Minggu, 07 Maret 2010

GURU DI BALIK PR PESERTA DIDIK

Guru di Balik PR Peserta Didik

Pekerjaan rumah (PR) sepanjang tak melebihi dosis masih dipandang penting untuk peserta didik. Untuk menjaga kestabilan belajar peserta didik. Sebab, banyak orangtua/wali murid melaporkan bahwa anaknya tidak belajar hanya karena tidak ada PR dari guru. Akan tetapi, disadari atau tidak, hingga kini, masih sering dijumpai peserta didik yang tidak mengerjakan PR. Kalau toh mengerjakan, tak jarang peserta didik mengerjakan di sekolah bukan di rumah. Perilaku menyimpang tersebut dipilih boleh jadi karena peserta didik hendak mengambil jalan yang termudah, yaitu mencontoh PR teman.

Mencontoh PR teman, satu peserta didik dengan peserta didik yang lain, belum tentu beralasan sama. Artinya ada beragam faktor yang melatarbelakangi tindakan negatif –dikatakan tindakan negatif karena hanya menggantungkan kepada orang lain, yang menjadikan potensi diri tidak berkembang- tersebut. Pertama, sikap malas. Sikap malas ini serupa penyakit yang telah mewabah ke pelbagai area, baik di masyarakat, di kantor, maupun di sekolah. Menimpa seluruh lapisan usia, baik dewasa, pemuda-remaja, maupun anak-anak –laki-laki dan wanita. Entah hal demikian telah menjadi budaya atau sekadar penyakit musiman.

Akan tetapi, yang jelas fenomena orang malas di tanah pertiwi ini dapat ditemukan di mana-mana dan kapan saja. Bahkan ada semacam labelisasi sosial bahwa orang Jawa lebih rajin jika dibanding dengan orang Kalimantan, tetapi orang Jawa lebih malas kalau dibanding dengan orang Madura, demikian juga etnis China lebih cekatan dan terampil apabila dikomparasikan dengan penduduk pribumi. Maka menjadi wajar jika kini banyak etnis China kaya raya di bumi Indonesia dan tak terhitung jumlah pribumi miskin di tanah sendiri.

Sikap malas yang menguasai warga bangsa ini dicurigai sebagai warisan kolonial, yang sengaja membangun karakter inlander menjadi manusia yang hidup cukup bergantung pihak lain. Dan, realitas itu hingga kini tetap mengental di gerak hidup bangsa Indonesia. Buktinya, sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan perusahaan strategis dikelola asing, kita cukup menjadi buruh dan konsumen. Hobi meminjam dengan bunga lunak dari bank asing seakan telah menjadi napas yang memperpanjang hidup negeri ini. Sikap malas yang meraja dalam diri peserta didik boleh jadi memang merupakan warisan leluhur yang telah mendarah daging itu.

Kedua, lupa, yang sering dipakai peserta didik sebagai alasan yang jitu. Kalau peserta didik telah mengatakan ”lupa” atas keteledorannya tidak mengerjakan PR, guru sering sekadar menasihati, ”Kali lain jangan lupa!”. Meskipun tak jarang ditemukan juga alasan yang sama di waktu-waktu kemudian. Peserta didik yang terbiasa demikian cenderung suka meremehkan sesuatu. Memandang sesuatu tak ada yang lebih penting sehingga tidak perlu ada perhatian khusus, termasuk PR baginya bukan sesuatu yang penting. Oleh karena itu, tidak perlu dipikirkan. Tanpa ada beban untuk mau mengerjakan PR.

Saya kadang berkelakar kepada peserta didik yang lupa mengerjakan PR dengan mengatakan bahwa ”lupa” adalah sebagai sebuah penyakit. Penyakit yang sulit dicarikan obatnya di apotek-apotek. Dokter spesialis penyakit lupa sepertinya juga belum ada. Jadi, satu-satunya solusi yang mujarab adalah diri sendiri. Suntikkan obat antilupa niscaya tumbuh ingatan yang tahan lama. Mendengar kelakar demikian, spontan ruang kelas menjadi riuh.

(Jangan-jangan ”lupa” itu memang benar-benar penyakit, yang diakibatkan oleh beragam makanan yang mengandung penyedap rasa, yang memang sebagai makanan favorit anak-anak. Lazimnya, kalau sudah makan makanan demikian, anak kurang memiliki nafsu makan hidangan yang disajikan orangtua, yang tentu mengandung gizi terukur. Akibat yang timbul, anak tidak sehat. Banyak bagian jaringan tubuh mereka tidak berfungsi maksimal. Sadarkah kita bahwa lewat makanan bangsa ini sebenarnya terjajah oleh kekuatan pasar asing? Sebab, penyedap rasa dan sejenisnya sebenarnya milik penguasha asing yang dibiarkan berbiak di negeri kita ini.)

Ketiga, tidak memiliki buku, yang dimaksudkan adalah buku teks/paket. Jumlah buku teks/paket untuk peserta didik di banyak sekolah cenderung kurang. Wajar jika diberlakukan satu buku untuk dua atau lebih peserta didik. Kondisi ini tentu sungguh mengganggu keberlangsungan pembelajaran karena tidak semua peserta didik leluasa memanfaatkan buku. Meskipun sebenarnya antarpeserta didik dapat mengelola pemakaian buku tersebut secara berganti-ganti menurut pembagian waktu yang proporsional. Harapannya dengan bergilir membawa buku, semua PR atau tugas -kalau kebetulan PR/tugas itu diambil dari buku teks/paket- yang diberikan dapat dikerjakan. Memang perlu saling pengertian antarpeserta didik. Jangan ada yang mementingkan ego pribadi. Sikap solidaritas antarpeserta didik perlu digairahkan.

Agar kebutuhan buku teks/paket terpenuhi di tiap-tiap peserta didik, sekolah wajib menyediakan buku tersebut. Satu-satunya jalur yang berpeluang bisa ditempuh adalah peruntukan uang BOS buku harus sebenar-benarnya sesuai dengan petunjuk teknis. Kalau pun peruntukannya sesuai petunjuk teknis, belum tentu kebutuhan peserta didik akan buku dapat terpenuhi karena memang dana BOS buku terlalu kecil. Bayangkan, kalau ada biaya ini-itu yang tidak jelas pertanggungjawabannya yang harus diambilkan dari dana BOS buku itu juga, betapa lebih kecil lagi anggaran untuk buku demi menjungjung harkat peserta didik.

Keempat, tidak bisa. Sering peserta didik mengakui ketidakbisaan mengerjakan PR/tugas itu justru saat PR/tugas itu dibahas dan karenanya ia tak mau disuruh mengerjakan di papan tulis di hadapan banyak teman. Yang disayangkan adalah ketidakbisaan itu kok tidak diakui sejak semula, tatkala guru masih menjelaskan materi itu. Tentu saja sangat menolong apabila pengakuan ketidakbisaan itu masih di sepanjang waktu guru menjelaskan. Sebab, hal demikian akan bermanfaat juga bagi peserta didik lain yang belum menguasai materi tersebut. Ini sangat efektif bagi guru untuk menjelaskan karena tidak untuk satu tetapi semua peserta didik.

Meskipun tidak seluruhnya benar, namun dapat diduga bahwa peserta didik yang tidak mengerjakan PR/tugas dengan alasan ”tidak bisa” termasuk peserta didik yang pasif, atau malah tak acuh. Mengapa? Karena tidak ada keinginan untuk bisa. Tidak ada usaha sama sekali. Akan tetapi, tidak mengerjakan PR/tugas dengan alasan ”tidak bisa” itu boleh jadi juga karena memang kemampuan peserta didik berpikir rendah. Kalau memang demikian adanya, guru harus memperhatikan dan mendampingi secara khusus. Dan, justru di sinilah profesionalisme guru itu dipertaruhkan. Mau memperhatikan dan mendampingi secara khusus terhadap peserta didik yang lemah itu atau tidak. Jadi berjiwa guru atau tidak, akan terlihat di sini.

Dan, rasanya kurang adil juga jika memperbincangkan hal di atas tidak banyak menyinggung peran guru. Sebab, jangan-jangan justru guru yang menyebabkan banyak peserta didik tidak mengerjakan PR/tugas. Guru perlu introspeksi diri. Sudahkah memberikan PR/tugas sesuai dengan keberadaan peserta didik? Sudahkah guru membahas PR/tugas itu dengan baik? Apakah PR/tugas itu kelak menjadi nilai tambah bagi peserta didik? Apakah guru sudah memberi apresiasi PR/tugas peserta didik cukup terbuka? Buah dari renungan atas pertanyaan-pertanyaan itu semoga dapat memberi pencerahan agar ke depan keberlangsungan pendidikan semakin bermutu.

Saya justru mencurigai sikap guru yang tidak profesionallah yang menyebabkan peserta didik tidak mengerjakan PR/tugas. Betapa tidak. Kini masih banyak di kalangan guru dijumpai guru memberi PR/tugas, namun tidak ada tindak lanjut yang jelas. Maksudnya, PR/tugas itu tidak dicocokkan, apalagi dibahas. Sebaliknya dibiarkan begitu saja. Atau paling tidak sekadar mencoretkan paraf tanpa koreksi serius atas hasil kerja peserta didik. Asumsi bahwa semua peserta didik dapat mengerjakan sehingga tidak perlu dicocokkan atau dibahas merupakan tindakan keliru. Tindakan ini tentu membuat peserta didik kurang bisa menerima. Kerja mereka butuh apresiasi guru.

Awalnya bisa saja peserta didik rajin mengerjakan. Akan tetapi, kalau kenyataan yang ditemui peserta didik ketika harus mempertanggungjawabkan PR/tugas di depan guru selalu tidak sesuai dengan harapan -karena tidak dicocokkan atau dibahas, misalnya- maka wajar kalau lambat laun peserta didik acuh terhadap PR/tugas dari guru. Kalau demikian adanya, guru jangan menyalahkan peserta didik. Menyalahkan diri-sendiri sebagai sebuah keputusan tepat, namun perlu diikuti perubahan sikap baik. Guru wajib memperhatikan penuh atas jerih lelah peserta didik. PR/tugas yang diberikan dan telah dikerjakan peserta didik harus diapresiasi, dihargai, secara selektif. Jangan sampai di antara peserta didik ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan karena penghargaan itu.

Saya yakin, kalau guru memberi perhatian atas jerih lelah peserta didik secara terbuka dan proporsional, maka beberapa sikap kurang baik pada diri peserta didik -seperti malas, lupa, tidak bisa, dan alasan lain sehingga tidak mengerjakan PR/tugas, misalnya- dapat dieliminasi. Proses pembelajaran yang berarti sungguh kita jumpai. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""