Selasa, 16 Maret 2010

GURU HARUS MENJUNJUNG KESETARAAN

Guru Harus Menjunjung Kesetaraan

Sepulang sekolah, saat saya sedang duduk-duduk sembari membaca lembaran artikel pendidikan, anak kami yang masih kelas enam SD, tiba-tiba turut duduk di samping saya. Awalnya saya memang tidak merespon kemunculannya itu, tetapi ketika ia mulai mengajak saya untuk terlibat dalam kegelisahan pikirannya, saya menghentikan aktivitas membaca. Berpaling penuh pada serentetan omongan putri pertama kami ini.

Saya mengabstraksikan perihal yang dikeluhkan. Ada beberapa guru di SD tempat ia bersekolah memberikan perhatian tidak sama terhadap semua peserta didik, alias pilih kasih. Perlakuan pilih kasih itu ditandai, ada guru yang setiap mengajar di kelas sering berada dekat dengan salah seorang anak saja, tidak dengan anak lain. Ada guru yang lebih banyak melayani pertanyaan seorang anak secara pribadi, tanpa mengacuhkan anak lain yang sebetulnya juga membutuhkan penjelasan. Ada guru yang memberi nilai kepada anak tidak sepadan dengan kompetensi yang dicapai. Ada guru yang memberi perhatian kepada anak saat hanya menang lomba, selang beberapa waktu sikap baik itu hilang melayang (ini yang dirasakan sendiri oleh anak kami, pengakuannya di depan saya). Di saat rekreasi, ada seorang guru yang begitu peduli menolong salah seorang anak karena muntah-muntah, tetapi kurang berminat ketika ada anak lain yang mengalami kasus serupa.

Ternyata peserta didik tertentu yang menerima perlakuan istimewa itu. Yakni, mereka yang dipandang memberi kontribusi secara khusus pada sekolah, juga kepada beberapa guru yang memang memiliki pamrih secara pribadi. Umumnya, mereka, anak-anak yang memiliki kelebihan, semisal kecerdasan/keterampilan, anak orang kaya, dan anak pejabat. Akan tetapi, anak kami memberi kesaksian -tentang salah satu teman sekelasnya yang terpintar- bahwa anak yang memiliki kecerdasan lebih ternyata tidak mesti mendapat perlakuan khusus karena kesombongan anak itu, sombong kepada teman dan guru. Yang begitu kentara mendapat perhatian lebih adalah mereka, anak-anak orang kaya dan pejabat. Bahkan, anak kami menceritakan pengalaman pribadinya betapa ada temannya yang dikasihi oleh salah seorang guru karena guru itu menerima bingkisan.

Meskipun dalam kasus berbeda, kenyataan demikian banyak dijumpai di sekolah lain, baik di jenjang pendidikan dasar maupun menengah. Hal yang sering menjadi buah bibir di kalangan orangtua/wali murid dan beberapa guru adalah adanya perlakuan berbeda terhadap peserta didik yang les dan tidak. Peserta didik yang les cenderung memperoleh nilai lebih tinggi dibanding dengan yang tidak les meskipun kompetensi keilmuan sehari-hari berada di bawah peserta didik yang tidak les, atau paling tidak mendapat nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) walaupun sejatinya belum mencapai ketuntasan.

Suatu ketika saya memang pernah bertanya kepada teman, seorang guru, di sekolah lain yang memberikan les karena mata pelajaran yang diampu momok bagi peserta didik tentang bagaimana sikap beliau terhadap peserta didik yang les dan tidak. Beliau jujur mengatakan kepada saya bahwa tidak dapat bersikap objektif. Artinya, peserta didik yang les diberi perlakuan khusus, termasuk pemberian nilai sedangkan yang tidak diperlakukan apa adanya.

Diakui atau tidak, sikap pilih kasih -atau katakan saja pemberian perlakuan kurang adil- ini sungguh berdampak tidak baik, pertama, bagi peserta didik. Di kalangan peserta didik yang kurang mendapat perhatian tentu akan membangun komunitas sendiri sebagai kelompok yang terabaikan. Kalau jumlah mereka banyak tentu masih memiliki kekuatan moral untuk tetap menjaga stamina batin dalam mengikuti keberlangsungan pembelajaran di sekolah dan mereka akan tetap ”mempergunjingkan” teman-teman yang mendapat perhatian khusus. Akan tetapi, kalau jumlah mereka sedikit, komunitas terabaikan yang terbentuk tentu kurang -untuk tidak menggunakan kata ”tidak”- memiliki kekuatan moral untuk tetap menjaga stamina batin dalam mengikuti keberlangsungan pembelajaran dan karenanya menjadi rendah diri, yang bolah jadi mengantarkan ke pintu kemerosotan kemampuan/keterampilan.

Di kalangan peserta didik yang mendapat perhatian istimewa, dapat saja bersikap tinggi hati. Mereka akan membangun komunitas eksklusif, yang tidak acuh pada kelompok lain. Mereka cenderung bersikap tertutup karena mungkin ada hal-hal khusus dari guru yang memang harus disembunyikan untuk konsumsi sendiri. Mereka lebih bersifat menggantungkan. Tidak memiliki keberanian mandiri. Tidak mungkin mempunyai inisiatif orisinil. Jadi, ketahanan mereka hanya terbatas dalam waktu pendek sejauh ada pihak yang ”bergerak” di belakang mereka.

Dampak ikutan yang muncul adalah situasi pembelajaran tidak nyaman. Sebab, ada kelompok-kelompok tak sepaham. Satu dengan yang lain tidak dapat dibangun ke dalam komunikasi yang baik. Bahkan, akan ada sikap pilih ini-pilih itu. Ada upaya pembedaan satu dengan yang lain. Jelas kondisi ini akan sangat memperkeruh proses pembelajaran, tidak menguntungkan siapa pun juga.

Kedua, bagi citra guru. Gambaran guru sebagai sosok berprofesi agen pembangun peradaban bangsa jelas memudar di kalangan peserta didik, orangtua/wali murid, bahkan di masyarakat umum. Guru yang seharusnya memiliki kepedulian serupa terhadap semua peserta didik untuk membawa mereka membangun bangsa ini lebih baik secara bersama, justru membenihkan perpecahan di antara mereka. Di mata peserta didik yang kurang diperhatikan, jelas guru yang demikian tidak dihargai. Tidak menjadi inspirasi bagi mereka. Bahkan menjadi perintang kemajuan mereka dalam mengikuti pembelajaran. Di mata peserta didik yang diperhatikan pun, guru yang demikian tak akan mengesan baik dalam waktu lama. Selama mereka masih ada ikatan dalam arti peserta didik sebagai objek dan sang guru sebagai subjek, gambaran itu akan tetap baik nan jernih. Akan tetapi, begitu ikatan itu telah putus, maka gambaran yang semula baik nan jernih itu akan berubah menjadi kusam. Guru yang bersangkutan tidak lagi dihargai. Kalau pun dihargai, itu hanya sebatas lahir, batin tidak, sesuai ungkapan konyol ini dari depan disanjung dari belakang ditendang. Gambaran serupa tentu terjadi juga di mata orangtua/wali murid dan masyarakat umum.

Ketiga, bagi citra sekolah. Dampak secara karambol akan dirasakan oleh sekolah. Betapa tidak. Sang guru -sebagai penggerak dinamika sekolah- yang telah bersikap kurang profesional itu tentu akan menyeret sekolah menjadi kurang profesional sebagai ”kawah candradimuka” pencetak pemegang masa depan bangsa. Kondisi ini akan membuat masyarakat (baca: orangtua/wali murid) ”alergi” untuk menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah tersebut. Atau paling tidak menjadi sekolah pilihan yang ke sekian, setelah buah hati mereka tidak diterima di sekolah idaman. Memprihatinkan.

Kalau diabaikan, dampak negatif itu tentu akan membawa bangsa ini ke jurang keterpurukan yang semakin dalam. Sebab, sejak awal di sekolah telah diciptakan sikap-sikap kurang mendidik. Beberapa guru kurang dapat mengutamakan nilai-nilai kebersamaan dan kesetaraan. Peserta didik akhirnya terimbas sehingga membentuk kelompok-kelompok tertentu, yang tak jarang saling bertentangan. Jelas itu semua akan memperparah ”sakit” bangsa ini.

Tentu tidak ada satu pun orang beradab yang menginginkan bangsa ini semakin terpuruk. Yang dinginkan adalah kebangkitan dalam segala aspek kehidupan berbangsa. Oleh karena itu, perlu dilahirkan niat baik semua pihak, terlebih guru yang memang pemegang obor penerang bangsa. Bersikap sama terhadap semua peserta didik tanpa melihat latar belakang dan tendensi tertentu akan membawa peserta didik ke ranah peradaban yang sungguh mulia.

4 komentar:

  1. payah juga kalau perlakuan diskrimatif seperti itu masih saja terjadi di dunia pendidikan, mas. sekarang sudah saatnya meninggalkan cara2 kuno seperti itu, termasuk diskriminatif dalam soal gender.

    BalasHapus
  2. Kenyataan itu hingga kini masih dapat dijumpai di banyak sekolah, Pak. Sebab, ternyata masih banyak juga guru yang kurang dapat menjalani hidup secara sederhana sehingga tak jarang tega mengkhianati kemurnian hati nurani untuk memenuhi hasrat "kenikmatan hidup". Terima kasih. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. mantep om blognya dan juga isinya..
    lanjatkan terus,semoga bermanfaat bagi semua..

    BalasHapus
  4. Terima kasih. Jangan terlalu memuji, ah, masih dalam taraf belajar. Masih "hijau" dan karena itu perlu bimbingan dari ahli komputer, seperti dirimu. Salam sejahtera.

    BalasHapus

""