Jumat, 12 Mei 2017

Pascaujian, Anak-anak Menikmati Rasa Kemerdekaan

Hari ini, Jumat (12/5), jam kedua dan ketiga, saya tidak mengajar. Karena kelas IX, yang mestinya saya dampingi untuk belajar, sudah selesai ujian. Jadi, praktis tidak ada lagi proses pembelajaran untuk mereka. Oleh karena itu, saya duduk-duduk di teras ruang guru. Memerhatikan anak-anak yang sedang berolahraga. Dua kelas sepertinya yang sedang melakukan olahraga. Keduanya kelas VIII. Tetapi, di tengah-tengah lapangan olahraga, di antara anak-anak kelas VIII berolahraga, terlihat beberapa anak laki-laki kelas IX bermain futsal. Mereka terlihat antusias. Keringatnya meleleh, sampai-sampai membasahi seragam cokelat yang mereka kenakan.

Ya, sekalipun seragam mereka basah, semangat bermain tetap terjaga. Seakan tidak kehabisan energi. Terus berlari, menggiring bola, menghadang lawan main, menembakkan bola ke gawang lawan. Terus dan terus bermain. Bola digiring ke arah lawan, kembali lagi ke daerah sendiri. Karena bola tertangkap lawan dan membalas menggiringnya mendekat mulut gawang. Namun, gagal masuk mulut gawang karena si bundar dihadang lawan. Sampai pada titik tertentu, saya akhirnya memutuskan tidak lagi memerhatikan permainan mereka, yang tampaknya masih terus berlanjut.  

Akan tetapi, pikiran saya  tetap tergoda untuk terus menuliskannya dalam catatan. Ya, menulis tentang mengapa mereka begitu lincah menggerakkan fisik, seolah tanpa lelah. Boleh jadi aktivitas itu mereka lakukan dengan semangat karena mereka ingin membangun keseimbangan. Betapa tidak, selama beberapa hari, bahkan beberapa minggu sebelumnya mereka disibukkan dengan aktivitas psikis. Pikiran dan perasaan mereka fokus menghadapi ujian. Hari-harinya diisi dengan kegiatan belajar, yang tentu secara maksimal memberdayakan segenap pikiran dan hati mereka. Yang acap kali kegiatan itu memakan waktu kegiatan-kegiatan lain, termasuk kegiatan fisik.

Jadi kalau hari-hari pascaujian dimanfaatkan untuk berolah fisik, yang seakan tanpa menghiraukan rasa lelah sebagai hal yang wajar. Sebab, secara fisik, mereka memang  tidak merasa lelah. Karena beberapa waktu fisik mereka telah beristirahat. Kelelahan psikis yang menerpa mereka menjelang dan selama ujian justru terbayar sudah dalam kegiatan fisik ini, yang boleh dipahami sebagai aktivitas yang menghibur. Karena bersifat menghibur, jadi  tidak melelahkan mereka. Kegembiraan dan suka cita terekspresikan secara bebas sekalipun basah oleh keringat.

Anak-anak yang lain, baik laki-laki maupun wanita, bergerombol di teras-teras kelas dan beberapa ada yang di ruang kelas. Aktivitas yang mereka lakukan bersifat menghibur. Kegiatan-kegiatan ringan, misalnya bercengkerama, melihat film dalam laptop yang sengaja mereka persiapkan dari rumah, dan bagi-bagi jajan karena di antara mereka (ternyata) ada yang dari luar kota. Untuk yang terakhir ini, saya mendapat bagian. Karena saat mereka berkumpul dan menikmati jajan itu, saya datang dan mereka menawari saya untuk turut merasakannya. Saya mengambil satu, tapi jajan itu tidak saya makan di tempat, karena saya melangkah untuk mendatangi kelompok yang lain.

Suasana itu menetralkan kembali keadaan pikiran dan perasaan yang beberapa saat terbeban ujian. Perilaku dan sikap mereka terlihat sangat “santai”. Mudah “menyapa”, melempar senyum kepada siapa pun, termasuk kepada sampah-sampah yang berserakan di dekat mereka. Sampah-sampah akhirnya bersarang di tempatnya dengan manis. Dan, memang begitulah suasana yang terjadi ketika pikiran dan perasaan lega, lepas dari beban yang mengimpit. Semua dapat dilakukan dengan ringan tangan dan hati yang gembira.  Selamat menikmati hari-hari merdeka, anak-anak!  

Tenda PKL sebagai Media Literasi Anak Usia Din


Kami membeli capcay, mi goreng, dan nasi goreng di pedagang kaki lima (PKL) di area Pasar Kliwon, Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Tiga jenis menu itu untuk tiga orang. Saya, isteri, dan si ragil (kakaknya sedang kuliah di Semarang). Kebetulan kesukaan kami berbeda. Saat kami menunggu pesanan itu, tiba-tiba pikiran saya meloncat ke penutup tenda PKL tersebut. Karena ada bagian yang menggoda pikiran saya, yakni   deretan tulisan tentang menu masakan yang tertera di penutup tenda itu. Tulisan yang sama juga ditempel di dinding   salah satu bagian los pasar, yang berada persis di belakang tenda tersebut.
Ruang antara dinding yang ditempeli spanduk bertulisan jenis menu masakan dan tenda digunakan untuk lesehan para konsumen yang menikmati pesanannya di tempat. Saat itu, tidak banyak yang membeli. Hanya satu orang terlihat menyantap pesanannya, sepertinya mi goreng dan nasi putih serta minuman teh. Kadang-kadang saya melirik orang itu karena mata saya memandang deretan tulisan yang tertempel di dinding persis di belakangnya. Ya, tulisan jenis menu masakan yang tersedia dan yang dapat dibeli konsumen.  
Saya merenungkan bahwa deretan tulisan itu mungkin efektif digunakan sebagai media belajar membaca. Anak-anak usia dini yang baru belajar membaca, saya pikir akan menyukainya. Tentu saja ketika orang tua, yang kebetulan bersama si kecil memesan menu di situ, mau memulainya mengajak si kecil belajar. Paling tidak ada tiga alasan mengapa si kecil menyukai. Pertama, deretan tulisan itu berukuran besar, yang memungkinkan  jari-jari tangan si kecil dapat meraba-rabanya. Kedua, lingkungan yang terbuka, pandangan bebas lepas, serta situasi yang rileks  dapat merangsang kemauan si kecil. Ketiga, ketika belajar membaca nama menu, si kecil dengan dibantu orang tua mungkin dapat melihat langsung wujud menunya  yang sedang dimasak.  

Pada titik ini, si kecil tidak hanya membaca tulisannya, tetapi dapat melihat rupa menu apa yang dimasak. Cara ini sangat efektif membangun daya ingat dan pengetahuan anak. Karena tidak hanya mengenal tulisan, pengetahuan si kecil diperkuat dengan bendanya. Jika dalam satu momen kedatangan di PKL itu memesan tiga menu, si kecil dapat membaca jenis menu dan mengetahui tiga wujud masakan. Kalau setiap datang membeli, melakukan hal yang sama, aktivitas literasi si kecil akan membuatnya kaya pengetahuan dan ilmu. Apalagi jika di rumah ditindaklanjuti dengan aktivitas menulis nama-nama menu yang sudah dibaca saat berada di PKL, pasti si kecil memiliki kompetensi lebih baik ketimbang anak usia dini lainnya.
Akan semakin menarik minat si kecil dalam berliterasi jika pada saat yang lain si kecil diajak membeli masakan lain di PKL yang berbeda. Di tempat itu, si kecil akan menemukan hal yang berbeda, yakni nama menu yang baru. Situasi yang baru, membuatnya bergembira. Stamina kegembiraan yang terus terjaga sangat mendorong kemauan belajar si kecil.
Tentu, saya tidak mengharuskan orang tua-orang tua si kecil untuk selalu membeli masakan di PKL, dengan cara pindah-pindah PKL. Tidak. Kebetulan saja saya menemukan “keunikan” tenda PKL, yang saya bayangkan dapat untuk menumbuhkan budaya literasi  bagi anak usia dini. Ini sebuah alternatif saja. Karena bukan mustahil ada banyak hal lain yang dapat dimanfaatkan untuk media aktivitas literasi, khususnya bagi anak-anak usia dini.

""