Selasa, 16 Februari 2010

MALU

MALU

Kata malu, kini, menjadi sebuah kata yang menarik. Menarik karena banyak orang melekatkannya dengan perilaku berkonotasi baik. Sebagian orang malu tatkala disuruh berpendapat, diminta menjadi ketua, diperintah untuk mengajari, dimohon untuk memberikan petuah-petuah ketika ada pertemuan warga di kampung, dan masih banyak lagi. Perilaku demikian menular pada diri anak-anak sekolah. Mereka malu disuruh maju, malu diminta untuk memberi tanggapan terhadap sebuah cerita yang diperdengarkan, malu mewakili sekolah menjadi petugas bendera 17 Agustusan, malah ada juga yang malu ketika disuruh maju menerima piala penghargaan karena prestasi yang diperolehnya di hadapan peserta upacara di sekolah. Padahal, malu dalam hal demikian sangat merugikan. Menyumbat secara sadar kran potensi yang mereka miliki, yang seharusnya dibuka selebar-lebarnya untuk berkembang. Aneh memang, dalam hal yang positif orang malah bersembunyi-sembunyi.

Di sisi lain, banyak orang tidak malu berperilaku negatif. Berapa banyak elite politik ditangkap, disidik, dan dipenjara karena terbukti menyalahgunakan wewenang dan jabatan, namun masih senyam-senyum saja saat dimediakan oleh pers yang tentu dilihat banyak warga, baik yang mengenalnya maupun tidak? Seolah-oleh mereka tak pernah berbuat salah. Tak acuh. Bahkan membela diri bahwa diri mereka benar adanya. Jadi, tepatlah kalau mereka itu dikatakan ndablek.

Telah banyak slogan "budaya malu ...." (misal, budaya malu terlambat) yang dipajang di kantor-kantor, lembaga-lembaga baik pemerintah maupun partikelir dengan maksud untuk mengingatkan mereka yang tidak atau belum berperilaku menyimpang dan menyindir mereka yang terus-terusan melanggar norma dengan harapan yang demikian ini hendak menghentikan kebiasaan buruk. Namun, realitas yang ada kini, tindakan mengabaikan aturan itu senantiasa bergulir serupa bola sepak menggelinding di keramik halus.

Jika kesulitan mengingini perubahan di tataran komunitas karena ternyata petuah melalui slogan atau melalui cara lain kurang efektif, tentu di tataran orang per orang/pribadi masih ada secercah asa untuk mengingini perubahan. Mulai dari diri kita tentu. Mulai saat ini berkomitmen dan bertindak malu terlambat datang di kantor, malu berbohong, malu mengambil bukan hak sendiri, malu marah-marah, dan lain-lain. Sebaliknya, tidak malu datang awal, tidak malu jujur, tidak malu menyerahkan bukan hak sendiri kepada yang berhak, tidak malu mengalah.
Mari kita lakukan, tentu anak cucu kita mendambakan hidup bersama dalam damai dan tentram.

Kudus, 16/2/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""