Rabu, 16 Agustus 2017

Menciptakan Momen Terindah


Ilustrasi gambar diambil dari www.inovasee.com
Sembari berangkat kerja, aku mengantar si ragil pergi ke sekolah. Kebetulan lokasi sekolah si ragil kulewati saat berangkat kerja. Jadi, sesungguhnya tak mengantar, tapi nyangking. Kalau mengantar sebagai sebuah aktivitas tunggal atau jika dikaitkan dengan arah, arahnya berbeda. Sedangkan nyangking sebagai sebuah kegiatan dobel atau kalau dikaitkan dengan arah, arahnya sama. Yang namanya nyangking pasti ada kegiatan lain yang dilakukan. 

Saat tiba di depan pintu gerbang sekolah dasar (SD) tempat si ragil menimba ilmu, tak lantas si ragil turun dari motor lalu meninggalkanku. Ia menjabat tanganku. Seperti anak-anak lain yang diantar oleh orang tua atau saudaranya. Berjabat tangan saat anak-anak hendak memasuki halaman sekolah merupakan budaya yang hingga kini masih dapat kita lihat. Dan pemandangan itu membahagiakan.

Untuk menimbulkan kesan berbeda, selalu jari-jariku usil saat si ragil menjabat tangan. Jari-jariku yang sudah ada digenggamannya mengarah ke pipinya dan mencubitnya tipis. Dia selalu mengaduh gemas menatapku. Kubalas tatapannya dengan senyum tipisku. Momen ini yang sesungguhnya ingin kukesankan di perasaan si ragil agar terbawa hingga di dalam ruang kelas. Perasaan gembira mengantarnya menyambut proses pembelajaran bersama teman-temannya.

Suasana awal yang menyenangkan dapat menjadi modal terpenting untuk belajar. Sebab, suasana tersebut dapat menjadi benteng yang kuat saat menghadapi kesulitan-kesulitan dalam belajar. Ya, sekalipun yang ada di hadapannya sulit, tapi kalau hatinya penuh kegembiraan, bukan mustahil mengalami kemudahan dalam mengerjakan yang sulit itu.

***
Tentu dalam menciptakan momen terindah bagi buah hatinya, setiap orang tua memiliki strategi yang boleh jadi berbeda. Artinya, ada banyak cara yang dapat digunakan dan acap kali itu bersifat pribadi. Hanya, yang pasti, memandang betapa dahsyatnya kekuatan momen yang terindah itu, niscaya merugi jika mengabaikannya. Tentu, bagi kita (orang tua) yang memiliki kesempatan, tak akan menyia-nyiakan momen itu.

Sementara adanya banyak orang tua yang tak memiliki kesempatan tak dapat  kita pungkiri. Karena mungkin terkait dengan kesibukan atau ketidakmampuan. Tapi, sesungguhnya orang tua yang memiliki kesempatan, secara tak  langsung, telah memberi bantuan. Yakni melalui anak-anak mereka, rasa kegembiraan dapat dibagikan kepada anak-anak lain, yang tak memiliki momen terindah karena kondisi (orang tua) yang tak memungkinkan. 

Jumat, 12 Mei 2017

Pascaujian, Anak-anak Menikmati Rasa Kemerdekaan

Hari ini, Jumat (12/5), jam kedua dan ketiga, saya tidak mengajar. Karena kelas IX, yang mestinya saya dampingi untuk belajar, sudah selesai ujian. Jadi, praktis tidak ada lagi proses pembelajaran untuk mereka. Oleh karena itu, saya duduk-duduk di teras ruang guru. Memerhatikan anak-anak yang sedang berolahraga. Dua kelas sepertinya yang sedang melakukan olahraga. Keduanya kelas VIII. Tetapi, di tengah-tengah lapangan olahraga, di antara anak-anak kelas VIII berolahraga, terlihat beberapa anak laki-laki kelas IX bermain futsal. Mereka terlihat antusias. Keringatnya meleleh, sampai-sampai membasahi seragam cokelat yang mereka kenakan.

Ya, sekalipun seragam mereka basah, semangat bermain tetap terjaga. Seakan tidak kehabisan energi. Terus berlari, menggiring bola, menghadang lawan main, menembakkan bola ke gawang lawan. Terus dan terus bermain. Bola digiring ke arah lawan, kembali lagi ke daerah sendiri. Karena bola tertangkap lawan dan membalas menggiringnya mendekat mulut gawang. Namun, gagal masuk mulut gawang karena si bundar dihadang lawan. Sampai pada titik tertentu, saya akhirnya memutuskan tidak lagi memerhatikan permainan mereka, yang tampaknya masih terus berlanjut.  

Akan tetapi, pikiran saya  tetap tergoda untuk terus menuliskannya dalam catatan. Ya, menulis tentang mengapa mereka begitu lincah menggerakkan fisik, seolah tanpa lelah. Boleh jadi aktivitas itu mereka lakukan dengan semangat karena mereka ingin membangun keseimbangan. Betapa tidak, selama beberapa hari, bahkan beberapa minggu sebelumnya mereka disibukkan dengan aktivitas psikis. Pikiran dan perasaan mereka fokus menghadapi ujian. Hari-harinya diisi dengan kegiatan belajar, yang tentu secara maksimal memberdayakan segenap pikiran dan hati mereka. Yang acap kali kegiatan itu memakan waktu kegiatan-kegiatan lain, termasuk kegiatan fisik.

Jadi kalau hari-hari pascaujian dimanfaatkan untuk berolah fisik, yang seakan tanpa menghiraukan rasa lelah sebagai hal yang wajar. Sebab, secara fisik, mereka memang  tidak merasa lelah. Karena beberapa waktu fisik mereka telah beristirahat. Kelelahan psikis yang menerpa mereka menjelang dan selama ujian justru terbayar sudah dalam kegiatan fisik ini, yang boleh dipahami sebagai aktivitas yang menghibur. Karena bersifat menghibur, jadi  tidak melelahkan mereka. Kegembiraan dan suka cita terekspresikan secara bebas sekalipun basah oleh keringat.

Anak-anak yang lain, baik laki-laki maupun wanita, bergerombol di teras-teras kelas dan beberapa ada yang di ruang kelas. Aktivitas yang mereka lakukan bersifat menghibur. Kegiatan-kegiatan ringan, misalnya bercengkerama, melihat film dalam laptop yang sengaja mereka persiapkan dari rumah, dan bagi-bagi jajan karena di antara mereka (ternyata) ada yang dari luar kota. Untuk yang terakhir ini, saya mendapat bagian. Karena saat mereka berkumpul dan menikmati jajan itu, saya datang dan mereka menawari saya untuk turut merasakannya. Saya mengambil satu, tapi jajan itu tidak saya makan di tempat, karena saya melangkah untuk mendatangi kelompok yang lain.

Suasana itu menetralkan kembali keadaan pikiran dan perasaan yang beberapa saat terbeban ujian. Perilaku dan sikap mereka terlihat sangat “santai”. Mudah “menyapa”, melempar senyum kepada siapa pun, termasuk kepada sampah-sampah yang berserakan di dekat mereka. Sampah-sampah akhirnya bersarang di tempatnya dengan manis. Dan, memang begitulah suasana yang terjadi ketika pikiran dan perasaan lega, lepas dari beban yang mengimpit. Semua dapat dilakukan dengan ringan tangan dan hati yang gembira.  Selamat menikmati hari-hari merdeka, anak-anak!  

""