Sabtu, 13 Maret 2010

MENGHARGAI ORANG LAIN

Menghargai Orang Lain

Kalau tidak kami ingatkan, anak kami yang pertama, kelas enam SD, sering lupa menyembunyikan kebiasaan buruk bagi telinga dan perasaan orang lain ketika makan bersama. Kebiasaan buruk itu adalah makan dengan mengeluarkan bunyi kecap, ”cap-cap-cap”. Bagi orang lain perilaku demikian saat makan memang sungguh mengganggu apalagi ketika berada di tengah orang-orang yang bertata krama tinggi, karena tidak hanya menimbulkan kerenggangan kekerabatan, tetapi dapat juga mengurangi nafsu makan. Akan tetapi, bagi anak kami -memang belum pernah kami tanyakan apakah makan dengan gaya demikian itu menambah nikmat atau tidak- agaknya justru lebih bisa menikmati. Alasan inilah yang rupanya sering menyulitkan dirinya untuk menghilangkan atau paling tidak menyembunyikan kebiasaan buruk tersebut.

Dua sisi yang kontradiktif menyembul dari fenomena tersebut. Pertama, cukup untuk kepentingan diri sendiri agar merasa terpuasi. Artinya, tidak mempertimbangkan kepentingan orang lain karena dengan demikian akan mengorbankan kepentingan pribadi. Lebih mengutamakan diri sendiri tentu segala kenikmatan pribadi akan mudah tereguk seperti kenikmatan kelompok elite politik tertentu yang hanya memikirkan keperluan politik golongannya. Dapat berpesta foya memenuhi keinginan. Akan tetapi, cara-cara tak santun pun tak jarang ditempuh. Mengabaikan tata krama, norma-norma, dan hukum-hukum yang ada.

Kedua, menempatkan kepentingan orang lain agar orang lain turut juga merasakan kenikmatan. Ini jelas membutuhkan keikhlasan diri untuk mau mengorbankan kenikmatan pribadi. Berusaha menghambat-hambat gejolak diri yang ingin muncul. Sebuah ikhtiar yang memang harus diperjuangkan. Sebab, tanpa perjuangan benteng-benteng yang menghambat itu akan runtuh juga ketika keinginan pribadi mendesak-desak kuat. Dan, yang penting untuk dimengerti, dalam hal demikian sering kegetiran, kebencian, kepiluan, dan duka lara menyertai dan karenanya dibutuhkan ketabahan serta keteguhan diri.

Akan tetapi, efek positif akan dapat direngkuh tatkala seseorang dapat menyembunyikan bahkan menghilangkan kebiasaan buruk apa pun, termasuk kebiasaan makan berkecap saat bersama banyak orang -bukan berarti saat makan sendirian boleh berkecap. Tidak hanya menyediakan ruang bagi orang lain agar dapat menikmati keadaan senikmat mungkin, tetapi juga membuka benak dan otak orang lain untuk mau semakin lekat membangun hubungan dengan kita. Dan, dengan demikian tergelar peluang bagi kita untuk saling berbagi secara terbuka tentang suka duka kehidupan kita. Ini yang saya hembuskan ke telinga batin putri kami, tentu dengan bahasa yang lebih akrab seakrab air pancuran dengan gemericik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""