Kamis, 25 Maret 2010

Dalam UASBN, Membantu Berarti Membunuh Karakter

Dalam UASBN, Membantu Berarti Membunuh Karakter

Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) telah dipahami oleh sebagian besar masyarakat sebagai filter penentu peserta didik merengkuh kesuksesan atau kegagalan di masa depan. Oleh karena itu, muncul pemahaman: lulus UASBN berarti berpeluang sukses di masa depan karena dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sementara itu, tidak lulus UASBN berarti membangun fondasi kegagalan. Benarkah? Tentu tidak sepenuhnya benar. Yang benar adalah lulus UASBN -tentu dengan nilai yang baik- akan mempermudah memilih sekolah berikutnya. Tidak perlu bersusah-susah seperti yang umumnya dialami oleh peserta didik yang tidak lulus -atau tepat dikatakan ”belum” lulus karena pada akhirnya kemungkinan besar lulus kalau mengikuti ujian ulangan.

Sukses di masa depan sebetulnya tidak cukup bersyarat lulus ujian, tetapi yang lebih penting justru memiliki daya juang tangguh dan pintar membaca peluang yang ada. Jelas ini tidak terkait dengan lulus atau tidak lulus UASBN. Akan tetapi, terkait dengan sikap pantang menyerah, tidak putus asa, dalam menghadapi kesulitan dan memiliki kreativitas tinggi.

UASBN yang hanya mengunggulkan beberapa mata pelajaran jelas tidak mampu merangkum seluruh potensi unggul yang dimiliki peserta didik. Potensi unggul peserta didik yang begitu beragam, yang ada di luar mata pelajaran UASBN belum dipandang penting turut menentukan lulus atau tidak oleh pengambil kebijakan. Kita tahu meskipun peserta didik terampil bermain musik, misalnya -yang jika dibina berprospek, tetapi satu saja mata pelajaran UASBN tidak memenuhi kriteria kelulusan, peserta didik itu tidak lulus.

Kenyataan itu yang menjadikan peserta didik, sekolah, dan orangtua berusaha mati-matian untuk dapat lulus. Karenanya tidak menutup kemungkinan menempuh cara-cara kurang baik. Misal, peserta didik yang kurang mampu dalam mata ujian tertentu saat ujian berlangsung ”dibantu” oleh peserta didik lain yang mampu. Masih segar di ingatan kita bahwa ujian tahun kemarin -semoga di tahun ini UASBN tidak bocor dan kalaupun telah ada pemberitaan biarlah hanya sekadar isu- di beberapa daerah diberitakan bocor dan karenanya harus diulang. Siapa pun yang melakukan perbuatan demikian, jelas tidak menguntungkan. Justru sebaliknya merugikan karena berarti melakukan pembunuhan karakter peserta didik.

Betapa tidak. Ke depan, peserta didik yang ”dibantu” tentu tidak akan menjadi pribadi yang memiliki daya juang tangguh dalam berkompetisi, baik di pendidikan berikutnya maupun di bursa kerja kelak. Selalu akan menggantungkan kepada orang lain. Kehilangan sikap percaya diri. Tidak memiliki inisiatif. Bahkan bisa-bisa mengambil ”jalan belakang” untuk melicinkan segala urusan. Itu semua menandakan bahwa sebuah karakter tidak bertumbuh.

Peserta didik yang memberi bantuan, sadar atau tidak, sebetulnya telah menjerumuskan peserta didik yang ”dibantu” itu masuk ke dalam jurang kegelapan mental. Dalam rentang waktu pendek seakan dapat ”melepaskan” peserta didik yang terbantu dari cengkeraman kekhawatiran/ketakutan, tetapi sebenarnya semakin mengekalkan ketakberdayaannya dalam rentang waktu yang tak terhingga. Artinya, sungguh besar peran peserta didik yang membantu membebalkan peserta didik terbantu. Demikian juga yang teralami peserta didik terbantu jika sekolah dan orangtua menempuh cara yang salah.

Bisa saja peserta didik terbantu memperoleh nilai tak hanya sebatas memenuhi kriteria kelulusan, tetapi jauh melampaui nilai itu. Jika nilai yang diperoleh itu, pada mata ujian yang sebenarnya dia tidak mampu, justru akan memberi beban psikologis. Apalagi kalau nilai yang diperoleh itu melampaui nilai peserta didik yang tergolong pandai, tentu semakin membebani. Sebab, dipastikan banyak peserta didik lain tidak simpati.

Peserta didik terbantu juga akan mengalami kebingungan saat mendaftar ke jenjeng pendidikan yang lebih tinggi. Di satu sisi, kalau mendaftar di sekolah yang berada di grade menengah ke bawah -karena dia merasa tidak mampu sekolah yang masuk grade atas- mungkin akan memancing pertanyaan ”mengherankan” dari sekolah yang dituju; di sisi lain, kalau mendaftar di sekolah grade menengah ke atas tentu tak ada nyali.

Di samping berdampak mengganggu pertumbuhan karakter seperti di atas, memberi bantuan dengan cara memberi "kunci jawaban" atau dengan cara apa pun -dalam UASBN, termasuk dalam ulangan harian- juga melanggar hukum formal karena tergolong upaya manipulatif. Memberi bantuan jauh-jauh hari sebelum ujian/ulangan berlangsung, semisal memberi motivasi, memfasilitasi buku-buku yang dibutuhkan, dan membangun diskusi-diskusi dalam pembelajaran, sangatlah dianjurkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""