Selasa, 16 Februari 2010

UJIAN BUKAN MALAIKAT PENCABUT NYAWA

UJIAN BUKAN MALAIKAT PENCABUT NYAWA

Jangan takut! Itu ungkapan yang pantas ditiupkan ke telinga batin anak-anak yang kini menyongsong "karya besar" pemerintah, yang terkenal dengan istilah UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) dan UN (Ujian Nasional). Jika diadakan wawancara terkait dengan ujian yang respondennya anak-anak sekolah, maka kata yang terucap dari bibir mereka yang polos itu di antaranya adalah takut, khawatir, cemas, deg-degan, berat, mules, dan masih banyak lagi yang bernuansa menyedihkan. Reaksi mental demikian dialami anak-anak jauh-jauh sebelum bulan pelaksanaan ujian. Sedikit atau bahkan tidak ada anak yang berucap senang, bahagia, atau sekadar biasa-biasa saja. Ini balok beban yang dirasakan anak-anak. Memikul teror ujian yang seakan-akan mengantar ke garis akhir perjalanan.

Kondisi yang sama dialami oleh sebagian banyak guru. Guru atas nama sekolah mengadakan beragam program pembelajaran intensif untuk memicu kompetensi siswa, tetapi sering kurang proporsional. Kelelahan fisik dan psikis, baik siswa maupun guru sendiri kurang teperhatikan, yang tentu berdampak pada tidak efektifnya daya serap siswa terhadap materi. Juga, adanya kecenderungan mata pelajaran selain yang diujiannasionalkan alokasi waktunya dikurangi lalu alokasi waktu itu dialihkan pada mata pelajaran yang diujiannasionalkan. Guru (baca: sekolah) berjuang sekuat tenaga agar semua siswa lulus. Ini sebuah taruhan. Sebab, ketidaklulusan siswa dapat dipahami sebagai kegagalan sekolah.

Orangtua pun merasakan hal yang sama, gundah gulana. Mereka rela berkorban secara berlebih baik waktu, tenaga, maupun dana demi keberhasilan sang anak. Kebanyakan orangtua berusaha mati-matian. Kalau tidak menjelang anak ujian, orangtua cenderung santai. Akan tetapi, saat menjelang anak ujian, mereka khusuk berdoa, konsentrasi penuh pada anak dengan mengalahkan egonya, bahkan orangtua yang mengagungkan mistis, upaya-upaya irasional pun ditempuh.

Ujian nasional seolah-olah hal yang luar biasa. Gagal dalam ujian dipahami berdampak pada kehancuran masa depan, menjadi madesum (masa depan suram), sementara itu keberhasilan dalam ujian dibayangkan dapat mengantarkan kehidupan masa depan yang gilang-gemilang. Ini kesalahan, yang membebani pikiran banyak orang. Ujian itu bukan malaikat pencabut nyawa. Kita lihat ujian itu sebagai fase pendidikan yang lumrah. Tidak otomatis yang gagal ujian itu gagal dalam hidup, sebaliknya yang lulus ujian pasti sukses dalam hidup. Banyak, kok, yang mengulang ujian karena gagal saat ujian utama, di kemudian hari sukses dalam hidup.

Oleh karena itu, menghadapi ujian nasional diumpamakan saja seperti saat hendak menerima hadiah ulang tahun. Atau pun kalau dalam maind set Anda ujian benar-benar telah menyerupai malaikat pencabut nyawa, maka seharusnya Anda menyongsongnya seperti ketika Anda sebagai pengantin wanita yang menunggu kehadiran pengantin laki-laki yang hendak segera menjemput Anda. Mengapa? Sebab, malaikat pencabut nyawa itu akan mempertemukan Anda dengan Tuhan yang mencipta Anda. Bukankah Anda senang kalau bertemu dengan Sosok yang menciptakan Anda dalam suasana yang nyaman, damai, dan tentram. Hadapi dengan tegar, senyum, dan cinta. Hasrat belajar akan tumbuh serupa rerumputan di musim penghujan.

Kudus, 16/2/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""