Kamis, 18 Maret 2010

BELAJAR DARI KEARIFAN PETANI

Belajar dari Kearifan Petani

Mengisi waktu pagi di hari libur kerja dengan joging mengitari persawahan sungguh menyegarkan badan. Menghirup udara pagi nan bersih membugarkan paru-paru. Mencuci mata yang semalam dipeluk kegelapan dengan beragam keajaiban alam menjernihkan benak. Memerdekakan kaki, tangan, leher, dan kepala bergerak serentak menghangatkan tubuh membuang toksin melalui keringat yang mengucur. Badan menjadi segar merangkai hidup di hari baru yang terus memburu serupa napas yang mengejar kelelahanku.

Akan tetapi, saat di penghujung garis akhir lahan persawahan, tepatnya di lahan tanaman melon, aktivitas joging terhenti. Tertarik untuk menatap lebih dekat keterampilan petani melon yang sedang memberikan perawatan terhadap buah yang ketika ranum rasanya dingin nan manis menggetarkan lidah penikmat itu. Ternyata, terlihat begitu cekat namun lembut jemari-jari tangan petani itu memotong dahan yang tak berguna, mengikat dan menggantungkan bulatan kecil si buah melon itu agar tak dikerikit tikus. Terus saja dilakukan pekerjaan itu secara bergantian berdiri-jongkok menyesuaikan ketinggian letak buah menempel pada batang lunak sepanjang lahan yang ditanami. Tentu melelahkan.

Dengan berharap tak mengganggu kelancaran aktivitas petani itu, saya jongkok di depannya persis di punggung pematang, lumayan dekat, kurang lebih satu meter jarak antarkami. Lantas muncul inisiatif membangun komunikasi demi mengerti tentang keberhasilan petani tersebut dalam budidaya melon. Memang hanya tampak dua petani yang berhasil dalam mengembangbiakkan si bulat manis itu di desa kami, yang akhirnya memberikan kesejahteraan bagi hidup keluarga. Satunya hendak berbagi ilmu melalui tulisan ini.

Awal ikhtiar mau menanam melon ditentang habis-habisan oleh istri. Dikatakan oleh istri tercintanya, tidak usah usaha macam-macam, cukup yang telah berjalan ini saja dilakukan. Demi menjaga kemesraan dengan istri tetap terjamin dan hasrat membudidaya melon tetap terwujud, ditempuhlah jalur tertutup. Maksudnya, agar tidak menyakiti hati istri, untuk mempersiapkan sarana pengembangbiakan melon, semisal bambu dan plastik tebal, pembelian dan penempatan sementara sarana itu meminta pertolongan teman. Jadi akhirnya semua proses berjalan dengan lancar.

Perihal lahan tanam tidak menjadi masalah. Sebab, lahan tanam di daerah kami memang mudah lewat menyewa dengan harga relatif murah, terutama tanah-tanah bengkok desa. Oleh karena itu, ikhtiar yang dilakukan oleh petani, tetangga kami, itu mudah diwujudkan.

Sayang, musim panen perdana, boleh dibilang merugi. Tanam 2000 tuai 1500. Konsekuensi yang dialami adalah dimarahi oleh istri, apalagi awalnya istri memang tidak diberi tahu. Meski mengalami kegagalan, petani itu tidak patah arang. Dengan tetap tanpa sepengetahuan istri, ia berusaha untuk kali yang kedua. Hasilnya, menanam 2000 bisa menuai 2000. Istri kembali marah walau tak seseram yang perdana. Akan tetapi, realitas itu mengisyaratkan bahwa ada perubahan ke arah baik meski belum memberi keuntungan. Kondisi demikian dimanfaatkan secara cerdik untuk menanam kali yang ketiga. Hasilnya fantastis sebab menanam 2500, memetik 5000. Mulai merasakan ada hasil yang menggembirakan. Oleh karena itu, musim tanam berikutnya jumlah benih ditambah, yakni 3000 dan ternyata dapat menghasilkan 7000. Luar biasa.

Itu semua berkat sebuah perjuangan yang tidak pernah mengenal lelah. Tidak takut menghadapi risiko yang mungkin terjadi. Menempuh cara-cara cerdik agar tetap ada keteduhan batin dan hubungan dengan siapa pun tetap terjaga. Ada upaya terus-menerus belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah teralami. Ketekunan yang tak pernah mengendor sebagai napas panjang memperteguh langkah demi merengkuh hidup. Inilah kearifan petani dalam menjalani kehidupan yang penuh inspirasi.

Pagi itu, saya tak hanya menemukan kesegaran badan yang mampu memunculkan energi-energi positif demi pengembangan diri, tetapi merengkuh keelokan tatanan hidup rapi dan teratur yang melahirkan keberanian untuk menjalani hidup yang niscaya penuh tantangan liku-berliku ini.

2 komentar:

  1. sebuah pengalaman yang menarik. kalau semua petani memiliki jiwa enterpreneurship seperti itu, wah, dijamin negeri agraris ini bakalan subur makmur. mantab.

    BalasHapus
  2. Beberapa waktu setelah perjumpaan saya dengan petani tersebut, saya bertemu dengan petani yang satunya lagi terus kami berwawanbicara. Ternyata, di desa kami itu telah memiliki kelopok tani, namanya "Jati Makmur". Setiap awal menjelang masa tanam ada semacam penyuluhan dari PPL. Dan, ketika saya tanyakan lebih jauh lagi, di dalam kegiatan itu terjadi sebuah proses pembelajaran yang jika dimanfaatkan oleh semua petani secara maksimal, tentu akan dapat mengangkat harkat mereka sebagai manusia utuh yang memiliki posisi tawar dalam berkiprah.

    BalasHapus

""