Rabu, 10 Maret 2010

DI SAAT KRISIS, KARAKTER TERKUAK

Di Saat Krisis, Karakter Terkuak


Sudah menjadi rahasia umum ketika waktu masih demikian longgar, orang dapat tampil begitu sempurna. Halus berperilaku, lembut bertutur kata, tenang berpembawaan, dan kekudusan seolah-olah melingkupi diri sepenuhnya.

Demikian juga yang dialami oleh peserta didik saat-saat jam awal mengerjakan soal ulangan di sekolah. Mereka terlihat tenang dan tentram karena konsentrasi penuh pada lembar-lembar soal yang tergelar di hadapan mereka. Tidak tampak satu pun peserta didik yang menengok ke kiri, ke kanan, atau ke arah lain demi mencari pertolongan kepada teman karena mengalami kesulitan menjawab soal. Mereka demikian khusuk mencari jawab, membuka-buka memori masing-masing. Yang terlihat hanya mata mereka berkedip-kedip seperti hendak mengundang ilham, inspirasi, dan ingatan yang terbang kian kemari. Keteduhan benar-benar terpancar dari aura mereka.

Akan tetapi, begitu tanda-tanda waktu hendak berakhir, yang sering terlihat, banyak di antara mereka, peserta didik, mulai gelisah. Tidak tenang. Gerak bola mata tak lagi berkedip-kedip, tetapi meloncat sana meloncat sini mencuri-curi peluang untuk mencontoh jawaban teman.

Dalam situasi seperti ini karakter-karakter sebenarnya mulai terkuak. Akan terpilah mengarah kedua arus, paling tidak. Pertama, karakter yang teguh. Sedarurat apa pun, pemilik karakter ini tak akan goyah. Ia tetap teguh memegang prinsip kejujuran, kemandirian, dan pantang menyerah. Pemilik karakter ini lebih religius sehingga kalau telah berusaha keras yang dilandasi kejujuran dan kemandirian, diyakini keberhasilan atau kegagalan berpulang kepada Sang Khalik. Ada sikap berserah, bukan menyerah.

Kedua, karakter semu. Begitu memasuki situasi krisis, pemilik karakter ini akan mudah berubah. Tidak memiliki pendirian kuat dalam mengambil keputusan. Nyaris tak memiliki kepercayaan diri. Mudah patah arang manakala memasuki kesulitan. Sering salah mengambil langkah. Pemilik karakter ini lebih mengandalkan ego manusia dan karena itu kurang memiliki sikap berserah, tetapi mudah menyerah. Di arus manakah peserta didik kita dan kita saat ini berada?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""