Kamis, 18 Februari 2010

MENGGALI POTENSI ANAK SEJAK USIA DINI

MENGGALI POTENSI ANAK SEJAK USIA DINI

Beberapa waktu yang lalu benak kita digetarkan geng siswa putri menganiaya seorang siswa putri. Setelah diketahui lebih jauh, tindakan menyimpang itu ternyata sering dilakukan. Tidak hanya terhadap siswa putri sesekolah, tetapi juga lain sekolah. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dunia pendidikan dihebohkan juga oleh rekaman adegan syur siswa lewat handpone. Lalu, di media massa tak jarang diberitakan kaum terpelajar melakukan aborsi, pemakaian dan pengedaran narkoba, pencurian, dan terlibat dalam tindakan kriminal lainnya. Realitas itu menunjukkan bahwa kaum terpelajar begitu rentan terhadap berbagai pengaruh. Belum memiliki stamina yang tangguh untuk meretas ajakan, tekananan, bujukan, dan rayuan yang mencelakai.

Maka benar jika para psikolog menyatakan bahwa masa remaja itu masa “angin badai”. Masa yang menggambarkan remaja berada pada fase yang mudah berubah. Apa yang ada di depan mereka, diterima asal menyenangkan. Tak mempertimbangkan hal-hal buruk yang barangkali bisa terjadi kemudian. Bagi mereka, yang terpenting adalah saat ini “baik” dan menyukakan. Jika di lain waktu ada hal baru yang lebih menarik, tentu yang lama ditinggal, yang baru dikejar. Siklus demikian akan terus mereka alami secara berulang. Jadi keberadaan mereka lebih ditentukan oleh lingkungan. Lingkungan mewarnai hidup mereka. Bersyukur jika lingkungan itu mewarnai “kebaikan”, jika mewarnai “keburukan”, itu persoalannya.

Maka, penting kehadiran orangtua mendampingi anak-anak/remaja. Mendampingi untuk membimbing dan mengarahkan mereka dalam kebebasan bertanggung jawab dalam menentukan pilihannya. Sayang, bentuk pendampingan ini tak terus optimal. Sebab lambat laun anak menuju ke usia remaja, lalu ke usia pemuda, yang tentu semakin lama semakin “jauh” terjangkau oleh orangtua. “Jauh” terjangkau karena di samping mereka semakin banyak teman, juga karena belajar di luar daerah. Sementara itu orangtua semakin sibuk bekerja karena tuntutan kebutuhan bertambah banyak. Orangtua, dengan demikian, lebih banyak membangun komunikasi lewat telepon. Konsekuensinya, orangtua tak mengerti secara pasti perbuatan anak di ujung telepon. Banyak anak yang kelihatan alim di muka orangtua, namun tak begitu sebetulnya. Maka tak jarang belakangan ditemukan terlibat dalam pergaulan bebas.

Oleh karena itu, perlu kiranya membangun antibodi, seperti yang digunakan dalam dunia kesehatan. Jika orangtua diumpamakan “obat” yang bersifat eksternal, yang derajat efektivitasnya kurang optimal, maka perlu ditemukan “antibodi” dari dalam anak yang bersifat internal, yang diyakini lebih efektif. Hanya, jarang anak dapat menemukan sendiri “antibodi” dalam dirinya. Diperlukan orang lain barangkali orangtua sendiri yang lebih tepat untuk bisa menemukan “antibodi” itu. Maka, peran orangtua sebagai pembimbing dan pengarah perlu lebih dipertegas. Dalam hal ini, pada masa-masa pendampingan saat keberadaan anak relatif masih terjangkau orangtua membantu sekaligus merangsang agar bakat dan minat anak dapat ditemukan sedini mungkin. Menemukan bakat dan minat anak sejak dini sangat menguntungkan sebab bakat dan minat anak itulah yang dipahami sebagai “antibodi”. Dengan begitu, masih tersedia banyak waktu dalam mengasah “antibodi” itu secara lebih terfokus. Dan, upaya demikian tentu menjadikan “antibodi”, yang tak lain adalah bakat dan minat itu, berkualitas baik.

Kalau bakat dan minat dapat diartikan sebagai kecerdasan, maka pemilahan kecerdasan menurut Howard Gardner yang dikutip oleh May Lwin, dkk., dalam bukunya, Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan (2008), dapat dipakai sebagai panduan orang tua untuk mencermati bakat dan minat anak. Kecerdasan yang dimaksud ada tujuh jenis, yaitu kecerdasan linguistik-verbal, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal.

Kecerdasan linguistik-verbal mengacu pada kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dalam berbicara, membaca, dan menulis. Peluang profesi di antaranya ada di bidang hukum, penulisan, penyelenggara acara televisi, negosiasi, editing, pengajaran, dan politik. Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, pola dan pemikiran logis dan ilmiah. Profesi yang disarankan antara lain ahli matematika, ilmuwan, dan filsuf. Kecerdasan spasial-visual mengacu pada kemampuan seorang untuk melihat dengan tepat gambaran visual di sekitar mereka dan memperhatikan rincian kecil yang kebanyakan orang lain mungkin tidak memperhatikan. Pemilik kecerdasan ini lebih banyak sebagai insinyur mesin, arsitek, seniman, fotografer, pilot, navigator, pemahat, dan penemu. Kecerdasan ritmik-musik adalah kemampuan untuk menyimpan nada dalam benak seseorang, untuk mengingat irama itu dan secara emosional terpengaruh oleh musik. Maka, tepat jika pemilik kecerdasan ini bergerak di bidang musik, menyanyi, atau koreografer. Kecerdasan kinestetik memungkinkan manusia membangun hubungan yang penting antara pikiran dan tubuh, dengan demikian, memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek dan menciptakan gerakan. Peluang profesi misalnya sebagai pemain bola, perenang, pesenam. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang di sekitar, untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak. Sehingga, memungkinkan orang untuk membangun kedekatan, pengaruh, pimpinan dan membangun hubungan dengan masyarakat. Pengusaha, psikolog, ahli terapi, petugas hubungan masyarakat, perunding, diplomat, pramuniaga, dan guru memerlukan kecerdasan ini. Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai diri sendiri, maksudnya kecerdasan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Pemilik kecerdasan ini banyak menjadi pengusaha, konselor, pelatih keberhasilan, filsuf, dan pemimpin.

Mengacu pada pemilahan kecerdasan Gardner, orangtua diberi kemudahan dalam mencermati bakat dan minat anak. Kebiasaan anak sejak usia dini dapat dijadikan titik-titik penting untuk mengarah ke penyimpulan potensi bakat dan minat anak. Ada yang sejak dini anak berminat menggambar, menulis, berbicara, atau berhitung. Dalam kegiatan sehari-hari minat-minat itu tampak jelas. Di mana pun mereka berada, mereka berbuat sesuai dengan bakat dan minatnya meskipun mungkin hanya ada sedikit peluang waktu. Di sekolah, misalnya, saat guru berceramah, ada siswa yang justru serius menggambar di buku tulisnya. Di rumah, ada anak yang sering mengisi waktunya dengan menyanyi, menulis, bermain sepak bola, atau kegiatan yang lain. Minat-minat tersebut disarankan untuk difungsikan, sebagai pijakan orangtua membawa anak lebih menekuni lagi minatnya.

Orangtua yang berkemampuan dalam arti memiliki skill dan waktu mendampingi anak dalam menggali potensi tersebut, tentu sangat baik. Akan tetapi, jika kurang berkemampuan, anak dapat dimasukkan ke sanggar/kelompok minat yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Sanggar/kelompok minat ini akan memotivasi anak dalam menekuni bakat dan minatnya. Dalam komunitas yang sama, umumnya semangat lebih terpacu. Kemampuan semakin tergali. Konsentrasi anak terhadap bakat dan minatnya, bertambah mantap.

Kondisi ini akan membawa anak pada satu kesibukan yang menyenagkan. Tentu waktu yang ada tak disia-siakan untuk kegiatan yang tak berguna. Waktu yang ada akan senantiasa difokuskan untuk kegiatan yang berhubungan dengan bakat dan minatnya. Apalagi kalau kegiatan yang ditekuni itu memberikan “nilai ekonomis” anak yang berbakat menulis, tulisannya dimuat di media massa, dan mendapat honor; anak yang berminat main musik, grup musiknya mengisi acara tertentu, dan mendapat duit, misalnya niscaya seluruh aktivitas kreasinya tergadaikan di keterampilan yang satu itu.

Ini berarti “antibodi” seperti yang telah disinggung di atas, yang tak lain adalah bakat dan minat dari dalam diri anak yang telah ditemukan, sungguh berkualitas. “Antibodi” yang berwujud bakat dan minat/kecerdasan ini akan sangat efektif untuk meretas pengaruh negatif yang diyakini di zaman masyarakat internet ini akan semakin membludak. Bakat dan minat anak yang telah tergali sebagai jati diri dapat menjadi “benteng” yang tangguh.

Sebagai orangtua, yang anaknya telah memiliki jati diri, dengan demikian, boleh agak berlega hati meskipun anak sekolah/kuliah di luar daerah, yang berarti pula “jauh” terjangkau. Mengapa? Sebab, anak telah memiliki “antibodi” sendiri. Anak/remaja yang demikian bahkan boleh jadi mampu membangun komunitas sendiri dengan teman-teman yang memiliki bakat dan minat serupa. Mereka akan saling memperkaya keterampilan. Kondisi ini tentu sungguh menggembirakan karena diyakini dapat meminimalisasi terjadinya kerawanan “kecelakaan” pada anak/remaja di masa-masa pendidikan mereka berlangsung. Memahami hal demikian, penting kiranya orangtua sedini mungkin mendampingi anak dalam upaya menggali potensi bakat dan minat/kecerdasan anak. Untuk kemudian direspon secara positif tumbuh kembangnya melalui pembinaan yang maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""