Selasa, 16 Februari 2010

BERANI MAJU

BERANI MAJU

Salah satu kelemahan anak masa kini, terlebih anak yang beranjak remaja, kurang memiliki keberanian beraktualisasi diri di depan publik, katakanlah di depan teman-teman sebaya. Kalau pun ada, relatif kecil jumlahnya. Ini menandakan bahwa generasi mendatang lebih banyak muncul insan-insan yang berkecenderungan tak berani mengambil inisiatif. Kenyataan ini tentu tak baik dibiarkan terus berlanjut.

Alasan kekurangberanian maju karena anak takut salah. Ada beberapa alasan lain sebetulnya, tetapi alasan tersebut yang paling mengental pada diri anak. Dengan demikian, paradigma anak terhadap ’salah’ itu harus diubah. Anak harus dipahamkan bahwa salah tidak berarti tidak bisa, apalagi dikatakan ‘bodoh’. Anak harus mengerti dan memahami, ketika menjalani aktivitas ditemukan kesalahan: itu sebagai hal yang biasa. Apalagi kalau kesalahan itu baru satu-dua kali saja menimpa diri anak. Wajar kan? Sebenarnya, berangkat dari kesalahan itu malah dapat dipakai sebagai bagian pembelajaran yang membangun sikap.

Oleh karena itu, perlu menciptakan suasana yang merangsang anak untuk mau maju, beraktualisasi diri. Suasana menyenangkan penuh keakraban sedikit dibumbui humor agaknya penting untuk dibudayakan, termasuk di dalam proses pembelajaran kelas formal. Bahkan, semua anak dalam komunitas itu perlu dikondisikan rileks namun tenang sehingga sungguh mendukung kemunculan sikap berani maju pada diri anak. Anak-anak jangan mengomentari dengan ungkapan ’uwihhh’ atau ungkapan lain yang bernada mengejek terhadap anak yang mau maju, sebaliknya harus memberi dukungan moral. Jika kondisi demikian dapat diciptakan tentulah investasi sikap berani pada diri anak akan dapat diundhuh dengan penuh gemilang.
Kudus, 13/2/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""