Jumat, 19 Februari 2010

BERTEATER MEMBANGUN KARAKTER ANAK

BERTEATER MEMBANGUN KARAKTER ANAK

Gelegak gelombang globalisasi yang terus menggelontorkan berbagai informasi, baik dan buruk, melalui media canggih sering tak terbendung. Informasi apa pun berdesak-desakan berebut memasuki wilayah pikiran dan benak semua insan, termasuk anak. Anak sebagai pribadi yang haus informasi terus menjelajah informasi yang sering tanpa terfilter. Ini yang menjerumuskan anak ke dalam minat untuk memenuhi "keinginan" daripada "kebutuhan" diri.

Kalau "keinginan" lebih mengarah pada hal-hal yang segi peruntukannya kurang signifikan untuk menumbuhkembangkan karakter karena lebih bersifat nggege mangsa, sementara "kebutuhan", karena peruntukannya sesuai taraf masanya maka lebih menuju pada pembentukan karakter. Dengan demikian, memenuhi keinginan berarti berlari ke area yang menghancurkan; memenuhi kebutuhan berarti menjemput harapan-harapan yang gilang-gemilang.

Masyarakat, yang setiap saat menyuguhkan live show tak beradab (di antaranya, sabung ayam, selingkuh, dan tindakan kekerasan sesama anggota dewan dalam sidang berlangsung) semakin memperparah kehancuran moral-mental anak. Anak kehilangm karakter sesungguhnya. Sebab, yang dominan memberi warna hidup anak adalah sikap yang diteladani dari tokoh suguhan live show tak beradab itu.

Oleh karena itu, patut diapresiasi positif kemunculan teatar sebagai salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kemunculan awalnya memang menjadi pertanyaan banyak orang -guru dan siswa- karena menurut sejauh pengetahuan mereka teater itu identik dengan "orang gila". Karena di dalamnya ditemukan berbagai tingkah yang mungkin menurut mereka aneh, semisal ketika latihan vokal, bersuara keras, mbengok-mbengok; ketika melatih kekuatan berekspresi, ada yang senyam-senyum sendiri, tertawa-tertiwi, menari, dan sebagainya.

Padahal sebenarnya ada banyak pelajaran hidup yang dapat diperoleh lewat berteater. Mbengok-mbengok, senyam-senyum, tertawa-tertiwi, dan menari itu bagian kecil dari sekian banyak kekayaan teater. Melalui berteater, anak belajar hidup bermasyarakat, memperoleh nilai kegotongroyongan, mengenyam kebersamaan, mengembangkan sikap peduli terhadap sesama (tak hanya terhadap manusia, tetapi juga terhadap hewan dan tetumbuhan), menggali potensi diri, mengasah kreativitas, bahkan hingga mempelajari beragam karakter orang. Akan tetapi, melalui berteater yang terpenting adalah anak mengasah rasa, karsa, dan cipta, yang membentuk diri mereka menjadi manusia yang berkarakter. Ayo berteater!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""