Selasa, 16 Februari 2010

MEMBANGUN KEKRITISAN SEJAK DINI

MEMBANGUN KEKRITISAN SEJAK DINI

Dengan semakin jumlah penduduk bertambah, tingkat kebutuhan hidup terus melambung, dan di sisi lain peluang kerja semakin sempit karena tenaga kerja senantiasa berbiak, membawa konsekuensi logis lahirnya penyimpangan hidup yang semakin banyak.
Penyimpangan hidup sosial bermasyarakat, baik yang terjadi di tingkat elite maupun di akar rumput, bermuara pada terpenuhinya kebutuhan atau lebih tepatnya keinginan hidup. Kalau di tingkat elite telah membudaya kolusi, korupsi, dan nepotisme, di akar rumput membudaya ilmu gendam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gendam berarti mantra atau guna-guna yang membuat orang menjadi terpesona; pesona. Melalui gendam ini calon korban begitu mudah dipengaruhi. Meskipun sasaran dapat menimpa orang dewasa dan anak-anak, agaknya kalangan anak –karena keluguannya itu– yang terus diincar para penggendam.

Itulah sebabnya penting kiranya membangun sikap kritis lingkungan pada diri anak sejak usia dini. Membangun sikap kritis lingkungan diri anak tidak berarti menanamkan prasangka buruk/curiga, tetapi lebih pada menanamkan sikap kehati-hatian. Hati-hati setiap menghadapi apa pun saja terlebih terhadap hal yang sama sekali baru. Tidak mudah terpengaruh atau terpesona.

Dengan begitu, tindakan penyimpangan sosial yang kini berada dekat dengan kehidupan kita, hadir di mana dan kapan saja, tentu akan lebih mudah terhindarkan. Usaha baik tentu tak sia-sia karena Tuhan hadir di hidup kita.
Kudus, 13/2/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""