Selasa, 23 Februari 2010

REALITAS YANG MENGGETIRKAN

REALITAS YANG MENGGETIRKAN

Kasihan mereka. Masih amat hijau, tetapi tak dapat mengenyam masa kecilnya. Sebab, mereka harus bergelut dengan debu dan deru mesin di perhentian-perhentian traffic light untuk mengemis kepada pengendara motor atau mobil yang mudah jatuh iba. Mereka sangat lugu, tak seperti pengemis-pengemis tua yang sering menipu-nipu dengan memoles diri menjadi cacad juga dengan bahasa yang dibuat-buat agar setiap orang yang dijumpai segera berbelas kasih.

Mereka, anak-anak yang masih ingusan itu, begitu polos saat meminta. Saat lampu merah menyala, mereka bermain-main di pinggir jalan. Kalau tak sendiri, kebetulan ada teman, mereka guyonan seperti anak-anak seusianya. Pecah suasana suka, gembira, dan renyah. Begitu lampu berubah kuning berlanjut hijau, mereka segera mendekat ke motor atau mobil yang berhenti lalu meminta dengan sikap dan bahasa yang biasa. Kusut, keringat berdebu di kulit, dan merah terbakar matahari rambutnya. Wajah-wajah yang harus merdeka, namun terbeban karena ambisi orangtua.

Di mataku, sebagai guru, terbayang masa depan mereka suram. Waktu yang kini harus dimanfaatkan untuk menelan segala bentuk pendidikan sebagai bekal kelak, tak dapat dinikmatinya. Mereka tak pernah mengenal matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, PKn, dan lain-lainnya. Mereka tak pernah mengenal sepatu, baju seragam, tas, pulpen, pensil. Mereka juga tak pernah mengerti pramuka, PMR, basket, aerobik. Tak mengetahui juga ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester. Tak mengenal kenikan kelas, terima rapor, guru, wali kelas, kepala sekolah. Dan, yang pasti mereka tak bakal memiliki banyak teman untuk bergurau, bermain, dan berdiskusi dalam berbagai karakter. Padahal, di sinilah kekayaan wawasan hidup diperoleh. Mereka dapat memahami hidup yang sebenarnya. Tidak hanya menerima atau bahkan meminta, tetapi juga memberi. Sebab, hidup adalah menerima dan memberi. Bagaimana anak-anak yang mengemis itu dapat memberi orang lain kalau dalam kesehariannya mereka hanya dibekali “ilmu- ilmu” meminta. Orang lain yang telah mengenyam pendidikan dan dibekali "ilmu-ilmu" memberi saja tak semuanya dapat memanggul hidup layak. Sebab, betapa kerasnya persaingan di dunia kerja. Mereka yang kretaif, percaya diri, dan penuh tanggung jawab baru berpeluang dalam kerja.

Di mataku, sebagai orangtua, tergambar jelas bahwa mereka, anak-anak yang masih ingusan itu, sebagai korban kebiadaban. Kebiadaban yang diaktori orangtua. Tugas orangtua paling mulia adalah memberi perlindungan dan pemeliharaan terhadap anak sampai anak menjadi pribadi yang utuh, dalam arti kebutuhan hidup jasmani dan rohani terpenuhi untuk mandiri dalam mempertahankan hidup. Artinya, orangtualah yang harus jungkir balik mencari nafkah bagi kecukupan hidup keluarga. Untuk membiayai anak-anak dalam pendewasaan diri secara mental, moral, intelektual, dan sosial. Anak-anak cukup diberi tanggung jawab dalam membantu kerja orangtua di rumah, yang relatif ringan. Anak memang perlu mengetahui kerja orangtua. Bahkan, tak ada salahnya jika anak mengerti berapa pendapatan orangtua dari hasil kerja. Dengan demikian, anak akan dapat memosisikan dirinya dalam pergaulan dengan teman-teman sebayanya secara realistis. Anak tidak minder. Anak juga tidak mengada-ada. Memang untuk sampai pada sikap hidup begitu anak harus ditunjukkan, dilatih, dan yang lebih utama diteladani oleh orangtua. Keterbukaan demikian akan sangat membantu perkembangan anak lebih baik. Di sinilah peran pendidikan dalam keluarga itu penting demi masa depan anak-anak. Itulah seharusnya yang penting dimiliki oleh orangtua. Tumbuh rasa malu ketika mempekerjakan anak-anak di bawah umur itu, lebih-lebih untuk mengemis di jalan-jalan.

Penyimpangan sosial demikian jangan ditangani secara represif, tetapi harus secara persuasif dan melibatkan banyak pihak dengan penanganan yang profesional. Polisi pamong praja (PP) tak perlu dilibatkan. Sebab, melihat seragam yang dipakai polisi PP itu saja anak-anak atau orangtua yang mengemis telah berlari kalang kabut. Mereka tak mau digaruk, demikian istilah yang sering didengar, saat ada gerakan pembersihan demi menertibkan kondisi kota. Kalau pun sudah ada yang tergaruk, untuk kemudian diperingatkan atau mungkin dibina dalam waktu sesaat, lalu dilepaskan, dapat dipastikan mereka akan kembali ke profesi semula. Maka, tepat jika saat mengadakan “gerakan memberdayakan” mereka, pemakaian istilah ini saya rasa lebih tepat dan manusiawi perlu melibatkan organisasi keagamaan, LSM terkait, dinas pendidikan, di samping tentu saja dinas sosial. Caranya, tidak frontal seperti program penggrebekan yang sering kita dengar dan lihat di layar-layar kaca. Akan tetapi, pendekatan halus penuh penjiwaan dan penghayatan.

Untuk melakukan itu, agaknya lembaga keagamaan dan LSM lebih berpeluang dengan menerjunkan perberdaya-pemberdaya terlatih di setiap tempat dijumpai pengemis. Pemberdaya-pemberdaya terlatih itu mempelajari situasi dan kondisi terlebih dahulu. Lokasinya seperti apa, ada berapa pengemis, anak-anak atau dewasa, atau mungkin campuran di antara anak-anak dan dewasa, mulai on pukul berapa dan of pukul berapa, banyak yang beriba kasih atau tidak, bagaimana hubungan pengemis satu dengan yang lainnya. Untuk dapat menghayati itu semua, tentu pemberdaya-pemberdaya terlatih tadi perlu memasuki wilayah perasaan dan pikiran mereka. Upaya pemberdayaan dapat dilakukan bersama-sama secara terpisah berdasarkan kelompok pengemis orangtua dan anak. Di kelompok pengemis orangtua , misalnya, perlu ada motivasi-motivasi persuasif untuk membangun karakter dan mental mereka agar lebih terarah pada standar kelayakan hidup. Tidak lagi meminta-minta, tetapi bekerja sungguh-sungguh secara halal dan terhormat. Mereka tidak hanya dimodali kemudian dilepas begitu saja, tetapi perlu ada pendampingan secara kontinyu, sampai dipandang usaha yang dilakukan benar-benar berhasil dan dapat dipakai untuk bergantung hidup.

Di kelompok anak yang “dipekerjakan”, perlu ada perlakuan secara lebih kretif sehingga menyenangkan. Sungguh baik kalau dibentuk pendidikan alternatif yang berorientasi pada keterampilan. Sehingga, kelak begitu anak-anak “lulus” pemberdayaan, mereka telah memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan sebagai lahan bekerja. Di sinilah peran pemerintah lewat dinas sosial dan pendidikan dalam mendukung penuh, baik fasilitas maupun finansial. Tentu saja gagasan ini, yakni pentingnya pendidikan alternatif, berlaku juga untuk kelompok pengemis orangtua. Karena, fakir miskin dan anak telantar sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1, memang menjadi tanggung jawab negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""