Ayah berada di tempat lain. Kami tidak mungkin dapat menjangkau domisili ayah karena jauh di seberang lautan, di Indonesia bagian timur. Jadi, sepeninggal ibu, kami tidak memiliki naungan. 
Dibandingkan dengan empat saudara saya, saya lebih enak. Karena sejak peristiwa itu, saya “diambil” oleh adik ayah dijadikan anaknya. Secara ekonomi,  relatif mapan sebab paklik dan bulik sebagai PNS, guru. Ini alasan kedua saya bahwa saya lebih beruntung daripada anak didik kami yang saya ceritakan di sini.

Anak yatim-piatu, seperti  anak didik kami, itu merasa serba terbatas. Jika ia sedang menghadapi persoalan, apa pun persoalan itu, tidak semudah teman-temannya yang orang tuanya masih utuh. Mereka bisa berbicara sepuasnya kepada orang tua mereka. Sedangkan ia tidak. Barangkali kakeknya tidak dapat menggantikan peran ibu-ayahnya. Akan tetapi, acap kali kita berpikir bahwa masih lebih mending keadaannya karena masih memiliki kakek yang dapat merawatnya daripada sendirian, tidak ada yang merawat. Mungkin ada banyak anak yang yatim-piatu, hidup sendirian, tanpa sanak saudara. Atau, karena keadaannya begitu, mereka dirawat di panti asuhan. 
Ya, begitulah baiknya hati kita. Dalam keadaan yang kurang beruntung, kita masih dapat mengucapkan beruntung. Sebab, kenyataannya di dalam kehidupan selalu ada tingkatan-tingkatan. Selalu ada yang lebih buruk dan lebih baik. Ada yang lebih tidak beruntung dan lebih beruntung. Kita masih diberi hati untuk selalu bisa bersyukur dalam keadaan yang tidak enak sekalipun. 
Anak didik kami itu diasuh oleh kakeknya yang kurang mampu. Oleh karena itu, sekolah memberi bantuan setiap bulan lewat gerakan nasional orang tua asuh (GNOT). GNOT yang memang diadakan oleh sekolah sendiri. Donaturnya adalah guru-guru dan karyawan di sekolah kami, yang memiliki kepedulian kepada anak-anak didik kami yang kurang beruntung. GNOT intern sekolah kami sudah lama berdiri dan karenanya sudah banyak membantu anak-anak didik kurang mampu. Sekalipun gerakan, aksi sosial ini terus berjalan turut berperan mencerdaskan anak-anak, seperti bantuan-bantuan lainnya dari pemerintah.

Sekalipun ada banyak dukungan, bukan berarti persoalan selesai. Anak didik kami yang tertidur pulas boleh jadi karena pikiran dan perasaannya lelah. Sudah sampai pada klimaksnya: puncak kelelahan. Sebab, tidak sedikit orang yang jatuh sakit bukan karena persoalan materi, tetapi persoalan batin dan mental yang kurang terkelola dengan bijak. Tidak mudah mengelola benak dan mental secara bijak. Orang, termasuk saya, bisa mudah berucap, tetapi tidak mudah melakukan. Saya sendiri pernah mengalaminya, terpuruk karena tidak dapat mengelola hati dan mental. 

Di atas semuanya itu, saya masih menangkap ada kehebatan dalam diri anak didik kami yang satu ini. Dalam keadaan keluarga yang serba kurang, tidak beribu-ayah dan hidup bersama kakek yang kurang mampu, ia tetap bersekolah. Setiap hari naik sepeda, yang jarak tempat tinggalnya dengan sekolah lima-enam kilometeran. Ya, kalau dibandingkan dengan anak-anak lain yang lebih kurang beruntung, mungkin ia lebih beruntung. Pergi-pulang sekolah masih dapat menaiki sepeda, sementara ada anak-anak lain pergi-pulang sekolah yang berjalan kaki dalam jarak tempuh yang mungkin lebih jauh. Mata saya melihat berdasarkan lingkungan setempat, di sekolah kami. Saya membandingkannya dengan anak-anak didik kami yang lain. Ia tidak malu. Ia tidak putus asa. Mungkin ia hanya butuh istirahat sesaat. Begitu pulas ia.

Jumat, 08 Desember 2017

Memotret Trotoar

Berbelok ke arah kiri dari pintu gerbang sekolah tempatku mengabdi, menyusuri Jalan Getas Pejaten. Nama jalan itu diambil dari nama desa. Sekolah tempatku mengajar memang berada di Desa Getas Pejaten. Jadi wajar kalau nama jalan yang membujur utara-selatan, sebagian membujur di depan sekolah kami, bernama Jalan Getas Pejaten. 

Nama-nama jalan di kota kecil kami umumnya menggunakan nama desa, yaitu nama desa lokasi jalan itu berada. Jadi relatif mudah mencari alamat seseorang. Menyebut nama desa atau nama jalan sama-sama petunjuk alamat yang mudah. Sangat efektif, karena menyebut satu mengarah dua objek: nama jalan dan desa.
Ya, ada juga nama-nama jalan yang menggunakan nama-nama pahlawan dan nama-nama leluhur yang menjadi tokoh masyarakat setempat. Nama gang juga ada yang menggunakan nama leluhur, misalnya, Gang mbah Jati, berada di Desa Jatikulon. Mbah Jati dikenal masyarakat setempat sebagai leluhur Desa Jatikulon. Makamnya terletak di desa tersebut.
Penamaan jalan yang menggunakan nama desa atau kampung tentu tidak hanya di kota kecil kami. Daerah-daerah lain pun saya pikir juga begitu. Menamai jalan sesuai dengan nama desa atau kampung. Artinya, penamaan jalan seperti itu sudah umum. Di mana pun ada. Jadi tidak perlu dibicarakan lebih panjang lagi.

Kembali saja ke Jalan Getas Pejaten. Dari depan sekolah tempat saya bekerja hingga depan Museum Kretek, ada banyak hal yang dapat kita lihat sejak pagi hingga malam. Setiap pagi dan siang saya melewati jalan itu. Jadi tidak terlalu sulit saya mencatat hal-hal yang dapat saya lihat di sepanjang jalan itu. Khususnya hal-hal yang ada saat pagi dan siang. 

Salah satu hal yang menggelitik pikiran saya adalah pemandangan di pinggir jalan. Pemandangan yang selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada pertengahan 2008, misalnya, di pinggir jalan tersebut tidak ada aktivitas orang. Keadaannya sepi. Pinggir jalan masih ditumbuhi rerumputan. Keadaan seperti itu yang barangkali menjadi faktor orang-orang tidak berminat memanfaatkannya.  Pinggir jalan tidak bertuan, jadinya.

Beberapa waktu kemudian, pemerintah daerah setempat menata pinggir jalan depan Museum Kretek. Pinggir jalan dipaving. Jadi trotoar. Kondisinya bersih. Tidak berumput dan tidak becek kalau hujan. Ukuran lebarnya cukup untuk parkir satu mobil pribadi. Jadi relatif panjang. 

Saya tidak tahu persis peruntukan trotoar tersebut ketika awal dibangun. Untuk pejalan kaki atau untuk yang lain. Trotoar yang dibangun dari paving tentu tidak kuat untuk beban berat. Untuk pejalan kaki relatif kuat. Akan tetapi, saya pikir tidak untuk pejalan kaki. Sebab trotoar itu hanya sepanjang bangunan Museum Kretek. Jadi mungkin hanya untuk memfasilitasi para pengunjung Museum Kretek. 

Namun tampaknya destinasi Museum Kretek tidak ramai pengunjung. Sehingga trotoar tersebut kurang berfungsi. Beberapa kali saya melihat, trotoar itu malah digunakan parkir truk. Tidak tanggung-tanggung. Truknya jenis truk besar. Sekalipun sebagian besar badan truk memenuhi trotoar, satu bagian tepinya mengganggu pengguna jalan. Keadaan itu mengundang kemacetan.

Akan tetapi, pemandangan itu tidak lama. Mungkin diketahui paving di beberapa titik rusak dan kemacetan terjadi, truk dilarang parkir. Ya, beberapa saat akhirnya kosong. Tidak termanfaatkan. Pengguna jalan sangat leluasa berkendara. Kalau saya mulai melihat ada seorang pedagang ayam setiap pagi menunggu, entah menunggu siapa, di salah satu titik trotoar berpaving, itu tidaklah berakibat buruk. Trotoar tetap baik dan bersih. Jalan di sepanjang trotoar juga tetap longgar.

Orang-orang yang berjiwa-usaha melihat lokasi tersebut, langsung berinisiatif. Sehingga beberapa waktu kemudian,  beberapa pedagang kaki lima kelihatan menempati beberapa titik trotoar. Setiap pagi saya selalu melihatnya. Yang paling banyak dikerubuti orang adalah penjual nasi. Wajar saja pemandangan itu terjadi karena mungkin orang lebih praktis membeli nasi berlauk untuk sarapan daripada memasak. Orang-orang di kota kecil kami yang tergolong sibuk karena kebanyakan buruh pabrik perihal praktis sebagai pilihan yang pertama.

Ya, kota kecil kami dikenal sebagai kota industri. Dari industri kecil (rumahan) hingga industri besar dapat dijumpai di kota kecil kami ini. Sehingga daerah kami seakan magnet yang dapat menyedot elemen-elemen yang berada di sekitarnya. Banyak orang dari daerah luar terdekat yang bekerja di daerah kami. Keadaan ini pula yang sedikit-banyak mendorong orang-orang di daerah kami berjualan.

Pada saat ini trotoar yang saya ceritakan di atas sudah penuh dengan pedagang. Bahkan sudah meluas ke bagian sebelahnya, yang tidak berpaving. Jadi praktis sepanjang tepi jalan sebelah barat  dari depan sekolah tempat saya mengajar hingga depan Museum Kretek sudah penuh dengan pedagang, sejak pagi hingga petang. Sepengatuhan saya, barang yang dijual jenis makanan, di antaranya es, bubur, bakso, nasi, siome, kadang-kadang kepiting, kerang, dan akhir-akhir ini banyak juga didagangkan buah, termasuk durian. 

Pemandangan trotoar yang begitu hampir dapat kita temukan di mana-mana. Tidak hanya di kota kecil kami. Di daerah lain, khususnya di perkotaan, trotoar menjadi pusat perputaran uang rakyat. Kelangsungan hidup rakyat perkotaan dapat kita potret di sepanjang trotoar.  

""