Rabu, 06 September 2017

Ada yang Lebih Baik


Saat menjemput si bungsu les, saya bertemu ayah guru lesnya. Saya sudah mengenalnya. Karena, kami sering berjumpa. Setidaknya satu kali dalam
seminggu. Hanya, memang, kami tak selalu dapat bercengkerama. Hal ini terjadi karena situasi dan kondisi yang kadang tidak memungkinkan. 

Begitu kami (saya dan istri) tiba di rumah guru les, ayah guru les si bungsu berada di halaman rumah. Akhirnya kami bertegur sapa sesaat. Ia masuk ke dalam rumah. Ia hanya mengenakan singlet. Saya kira ia akan mengenakan kaus atau baju. Perkiraan saya pasti tepat sebab saya mendengar dan melihat istrinya mengatakan sesuatu,  yang mungkin saja menyuruhnya mengenakan penutup badan. 

Dan, dugaan saya sangat tepat. Karena, ia keluar rumah menjumpai saya sudah memakai kaus. Kami akhirnya bercengkerama sambil berdiri. Sebab, begitu saya mengetahuinya menghampiri saya, saya mendekatinya. Kami berhenti persis di halaman, tempat yang kemudian kami gunakan untuk bercengkerama. 

Percakapan yang paling membuat saya berkesan dan merenung ada satu. Yakni ketika ia menyampaikan bahwa si bungsu sudah pintar, tapi mengapa masih les. Saat pernyataan itu diucapkan, dari mulut saya hampir meluncur kata-kata spontan. Untung saya mampu mengendalikannya. Sehingga kata-kata spontan itu tidak jadi meluncur.

Dan, saya bersyukur sebab ada kata-kata pengganti yang lebih baik. Yakni, “biar bertambah pintar, Pak”. Kata-kata pengganti itu meluncur dari mulut setelah saya berpikir sesaat. Pernyataan saya itu mengandung doa dan harapan baik terhadap si bungsu. 

Saya termasuk orang tua yang meyakini bahwa kata-kata yang keluar dari mulut orang tua adalah doa dan harapan bagi anaknya. Oleh karena itu, saya bersyukur ketika ayah guru les si bungsu menyampaikan pernyataan seperti di atas, saya tak jadi mengeluarkan pernyataan, “ah tidak juga kok, Pak”.

Hanya, di sekolah, kadang saya masih mengucapkan kata-kata spontan. Di ruang guru saat berkumpul dengan teman-teman guru. Atau, di kelas di hadapan anak-anak saat mengajar. Kata-kata spontan itu lebih banyak berupa keluhan. Misalnya, “ah sulitnya menasihati anak-anak itu”, “sudah diajari kok iya ndak bisa-bisa”, dan “sulit benar to, Nak, kamu ini berubah”. 

Semoga keluhan itu tidak doa dan harapan. Tapi, keluhan yang menunjukkan kepada saya bahwa saya masih memiliki banyak kekurangan dan mau memperbaikinya.

Selasa, 05 September 2017

Topi

Topi termasuk senjata penting bagi saya saat bepergian dengan menaiki sepeda. Misalnya, saat pergi dan pulang bekerja dengan bersepeda. Hanya, topi yang saya kenakan saat pergi dan pulang sering berbeda.

Saat pergi bekerja hari masih pagi. Cahaya matahari hanya terasa hangat. Jadi topi yang saya kenakan topi yang biasa. Topi yang bagian depannya ada penutupnya. Tapi, bagian samping dan belakang tanpa penutup. Dalam dunia pertopian, katanya topi jenis itu dinamai topi bisbol (baseball cap). Bagi saya, fungsinya lebih pada membentengi rambut dari sapuan angin dan terpaan debu. 

Ya seperti berhelm ketika mengendarai motor. Hanya, berhelm saat mengendarai motor termasuk hal wajib. Jika tak berhelm termasuk salah satu item pelanggaran lalu lintas. Perihal bertopi saat bersepeda tak termasuk hal wajib. Juga tak termasuk salah satu item pelanggaran lalu lintas.

Topi yang biasa saya pakai saat pagi waktu berangkat bekerja, begitu tiba di tempat parkir, saya copot dari kepala. Saya cantholkan di salah satu stang sepeda. Saya atur agar tak jatuh. Ia bertengger di stang sepeda sampai waktu saya rampung bekerja. Bersama jaket. Berdua sepanjang waktu tersebut saya kira tak membosankan. 

Entah apa yang mereka lakukan. Saya tak mengetahuinya. Yang saya tahu ketika saya hendak pulang dan sudah berada di tempat parkir, topi masih setia bertengger di tempatnya. Di ujung salah satu stang sepeda.

Tapi, begitu persiapan menaiki sepeda saat pulang dalam panas yang garang, topi tersebut saya simpan dalam tas. Tak saya kenakan. Dalam kondisi cahaya matahari sangat panas, ia beristirahat. Bukannya agar ia tak dehidrasi. Tapi, agar saya yang tak kehabisan cairan.

Topi itu aman diam dalam tas di atas punggung. Tanpa kepanasan. Tanpa tertepa debu jalanan. Tapi, hal itu tak menandai bahwa ia tak berguna. Ia memiliki bagiannya sendiri seperti halnya saya.

""