Rabu, 24 Februari 2010

MERETAS PEMANASAN GLOBAL DARI RUANG-RUANG KELAS

MERETAS PEMANASAN GLOBAL DARI RUANG-RUANG KELAS

Pemanasan global terjadi akibat perilaku manusia yang tak peduli terhadap lingkungan. Adanya penebangan hutan secara liar, illegal loging, penambangan, pemanfaatan teknologi industri dan hasil-hasilnya yang tak ramah lingkungan penyebab utama.

Beberapa pakar menyebut dampak pemanasan global, di antaranya muncul perubahan iklim, permukaan air laut naik, dan suhu bumi meninggi. Lazimnya, hal demikian diikuti dengan berkurangnya produk pangan, eksodus komunitas hewan dari satu tempat ke tempat lain, daratan semakin menyempit, terumbu karang rusak, dan berbagai “penyakit-baru” mewabah.

Menyadari ada ancaman terhadap kehidupan, upaya mengembalikan kondisi alam kembali baik sedikit demi sedikit mulai dilakukan di beberapa tempat oleh pemerintah bersama lembaga kemasyarakatan dan komunitas tertentu. Ada gerakan menanam sejuta pohon, program “hijaukan kampungku”, imbauan pemakaian pupuk organik, daur ulang sampah anorganik, pembuatan pupuk kompos, sampai pada program pemadaman listrik bergilir dan imbauan hemat penggunaan listrik. Semua itu sebagai upaya eliminasi global warming.

Terkait dengan hal tersebut agaknya keberadaan siswa tak boleh diabaikan. Dari sisi kuantitas, siswa sungguh potensial untuk diberdayakan. Dari sisi usia, tentu siswa lebih mudah untuk diajak dan diarahkan. Oleh karena itu, penting kiranya mereka diakrabkan dengan alam agar kelak jangan sampai perilaku tak bersahabat dengan alam yang telah dilakukan generasi pendahulu, diteladani generasi penerus ini. Karakter mereka harus dibentuk agar beratensi tinggi terhadap alam lingkungan. Dengan demikian, harapan agar alam lingkungan kembali sejuk dan nyaman untuk meretas pemanasan global dapat terwujud.

Upaya konkret yang harus dilakukan, pertama, membangun kesadaran siswa mengenai bersih lingkungan di sekolah. Selama ini yang telah dan masih dilakukan dalam membangun kesadaran itu melalui “tugas piket harian” berkelompok. Kenyataan yang terekam, model “tugas piket harian” itu kurang efektif. Sebab, yang pertama-tama bertujuan agar terbangun sikap kerja sama antaranggota, tidak sepenuhnya berhasil, terutama pada siswa putra. Saling lempar tanggung jawab satu kepada yang lain jika ada tugas yang harus mereka kerjakan. Bahkan, sering terjadi siswa putri jadi kalah-kalahan. Siswa putri yang terus bekerja, sementara siswa putra ongkang-ongkang.

Pemilahan tugas berdasarkan gender, yang telah melekat di masyarakat agaknya diwarisi oleh siswa di sekolah. Tugas bersih-bersih, baik menyapu maupun mengelap meja dan kaca jendela, misalnya, hanya pantas dikerjakan oleh siswa putri. Ada perasaan malu dalam diri siswa putra jika menyapu atau membersihkan meja dan kaca jendela.

Oleh karena itu, demi mengefektifkan “tugas piket harian” barangkali perlu mengubah komposisi anggota. Maksudnya, tak perlu lagi menggabung siswa putra dengan putri. Biarlah siswa putra memilki kelompok piket sendiri, demikian juga siswa putri. Dengan begitu, pemilahan tugas atas gender, sedikit demi sedikit bisa dihindari karena siswa putra maupun putri dikondisikan memiliki tanggung jawab yang sama. Dan, disadari atau tidak, lambat laun kelompok siswa putra sadar untuk melakukan “tugas piket harian”, dengan baik meski awal penerapannya agak berat.

Di samping mengubah komposisi anggota “tugas piket harian”, rangsangan dari wali kelas sangat penting. Keterlibatan wali kelas dalam membersihkan kelas saat jam-jam pembinaan sangat penting. Wali kelas menjadi figur yang dapat diteladani.

Kedua, membangun sikap yang “terpanggil”. Meskipun orang mengetahui ada sampah terbuang di sembarang tempat, jarang mau langsung mengambil lantas memindahkannya ke keranjang sampah. Yang sering terjadi justru menghindar. Kenyataan ini hampir bisa dipastikan terjadi di semua tempat, baik di rumah, perkantoran, tempat-tempat umum, maupun sekolah. Membangun sikap hati yang “terpanggil”, dengan demikian penting untuk segera diwujudkan. Di sekolah, sikap ini tak hanya ditanamkan dalam diri siswa, tetapi untuk semua anggota komunitas sekolah. Bahkan, kepala sekolah, guru, dan karyawan harus mau menjadi model bagi siswa. Begitu melihat sampah tergeletak di luar bak sampah, mereka harus “terpanggil” untuk segera memindahkannya ke tong sampah tanpa rasa gengsi. Tidak mendidik apabila saat melihat sampah terbuang di luar tempat sampah, justru menyuruh siswa untuk mengambilnya. Alangkah lebih baik ketika melihat ada siswa membuang sampah sembarangan, segera sampah itu diambil untuk dipindahkan ke bak sampah selagi siswa tersebut belum berajak dari tempat itu. Pendidikan keteladanan seperti itu penting dikedepankan untuk merangsang siswa agar melakukan hal serupa.

Tamu, secara persuasif juga digiring melalui slogan yang ditempel di tempat mudah terbaca di lingkungan sekolah turut mendukung upaya itu. Dengan demikian, setiap orang yang memasuki kawasan sekolah secara mandiri “terpanggil” untuk menjaga bersih lingkungan.

Ketiga, menggairahkan sikap cinta alam dalam benak anak-anak. Anak-anak yang tinggal di kota, jarang atau bahkan tak pernah “bersentuhan” dengan alam. Mereka lebih disibukkan dengan kegiatan pembelajaran, baik di sekolah maupun di bimbingan belajar. Tidak ada waktu sedikit pun bagi mereka untuk merawat bunga di rumah, menanam toga di sudut-sudut halaman rumah atau di pot. Karena kesibukan, orang tua tak ada yang memperhatikan hal itu bagi kepentingan anak. Maka lengkap sudah ketidakmengertian anak terhadap alam, yang boleh jadi memunculkan sikap apatis anak pada alam. Kalau hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, dipastikan kelak alam semakin rusak. Oleh karena itu, tepat kalau sekolah melibatkan siswa dalam perawatan tanaman dan bunga-bunga di taman kelas/sekolah.

Bahkan, ide menjadikan “sekolah hijau” dapat diwujudkan dengan cara menganjurkan setiap siswa membawa tanaman di pot untuk dibawa ke sekolah dan dirawat dengan ditandai nama dengan maksud tanaman itu menjadi tanggung jawabnya. Upaya ini untuk menggairahkan sikap cinta alam dalam diri siswa.

Keempat, mewujudkan gerakan peduli alam secara kolaborasi dengan memanfaatkan lahan tersisa di tepi sungai, pinggir jalan, tepi lapangan, atau tempat lain yang belum termanfaatkan secara efektif. Salah satu cara, misalnya, tanaman dapat disediakan pemerintah setempat dan/atau meminta bantuan swasta/dunia usaha, sementara tenaga untuk menanam biarlah masyarakat setempat dan komunitas sekolah yang berlokasi dekat dengan lahan yang ditanami. Kerja kolaborasi ini tidak hanya sebatas saat menanam saja, tetapi dapat terus dibangun selama proses pertumbuhan hingga saat usia tanaman boleh dilepas untuk hidup sendiri, karena tanpa lagi perlu perawatan khusus. Model kolaborasi ini dapat diperluas ke ranah-ranah lain di seputar peduli alam dan lingkungan. Misalnya, penanganan pencemaran, prokasih, daur ulang limbah dan sampah. Melalui ini diharapakan pemerintah, masyarakat, swasta, dan terutama siswa memiliki kepedulian kolektif terhadap alam lingkungan untuk meretas pemanasan global.

2 komentar:

  1. sbg agen peradaban, memang sdh saatnya sekolah didesain secara kontekstual dengan mengangkat tema2 seperti itu, pak. semoga dg desain dan strategi semacam itu, generasi masa depan negeri ini makin responsif terhadap masalah lingkungan.

    BalasHapus
  2. Ya, Pak,tugas kita memang demikian berat demi membawa peradaban yang terbaik. Akan tetapi, seberat apa pun tugas kita kalau kita mengembannya secara tulus dan terutama ikhlas untuk kepentingan banyak manusia, sebenarnya Sang Khalik sajalah yang merampungkan semuanya. Terima kasih atas kunjungan dan komentar Bapak.

    BalasHapus

""