Jumat, 12 Januari 2018

Harus Menerima

Aku baru saja dari poli umum. Memeriksakan perutku yang terasa mengganggu saat aku beraktivitas. Saat mengajar, di hadapan anak-anak, tiba-tiba dalam perutku ada rasa yang berbeda. Seperti ada “makhluk” yang bergerak, yang menimbulkan rasa sakit. Hanya sebentar rasa sakitnya. Satu-dua detik saja. Setelah itu, normal. Akan tetapi, tiba-tiba muncul lagi.

Sehari sebelum periksa ke dokter, rasa sakit itu sudah sampai klimaks. Ada sesuatu yang bergerak dari perut bagian bawah menyebar ke semua arah dalam tubuh. Sampai-sampai dada rasanya sesak. Sangat tidak nyaman. Dada seperti terpenuhi, entah oleh apa. Yang jelas, perasaan dan pikiran saya terkonsentrasi ke “insiden” satu ini. Sehingga aktivitas agak terganggu.

Sempat pikiranku tersendot pada dugaan buruk: jantungku kena. Meski aku pernah mendengar kalau gejala jantung, dada sebelah kiri yang terasa sakit. Entah kenapa, di tubuhku tidak ada tanda-tanda seperti itu, aku berani menduganya. Mungkin ini tanda kalau ada kekhawatiran yang berlebihan. Dugaan buruk tidak berhenti di situ. Ada dugaan lain. Mungkin karena aku terlambat donor darah. Selama ini aku memang rutin donor darah. Tiga bulan sekali. Akan tetapi, kalau dihitung sejak Mei 2017, sudah delapan bulan, aku tidak berkunjung ke PMI. 

Pengalaman pribadiku menemukan adanya tanda-tanda tertentu kalau terlambat donor darah. Badan terasa tidak nyaman. Pegal-pegal. Seperti ada sesuatu yang membebani.  Seakan begitu berat. Malas dan tidak enerjik. Merasakan ada gejala (setidak-tidaknya) seperti itu, aku akhirnya datang di PMI. Donor darah. Siapa tahu,  setelah donor darah, badanku terasa nyaman. 

Dalam perjalanan ke PMI, pikiranku terteror. Bisa donor darah atau tidak. Memikirkan kondisi badanku yang tidak nyaman bukan mustahil berakibat  gagal donor darah. Karena tensi tinggi saja, donor darah dapat batal. Dulu aku pernah mengalaminya. Dua-tiga kali datang ke PMI, tidak jadi donor. Ya, hal itu terjadi karena tensi darah tinggi. Dan, tensi darah tinggi dapat disebabkan oleh beban pikiran. Namun, dalam hati aku memohon kiranya tensi darahku normal.

Aku berhasil donor darah, akhirnya. Sebab, tensi darahku normal. Ternyata teror dalam pikiranku tidak membuat tensi darahku tinggi. Proses donor darah berjalan mulus. Tangan kananku ditusuk jarum. Kulihat darah merah mengalir dalam slang. Lancar. Entah berapa cc darahku diambil. 200 atau 250 cc. Yang jelas, begitu selesai donor, badanku terasa ringan. Tidak ada yang membebani. Enak dan begitu enerjik. Aku pikir, donor darah ini akan menjadikan tubuhku sehat dan segar kembali. Dugaanku bahwa ketidaknyamanan tubuhku karena terlambat donor darah semoga benar. Beberapa waktu setelah donor darah memang tidak ada tanda-tanda dalam perutku yang membuat tak nyaman.  Keyakinanku bertambah besar bahwa keadaan akan segera membaik.

Walah! Ternyata malam hari “insiden” dalam perutku terjadi lagi. Akan tetapi, tidak sedahsyat pada siang harinya. Muncul sesaat. Beberapa waktu menghilang. Muncul lagi. Begitu seterusnya. Entah sampai .... Saat bangun pagi, masih juga terasa. Sama seperti pada malam hari. Aku siap periksa ke dokter ketika istriku menawarkannya. Istriku akan mendaftarkanku di poli umum saat pagi, sewaktu ia masuk kerja. Kebetulan ia piket kerja pagi. Dan, tempat periksaku juga di tempat kerjanya, walaupun di bagian lain. Istriku di bagian ruang bersalin. 

Pagi itu aku masih mengajar. Jam pertama dan kedua.   Dalam aktivitas mengajar, sesekali “insiden” dalam perut masih terjadi. Tidak begitu mengganggu karena terlupakan oleh kesibukan bersama anak-anak didik.  Jam ketiga dan keempat kebetulam jam kosong mengajar. Jam tersebut aku manfaatkan untuk periksa. Di poli umum, tempat aku akan menjalani pemeriksaaan, sudah terlihat beberapa pasien antre.  Entah mereka nomor urut berapa dan aku nomor berapa. Hal tersebut tidak penting bagiku. Yang penting adalah aku sudah didaftarkan. 

Di hadapan petugas pendaftaran, aku bertanya, memastikan aku sudah didaftarkan atau belum. Sekalipun aku yakin sudah didaftarkan. Tentang hal yang satu ini tentu mudah bagi istriku. Ia bekerja dalam naungan lembaga yang sama. Kenalan-kenalannya juga banyak. Tentu sama seperti orang lain akan mudah menghadapi urusan kalau urusannya di tempat kerja sendiri dan banyak kenalan. 

Sayang informasi dari petugas pendaftaran, dokternya belum datang. Aku dipersilakan duduk. Menunggu. Sama persis seperti orang-orang yang sudah terlebih dahulu duduk. Tentu juga menunggu kedatangan dokter. Pemandangan saat-saat menunggu di zaman now ini, di mana dan kapan saja, serupa. Bermain gawai. Masing-masing, termasuk aku, menunduk dengan jari-jemari lincah pencet sana pencet sini, tanpa ada kontak mata dan senyum di ruang tunggu tersebut. Sepi. Meski ada tak kurang dari sepuluh orang. Ini kecenderungan  hidup sosial pada zaman muthakir.

Aku masuk ke ruang periksa urutan kedua. Dokternya masih muda. Cukup kalem pembawaannya. Aku menceritakan secara ringkas riwayat “insiden” yang terjadi dalam perut saat dokter memintaku untuk menceritakannya. Begitu mulutku berhenti bercerita, dokter langsung mengatakan sesuatu, entah istilahnya, aku tidak sebegitu jelas. Pasti istilah kesehatan. Dokter kemudian mengatakan dengan bahasa yang mudah kumengerti saat stetoskop merapat di perutku. Begini, di dalam perutku ramai, katanya. Di usus banyak udara. Katanya lagi, hal itu bisa diakibatkan oleh bakteri dari makanan atau minuman yang masuk. Waduh! Kok bisa ya? Padahal, terkait dengan hal makan dan minum, sedapat mungkin, aku “berusaha”. Katanya lagi, bisa juga dipicu oleh asam lambung. Kalau yang ini “masuk” sebab aku menderita maag. Pernah maag berat.

Terkait maag, kini aku menjauhi pedas dan kecut. Sudah sejak lama menjauhinya. Memang sejak menceraikan pedas dan masam, perut terasa nyaman. Tidak mudah kembung, “berbunyi”, dan kadang rasa panas dalam perut, seakan usus dilabur lombok, sudah menghilang. Akan tetapi, akhir-akhir ini malah ada “insiden” lagi, yaitu ada suara udara bergerak yang menimbulkan bunyi. Si ragil dapat menangkap bunyi tersebut dengan menempelkan telinganya ke perutku. Aku harus menerimanya. Ya, harus menerima.

Jumat, 29 Desember 2017

Memilih Dua

Kami tidak jadi membeli buku di toko buku terkenal. Meskipun, kami yakini buku yang kami maksud tersedia di toko tersebut. Toko yang sudah terkenal di seluruh wilayah Indonesia pasti menjual buku-buku secara komplit. Semua tersedia. Boleh jadi di toko lain tidak tersedia, di toko terkenal itu buku yang dimaksud tersedia. 

Di kota kecil kami memang tidak banyak toko buku. Jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan sebelah. Mungkin malah masih tersisa. Tidak sampai lima. Satu toko buku terkenal dan tiga toko buku lokal. Kami pergi ke salah satu toko buku lokal. Di toko buku itu kami sering membelikan buku bacaan untuk si ragil. Dan, selama ini, buku yang disukai si ragil adalah buku biografi. Buku para tokoh dunia. Beberapa riwayat hidup tokoh dunia telah dibaca. Di antaranya Oprah Winfrey, J.J. Rousseau, dan Mahatma Gandhi.
Dalam perjalanan menuju toko buku, tiba-tiba ibunya nyeletuk hendak membelikan helm (juga). Saya lantas menimpali dengan gaya berkelakar. Yaitu, si ragil saya beri dua pilihan. Membeli buku atau helm. Ia memilih kedua-duanya. Membeli buku dan helm. Saya kemudian menggodanya dengan sebuah penjelasan. Kalau membeli buku pasti bertambah pintar dan banyak pengetahuan. Akan  tetapi, kalau membeli helm pasti helm yang selama ini digunakan dibuang, jadi ada yang hilang. Pilih mana, kata saya. Ia (tetap) memilih kedua-keduanya.
Saya pikir ia memilih salah satu. Dugaan saya, ia memilih buku. Saya yakin ia tidak akan memilih helm. Sebab, ia mengetahui risikonya. Saya pasti tidak menyetujuinya. Si ragil sudah mengetahui arah pikiran saya. Akan tetapi, tidak berarti ia pandai meramal pikiran saya. Kebiasaan dan prinsip-prinsip yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi petunjuknya.

Perihal membeli helm jauh-jauh hari istri saya sudah menceritakannya. Akan tetapi, saya menolak. Sebab, helm yang selama ini dipakai si ragil, masih bisa dimanfaatkan. Karet penutup tepi helm memang mudah lepas. Bahkan, karena sering lepas dan  mengganggu saat dikenakan, saya merekatkannya dengan lem castol. Beberapa waktu aman. Nyaman dikenakan. Namun, akhirnya kembali lepas. Ketika hendak memakai harus menata karetnya. Selalu begitu. Dan, sebagai seorang ibu, tampaknya istri saya tidak tega melihat insiden itu.
Jadi, ada dua tujuan akhirnya. Membeli buku, seperti rencana awal. Juga membeli helm, seperti yang diucapkan istri saya saat perjalanan. Rencana awal harus terpenuhi dahulu. Oleh karena itu, kami menuju ke toko buku pilihan. Saat di toko buku, istri saya berhenti di lantai dasar, melihat-lihat buku di rak pajangan buku. Saya tidak melihat kategori buku apa yang dilihatnya. Saya mengantar si ragil ke lantai dua. Di rak pajangan buku di lantai dua buku biografi tokoh dipajang. Si ragil sudah hapal tempatnya. Tidak perlu waktu lama dalam memilih. Kurang dari lima menit, di tangannya sudah ada buku: Whay? Ruth Benedict
Saya tidak pernah membaca atau mendengar tentang tokoh Ruth Benedict. Akan tetapi, saya yakin dia tokoh yang hebat di bidangnya. Seperti tokoh-tokoh lain. Saya pun yakin, si ragil belum mengetahui tokoh itu. Karenanya, ia memilih buku tersebut. Saya tersenyum melihat si ragil tampak gembira menjinjing buku pilihannya. Membaca judulnya, konten buku tersebut sepertinya berat. Akan tetapi, tidak demikian. Sebab, isinya dibuat komik, cerita bergambar. Riwayat tokoh besar dengan keahlian di bidangnya akhirnya terasa ringan dibaca oleh anak-anak. Mudah dipahami. Dan, itu barangkali salah satu alasan mengapa si ragil selalu menginginkan buku-buku biografi sejenis itu. 
Berburu buku sudah selesai. Berikutnya berburu helm. Toko helm yang kami tuju adalah toko yang beberapa waktu lalu kami datangi. Toko, tempat saya membeli sandal. Ya, tempat membeli sandal, sebab di samping menyediakan sandal, sepatu, dan jasa reparasinya, toko itu juga menyediakan helm. Akan tetapi, helm pilihan untuk si ragil tidak tersedia. Hanya tersedia helm orang dewasa. Tidak tersedia helm untuk anak-anak. 
Sekarang, tentu (sudah)  sejak dahulu, anak-anak wajib mengenakan helm kalau mengendarai motor. Maksudnya, kalau anak-anak  bonceng motor wajib mengenakan helm. Sekalipun berada di depan, tengah, atau belakang, helm wajib dikenakan. Semata-mata untuk keamanan. Melindungi kalau ada benturan. Toh demikian saya masih melihat ada anak-anak yang tidak memakai helm. Orang tua yang memang harus mengikuti aturan berlalu lintas. Anak-anak belum mengetahuinya. Jadi, orang tua seharusnya yang memulai untuk anak-anaknya.

Kami akhirnya sampai di toko helm yang lain. Perburuan helm tampaknya berakhir di sini. Sebab, helm untuk anak-anak tersedia dan sepertinya banyak pilihan. Si ragil dan ibunya mulai memilih-milih. Saya melihatnya dari atas motor. Jelas terlihat karena jarak pandangan begitu dekat. Si ragil memilih satu helm. Diberikannya helm itu kepada ibunya. Lalu oleh ibunya, helm itu diserahkan kepada penjualnya. Terjadi transaksi. Harga sepakat. Helm ditata penjual sebelum dikenakan si ragil. Sangat pas di kepalanya.  Menarik dipandang. Kami akhirnya meluncur pulang dengan membawa buku dan helm baru, kedua-duanya pilihan si ragil.

""