Senin, 22 Agustus 2016

Ajak Anak Besuk, Ajarkan Berbagi dan Bersosialisasi



BESUK: Pasien bermain-main dengan pembesuk.
Beberapa rumah sakit mengizinkan anak kecil ikut orangtuanya besuk pasien. Bahkan, di antaranya sengaja menyediakan taman bermain bagi anak-anak yang ikut orangtuanya besuk. Agar mereka merasa nyaman berada di lingkungan rumah sakit. Karena dengan begitu, orangtua mereka tidak terganggu saat memberi dukungan terhadap pasien yang berada di ruang pasien.

Saat orangtua berada di ruang pasien, anak-anak dapat bermain-main di ruang terbuka di area rumah sakit. Di situ, anak-anak dapat secara leluasa bermain. Mereka sangat menikmati permainan karena berada di area baru. Area baru memang selalu memiliki daya pikat yang dahsyat. Kondisi ini membuat mereka merasa betah bermain. Mereka pun, di sini,  mendapat teman baru. Karena ternyata ada banyak anak dari orangtua-orangtua yang besuk.

Hanya, beberapa rumah sakit yang dulu mengizinkan anak ikut orangtuanya besuk, kini dengan mengubah kebijakannya, tidak mengizinkannya lagi. Tentu alasannya ini yang terdengar sampai ke telinga masyarakat terkait dengan kerentanan anak terhadap penyakit. Anak-anak kecil memang sangat mudah terserang penyakit. Sebab daya tahan tubuhnya masih lemah. Sementara lingkungan rumah sakit banyak sumber penyakit karena ada banyak pasien.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa kebijakan itu tidak diberlakukan sejak awal. Padahal yang namanya rumah sakit, sejak awal berdiri juga sudah menjadi tempat merawat pasien. Yang,  oleh sebagian orang, pasien dianggap penyebab sumber penyakit. Jadi, aneh kalau misalnya di kemudian hari ada beberapa rumah sakit mengubah kebijakannya untuk membatasi anak usia tertentu tak boleh ikut orangtuanya besuk.

Yang lebih menggelitik pikiran saya adalah hingga kini, ternyata, masih ada beberapa rumah sakit yang mengizinkan anak-anak turut orangtuanya besuk pasien. Bahkan, mereka diizinkan masuk ke ruang rawat pasien. Jadi, mereka dapat bertemu langsung dengan pasien.

Pada titik ini, saya tak hendak membenturkan dua kepentingan yang berbeda di antara rumah sakit-rumah sakit yang membolehkan dan tidak anak-anak ikut orangtuanya besuk. Saya hanya ingin mengutarakan bahwa betapa pentingnya orangtua melibatkan anak-anaknya ikut besuk pasien, lebih-lebih jika yang sakit itu anak sebayanya. Karena ternyata ada sisi-sisi positif  yang didapat, baik bagi pasien (sendiri) maupun anak yang ikut besuk.
Bagi pasien, ia merasa senang. Ini yang saya lihat saat kami sekeluarga besuk anak sakit di salah satu rumah sakit di Semarang, kemarin. Awalnya ia tidur (meskipun mungkin tidurnya tak nyenyak). Tetapi, ketika anak kami, si ragil, yang usianya lebih tua sedikit daripadanya, berada di sampingnya, ia terbangun. Lantas, ia melepas senyum kepada si ragil. Berikutnya, mereka guyon-guyon ringan di atas bed. Pasien dengan si ragil memang sudah saling mengenal. Akrab. Guyon-guyon ringan yang mereka lakukan kami biarkan karena menurut penjelasan kedua orangtuanya, kondisinya sudah mulai membaik. Guyon-guyon ringan (yang juga ada tawanya) itu bukan mustahil malah menjadi obat.

Kami melihat ia begitu bersuka cita. Acap kali tingkah lakunya membuat kami tertawa. Karena lucu. Demikian juga kata-kata yang meluncur dari mulut mungilnya. Spontan, terkesan sekenanya, tapi memikat kami untuk selalu memperhatikannya. Kami malah terhibur oleh mereka.

Bagi si ragil, saya melihat sikap ingin menghibur sahabat kecilnya yang sakit itu muncul secara reflek. Tidak menunggu perintah kami. Sikap peduli terlahir begitu saja dari dirinya. Bahkan mungkin, di luar sepengetahuan kami, sikap empati tumbuh dalam dirinya. Beberapa pasien lain, yang terdiri atas anak-anak kira-kira seusianya, dalam ruangan itu, boleh jadi terekam juga dalam benak dan pikirannya. Banyak hal yang diperolehnya. Yang, dapat saja merangsang tumbuh kembang karakter positifnya.
Nilai-nilai kehidupan nyata seperti itu sulit didapat di bangku sekolah. Tetapi, ternyata mudah diperoleh di tengah-tengah kehidupan keluarga dan masyarakat. Pendidikan praktis yang diperoleh anak secara langsung dan alamiah dalam interaksinya dengan orang di sekitarnya diyakini sangat membantunya mencapai tingkat psikologis/emosi, sosial, dan personal secara optimal. Oleh karena itu, penyediaan ruang-ruang belajar yang sesungguhnya sangat dianjurkan. Tidak hanya oleh keluarga, sekolah, tetapi juga oleh lembaga-lembaga masyarakat yang menyediakan layanan publik, misalnya rumah sakit. Dengan demikian, pendidikan yang  ditimbanya di sekolah, tersempurnakan.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Orkestra Jalanan



Gambar diambil dari http://nasional.republika.co.id.
Mengantar keponakan ke Solo, di sepanjang perjalanan, pulang dan pergi, saya banyak menjumpai berbagai kesibukan di jalan. Orang-orang ditelan kesibukannya masing-masing. Pengendara mobil, motor, sepeda, becak, penumpang, sopir, polisi, pekerja jalan, pedagang asongan, dan polisi amatir (pengatur arus lalu lintas yang meminta imbalan sekadarnya) menyerupai pertunjukan orkestra yang menakjubkan. Masing-masing memainkan perannya masing-masing. Bunyi-bunyian yang saling menimpuh satu dengan yang lain menimbulkan suara yang eksotis.  Bahkan, gerakan-gerakan yang dapat kita lihat, menyempurnakannya menjadi sebuah tampilan yang memukau.

Dan, di panggung perjalanan itu, kami bagian dari pemain. Para pemain memiliki tanggung jawab masing-masing. Kami pun begitu. Peran yang kami bawakan harus memiliki keterpaduan dengan pemain lainnya. Menetapkan ego pribadi di atas kepentingan para pemain,  niscaya mengganggu kesuksesan pertunjukan. Karena bisa-bisa pertunjukan orkestra jalanan tidak dapat dinikmati secara nyaman.

Akan tetapi, saya yakin bahwa masing-masing sudah dianugerahi kemampuan yang luar biasa di bagiannya. Ada yang piawai memainkan setang-setang motor. Ada yang cerdas memainkan setir-setir mobil. Ada yang lincah memainkan peluit dalam membagi arus jalan. Ada yang pintar memainkan dagangan-dagangannya, baik minuman maupun makanan. Ada yang lincah memainkan ini dan itu, dan lain-lain. Kesemua kemampuan yang beragam itu (sejatinya) saling terkait.

Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama yang baik. Sekalipun harus diakui bahwa satu dengan yang lain belum tentu saling mengenal. Tetapi, keunikan budaya di jalan nyatanya mampu membuat kita saling “mengenal”. Sehingga tak perlu heran jika kita saling melepas senyum, mengangguk, mengedipkan mata, dan mengeluarkan bahasa-bahasa tubuh lainnya untuk menjalin komunikasi. Agar perjalanan lancar. Tak ada satu pun pemain orkestra jalanan yang dirugikan. Semua dapat mengambil peran masing-masing secara baik. Aman, sejahtera, dan selamat dialami oleh semua pemain orkestra jalanan. Dan, itulah sebetulnya eksistensi pertunjukan orkestra jalanan.

Hal, yang (sebetulnya) sama dengan kita yang berada di dunia ini.  Sebab, bukankah dunia ini “hanya” semacam sebuah jalan? Karena sejatinya kita tak selamanya di dunia ini. Di dunia, hanya mampir ngombe. Begitu banyak orang menyebutnya. Karena mampir ngombe, yang terbayang dalam pikiran kita (kemudian) adalah kita sedang melakukan perjalanan.Yaitu, perjalanan kehidupan. Dan, tak dapat dipungkiri kita berjumpa dengan berlaksa-laksa orang. Dengan keberadaan yang beragam. Tak satu pun ada yang sama. Sekalipun kita dapat menyebut anak kembar terhadap lebih dari satu anak lahir bareng, misalnya, kita tak akan menemukan kesamaan yang persis. Pasti masih ada bedanya. Itulah anugerah Tuhan yang tiada taranya.

Oleh karena perbedaan hakiki yang tak seorang pun mampu mengubahnya, maka sepatutnya kita menghargai perbedaan yang ada itu. Tanpa mengunggulkan yang satu terhadap yang lain. Tanpa merendahkan yang satu terhadap yang lain. Tetapi, saling melengkapi. Dan jika hal ini yang terjadi, maka orkestra jalanan mahabesar itu menjadi pertunjukan yang tak sekadar menakjubkan, tapi sangat menakjubkan.

Hanya, fakta yang ada tidak demikian. Karena ternyata ada sebagian orang (di sepanjang perjalanan kehidupan ini) kurang menghargai perbedaan. Selalu ada yang kurang dapat menerima keberadaannya. Ia tak mengukur dirinya dengan ukurannya sendiri, tapi menggunakan ukuran orang lain. Dengan begitu tak menemukan kepuasan. Jika sudah demikian, bukan mustahil perannya sebagai salah satu pemain orkestra di perjalanan kehidupan akan mengganggu keberlangsungan pertunjukan orkestra semesta. 

Menyadari bahwa masing-masing kita memiliki peran yang berbeda-beda merupakan upaya yang harus terus dilakukan. Dan kemudian, peran itu yang harus kita tekuni dan gumuli semaksimal mungkin. Karena bukan tidak mungkin di dalamnya tersimpan mutiara yang cemerlang. Yang, bisa menjadi bagian dari bagian-bagian lain, yang dapat diorkestrasikan menjadi pertunjukan orkestra hidup yang menyejahterakan dan mendamaikan bagi semua.
""