Kamis, 18 Februari 2010

PERPUSTAKAAN SEKOLAH YANG MENGONDISIKAN SISWA BERMINAT MEMBACA

PERPUSTAKAAN SEKOLAH YANG MENGONDISIKAN SISWA BERMINAT MEMBACA


Minat baca siswa memang rendah. Indikatornya, saat mereka diberi tugas untuk menulis mengatakan sulit. Daftar kunjung ke perpustakaan sekolah tak banyak terisi. Begitu juga daftar pinjam buku, hanya tertera beberapa siswa dan ternyata nama yang sama. Ketika saya membaca koran di perpustakaan sekolah, justru banyak siswa yang tidak membaca, tetapi melihat acara televisi yang berada di ruang tersebut. Melihat itu, saya nyeletuk, “Anak-anak di sini membaca atau melihat televisi?”. Serentak mereka menjawab, “lihat televisi, Pak.”. Saya akhirnya asyik lagi membaca Jawa Pos, yang memuat salah satu berita menarik bagi saya yaitu penyerahan penghargaan tertinggi prestasi di bidang pendidikan dari presiden untuk beberapa guru, di antaranya guru SMA 3 Salatiga, yakni penghargaan Satya Lencana.

Harus diakui bahwa faktor buku berpengaruh terhadap minat baca siswa. Banyak koleksi buku dan selalu ada yang baru menjadi perangsang bagi siswa untuk mau membaca. Akan tetapi, harus diakui juga meski di perpustakaan sekolah hanya banyak koleksi buku lama yakinlah bahwa tidak semua buku itu telah dibaca siswa. Ketika saya mengajar di kelas dan bertanya apakah anak-anak telah membaca buku ini atau buku itu yang tersedia di perpustakaan sekolah, anak-anak menjawab tidak pernah. Hal ini menandakan bahwa banyaknya koleksi buku dan selalu ada buku baru tidaklah menjadi faktor utama menarik siswa berminat membaca. Buku lama yang tak pernah dibaca, tentu dapat diposisikan sebagai buku baru. Sebab, terkandung ilmu baru yang perlu dimengerti.

Agaknya faktor pengelolaan, bagi saya, justru yang harus mendapatkan perhatian serius. Tidak cukup pengelola perpustakaan yang supel dan ramah, tetapi meminjam istilah sandiwara, setting dan property perpustakaan yang menawarkan kenyamanan, kerileksan juga penting untuk diadakan. Misalnya, ruang perpustakaan dipilah menjadi dua kondisi. Pertama, siswa dapat membaca dengan lesehan atau tiduran. Kedua, siswa bisa membaca dengan duduk. Oleh karena itu, ruang perpustakaan perlu digelari karpet meskipun di sebagian tempat tetap ada kursi dan meja tempat untuk membaca. Tidak hanya siswa yang copot sepatu saat ada di ruang perpustakaan, tetapi juga guru.

Televisi boleh ada di ruang perpustakaan, tetapi diupayakan ketika ada siswa yang berada di ruang tersebut televisi tak dinyalakan. Dianjurkan ada CD edukatif yang memancing minat siswa untuk membaca yang diputar lewat player dan yang bisa dilihat di monitor televisi tersebut saat siswa berada di ruang perpustakaan. Sebab, ada juga siswa yang datang ke perpustakaan itu tak semata-mata hendak membaca atau pinjam buku, tetapi hanya bersantai-santai atau bahkan guyonan sama temannya. Melalui CD edukatif, siswa yang datang tanpa bertujuan membaca dan pinjam buku dikondisikan untuk berminat membaca. Atau, kalau tetap melakukan aktivitas yang kurang bermanfaat itu, pengelola dapat mempersilakan mereka untuk mencari tempat selain di ruang perpustakaan. Dengan demikian, ruang perpustakan benar-benar termanfaatkan secara maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""