Sabtu, 20 Februari 2010

HARGA DIRI SISWA PERLU DIKEMBANGKAN

HARGA DIRI SISWA PERLU DIKEMBANGKAN

Disadari atau tidak, sebagian besar siswa mengeluh jika dihadapkan pada materi apresiasi sastra. Mereka lebih memilih bahasa ketimbang sastra. Hal ini bisa dipahami, mungkin karena siswa merasa kesulitan belejar sastra. Sebab, belajar sastra harus menjalinpadukan pikiran dan perasaan, sementara belajar bahasa hanya mengandalkan pikiran. Belajar sastra menimbulkan interpretasi jamak yang banyak opsi, sementara belajar bahasa melahirkan interpretasi tunggal yang pasti. Kenyataan ini, tentu saja, sangat memprihatinkan. Sebab, kesulitan siswa dapat memunculkan kebencian mereka terhadap sastra.

Padahal, menurut Taufiq Ismail, sastra sesungguhnya dapat memperhalus perasaan dan jiwa para siswa. Lewat sastra, mereka akan mengenal hidup. Toleran dan antikekerasan (Kompas, 3 Spril 2001). Kalau di tataran realitas masih sering kita temukan tawuran antarpelajar, perkelahian, keterlibatan pelajar dalam pencurian, perampokan dan pembajakan, boleh jadi -meskipun ini tidak mutlak- disebabkan tipisnya siswa bersentuhan dengan nilai-nilai sastra.

Ironis, memang. Apalagi alokasi waktu materi bahasa dan sastra, senjang. Alokasi waktu untuk materi satra sangat sedikit. Dan, tampaknya, belum ada tanda-tanda positif pihak berwenang untuk ikhlas mau menambah jatah waktu. (Semoga, pernyataan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Indra Djati Sidi yang dikutip Kompas, 3 April 2001, yakni perubahan kurikulum untuk meningkatkan apresiasi sastra sedang dilakukan, benar-benar terwujud!). Menangkap kondisi demikian, mestinya, guru Bahasa (dan Sastra) Indonesia bukannya malah kehilangan darah kreasi, tetapi tumbuh rasa semangat. Semangat berkreasi. Mencari dan mencoba-coba berbagai cara memahamkan sastra kepada siswa.

Salah satu cara yang mungkin boleh dikedepankan adalah memahamkan sastra kepada siswa dari yang kontekstual menuju yang universal. Artinya, materi apresiasi sastra yang diberikan kepada siswa hendaknya berangkat dari materi yang baik bentuk maupun terutama isinya berdasarkan konteks tertentu (taruhlah misalnya, waktu penciptaan, lingkungan penciptaan, usia pencipta) tidak jauh dari keberadaan hidup siswa.

Konsep ini bertolak dari pendapat pakar sastra bahwa sastra adalah cermin kehidupan masyarakat (mimesis). Jika kenyataannya, masyarakat lebih mudah untuk mengenal dan memahami lingkungannya, maka dapat ditarik pengertian bahwa siswa pasti lebih mudah mengapresiasi karya sastra yang secara kontekstual dekat dengan kehidupan siswa itu sendiri daripada karya sastra yang secara kontekstual jauh dari kehidupan mereka. Katakan saja, siswa kini, akan lebih mengalami kesulitan jika disodori materi apresiasi sastra karya-karya lama ketimbang karya-karya baru, yang secara langsung mereka juga turut melihat, merasakan, bahkan mungkin terlibat dalam peristiwa yang mengilhami lahirnya karya-karya baru tersebut.

Tambahan lagi, siswa di pedesaan tentu akan mengalami kesulitan jika diberi begitu saja materi apresiasi sastra yang berbicara tentang hidup dan kehidupan masyarakat kota ketimbang yang berbicara tentang hidup dan kehidupan masyarakat desa. Dan, begitu juga sebaliknya. Yang tidak bolah dilupakan juga -karena teramat penting- adalah siswa akan mengalami kesulitan apabila langsung dihadapkan pada karya-karya sastra generasi tua. Siswa seharusnya -ini sebagai upaya menjembatani- diberi dahulu karya teman-temannya sendiri yang sekelas, sesekolah, setingkat, sejenjang, seusia. Dengan begitu, kesulitan mereka agak bisa dijauhkan.

Itu artinya, kita, guru Bahasa (dan Sastra) Indonesia dituntut memiliki niat dan mau berbuat mendokumentasikan dan mengklasifikasikan karya-karya sastra sesuai dengan konteks tertentu yang diperlukan, tanpa harus menyisihkan karya-karya sastra di luar konteks tersebut. Sebab, begitu siswa mampu mengapresiasi karya-karya sastra yang katakan saja lahir dari konteks kehidupannya sendiri, maka seperti tadi yang telah disinggung, yakni "sebagai upaya menjembatani", bisa dilanjutkan mengapresiasi sastra secara lintas konteks menuju yang universal.

Itu sebabnya, majalah sekolah, majalah dinding, dan koran dinding amat penting peranannya. Karya-karya sastra siswa yang dimuat digunakan sebagai bahan apresiasi awal (praapresiasi). Bahkan, kalau perlu hasil apresiasi siswa menurut kriterium tertentu yang telah ditetapkan redaksi bisa dimuat di media komunikasi sekolah tersebut.

Diakui atau tidak, jika hal itu nyata-nyata dilakukan, tentu akan dapat merangsang siswa lrbih mau mencintai sastra. Kalau tho, di sekolah tidak atau belum memiliki sejenis media komunikasi seperti yang disebut di atas, guru dapat memanfaatkan karya-karya siswa yang dimuat di beberapa media massa anak dan remaja, sebut saja misalnya, Bobo, Mentari, Hopla, Fantasi, Trend, Yunior (Suara Merdeka), dan Kawanku.

Kita yakini, melalui upaya ini, siswa akhirnya tidak hanya mampu mengapresiasi karya-karya sastra yang menjadi target kurikulum seperti yang termuat di buku-buku paket (SD, Lancar Berbahasa Indonesia, SLTP, Pintar Berbahasa Indonesia, dan SMU, Terampil Berbahasa Indonesia), tetapi mampu mengapresiasi karya-karya sastra publik yang sekarang ini bertebaran di hampir seluruh media massa cetak. Dengan begitu, semoga karakter siswa yang dituturkan Taufiq Ismail seperti pada awal tulisan ini, boleh terjadi.

artikel ini pernah dimuat di Tabloit Inspirasi, 10-19 Mei 2001

2 komentar:

  1. keberadaan majalah sekolah, majalah dinding, dan koran dinding memang sangat penting peranannya dalam mendekatkan anak pada ranah apresiasi sastra. lebih dari itu, keteladanan guru juga memiliki peran yang jauh lebih penting utk memberikan ispirasi kepada siswa didik, hehe ...

    BalasHapus
  2. Akan tetapi, sayang, agaknya tidak banyak guru yang memiliki kepedulian untuk mau menjadi teladan bagi peserta didiknya.

    BalasHapus

""