Kamis, 11 Maret 2010

MENGHARGAI ARGUMENTASI SI KECIL

Menghargai Argumentasi Si Kecil

Anak kami yang kedua, yang masih berusia dua tahun, menangis saat kami hendak berangkat kerja hari ini. Tangis anak kami ternyata memuat argumentasi yang terus dipertahankan.

Ceritanya begini. Keponakan kami yang tinggal serumah dengan kami baru saja memperoleh kiriman sepeda motor untuk aktivitas kuliah. Meski tidak baru, tetapi sepeda motor tersebut mengesan di benak anak kami yang masih kecil itu karena ternyata kemarin saat diantar oleh ibunya ke rumah yang momong seperti biasa setiap kali kami bekerja, naik sepeda motor yang baru 2X24 jam menginap di rumah kami itu.

Dan, ketika pagi keponakan kami mau mengeluarkan sepeda motornya, si kecil memberontak melalui tangisnya agar sepeda motor itu tidak dibawa. Buktinya, manakala tetap hendak dikeluarkan, tangis si kecil semakin pecah.

Untung ibunya cepat tanggap. Kepokanan kami akhirnya disuruh berangkat kuliah menaiki sepeda motor kami yang lebih baik kalau dibandingkan dengan sepeda motor keluaran tahun 2000-an itu. Dalam hitungan detik, pecah tangis si kecil lantas berhenti dan berubah ceria meloncat-loncat serupa menerima jajan kesukaannya.

Saya baru menyadari bahwa meskipun masih kecil, balita, anak telah memiliki pendapat -walau lewat tangisan- yang juga harus dihargai. Secara arif, menghargai argumentasi si kecil yang masih berupa tangisan itu semata-mata bukan supaya si kecil tak menangis lagi, tetapi yang lebih penting adalah memberi ruang agar keberanian secara terbuka dalam mengemukakan argumentasi itu terus terpupuk. Pendapat anak biar tidak terbelenggu. Buah pikiran si kecil biar tidak terkebiri. Dengan demikian, kita, sebagai orangtua, telah mengembangkan potensi positif dalam diri anak.

Pemberian sikap menghargai itu, bukan berarti orangtua kalah dalam adu argumentasi dengan si kecil. Justru yang ada kemenangan bagi kedua-duanya karena orangtua membangun kearifan diri, si kecil memperolah ruang dalam menumbuhkan keberanian berargumentasi. Mari menjadi orangtua yang arif, menghargai perilaku se kecil yang sering memancing emosi.

2 komentar:

  1. wah, tulisan yang sangat bermanfaat dari sisi perkembangan anak, pak. itu artinya, orang tua mesti bisa menangkap argumen anak lewat gerakan2 kinestetiknya.

    BalasHapus
  2. Benar, Bapak. Ternyata sudah sekian lama menjadi orangtua, baru pagi itu saya sadar bahwa perlu merespon secara positif setiap argumen si kecil -lewat apa pun saja- yang sering membuat orangtua gerah-marah . Sebab, ternyata dari sisi psikologi perkembangan akan sangat menolong si kecil tumbuh kembang secara maksimal. Terima kasih. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""