Kamis, 18 Februari 2010

MEMBUADAYAKAN BELAJAR GAYA ESTAFET

MEMBUDAYAKAN BELAJAR GAYA ESTAFET

Banyak siswa saat menghadapi tes/ujian, belajar secara maraton. Belajar bertumpuk buku dalam waktu semalam. Tradisi ini tak bisa ditoleransi. Sebab, kenyataan menunjukkan, manakala menerapkan belajar gaya ini, siswa cenderung mengeluh. Keluhan muncul karena ada beban psikis yang berdampak pada kondisi fisik. Ini berbahaya oleh karena saat mereka harus fresh untuk mengerjakan soal, justru terbeban. Dalam kondisi begini, hasil tes siswa tentu tak optimal, yang tidak menggambarkan kemampuan nyata siswa.

Sayang, hingga kini, belajar gaya maraton masih menjadi alternatif banyak siswa. Alasannya, pertama, karena adanya budaya mimetik. Budaya ini ngetrend di komunitas siswa. Siswa belajar dari lingkungan. Senior mereka menjadi teladan. Ada kebanggaan dan rasa aman manakala mereka telah meneladani. Padahal, meniru termasuk tindakan pasif. Membungkam kretivitas diri, yang berarti merintangi prestasi. Oleh karena itu, siswa perlu dijauhkan dari budaya ini.

Kedua, virus instan. Tak semua produk teknologi berdampak baik. Magic jar, magic com, televisi, tape, dan radio remote, misalnya, mengondisikan orang bersikap praktis. Orang tak perlu repot memasak karena ada makanan siap saji. Kulit wajah jadi kinclong dalam sekejap karena kosmetik tertentu. Praktik kolusi, korupsi, nepostisme, premanisme, dan judi, yang merambah ke semua lini kehidupan juga akibat dari sikap praktis itu. Media massa secara persuasif dan provokatif tak jarang turut memperparah kondisi lewat pencitraan tokoh dalam sinetron atau film, iklan, dan kehidupan kalangan selebritis yang cenderung materialis, konsumeris, dan hedonis. Sikap hidup demikian bagai virus. Memasuki ruang hidup banyak orang, lebih-lebih begitu mudah memasuki ruang hidup siswa, yang memang rentan terhadap pengaruh. Virus ini menjadikan siswa pesimis, mudah putus asa, dan tak percaya diri, lalu bermuara pada sikap bergantung pada orang lain. Ulangan, nyontek; ada tugas, mengkopi milik teman, misalnya.

Ketiga, belajar belum menjadi kebutuhan siswa. Belajar hanya sebatas tugas dan kewajiban. Penghayatan ini memunculkan sikap tak mengikat. Belajar dilakukan jika disuruh atau diingatkan. Tak ada kemandirian. Semestinya siswa menghayati belajar sebagai kebutuhan. Dengan begitu, belajar muncul secara mandiri.

Memahami belajar gaya maraton kurang menguntungkan, maka belajar gaya estafet perlu semakin dibudayakan. Belajar gaya ini memang tak menarik banyak siswa. Karena, ada anggapan bahwa belajar agaya estafet menyita waktu, tak bebas, percuma karena ulangan masih lama, dan lebih baik waktu digunakan untuk kegiatan lain. Siswa juga belum menghayati bahwa belajar gaya estafet memuat beragam variasi. Ada variasi waktu, suasana, cara atau yang lainnya, sehingga tidak monoton dan ini membuka belajar dalam suasana yang menyenangkan. Belajar gaya estafet bisa dipahami sebagai belajar bersama secara berantai. Misalnya, belajar satu bab untuk beberapa siswa. Satu siswa belajar satu subbab, kemudian setiap siswa mempresentasikan di depan kelompok belajarnya, bergantian dan mendiskusikannya. Belajar gaya estafet juga dapat dipahami sebagai belajar sendiri dilakukan secara bertahap, tetapi terus berkelanjutan.

Kiranya penting bagi orang tua, masyarakat, dan sekolah memberi inspirasi siswa “perlu proses” untuk meraih hasil, melalui kegiatan ringan dan menyenangkan. Di rumah, anak membantu menyapu secara teratur; di sekolah, siswa dibudayakan berkebun di taman kelas; di masyarakat diciptakan jam belajar, misalnya. Bahkan, ide menjadikan “sekolah hijau” dapat diwujudkan dengan cara menganjurkan setiap siswa membawa tanaman di pot untuk dibawa ke sekolah dan dirawat dengan ditandai nama dengan maksud tanaman itu menjadi tanggung jawabnya. Upaya-upaya tersebut di samping untuk mengajak siswa mencintai alam yang amat relevan dengan isu global warming, juga penting agar mereka memiliki kecerdasan kesabaran, kecerdasan keuletan, kecerdasan kerajinan, dan kecerdasan ketertiban, yang semuanya itu sebagai roh belajar gaya estafet, yang mengedepankan proses sebagai hal yang harus dilewati untuk meraih prestasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""