Jumat, 19 Maret 2010

MENOLONG, PERLU MEMBACA KEKUATAN SPIRIT

Menolong, Perlu Membaca Kekuatan Spirit

Salah seorang rekan guru bercerita tentang kejadian sederhana di rumahnya. Begini. Bersama dalam satu keluarga itu tinggal seorang nenek. Sudah tua. Meski sudah pernah stroke, kondisi badan masih terlihat sehat. Hanya untuk menyangga penuh tubuhnya memanfaatkan kursi roda karena kekuatan kedua otot kakinya telah melemah. Setiap hari masih berhasrat melakukan aktivitas, terutama yang terkait dengan kesibukan wanita di ”belakang”. Kadang rekan saya memenuhi hasrat nenek itu secara hati-hati demi melipur lara.

Sebenarnya nenek itu masih dapat turun dari kursi roda sendiri untuk pindah ke tempat lain meski agak sempoyongan. Keberhasilan pindah tempat secara tertatih itu justru membuat cerah wajah keriputnya -seakan-akan berubah muda- karena menjadi kesaksian bagi orang di sekilingnya untuk mengakui bahwa dirinya masih memiliki kemampuan. Akan tetapi, hampir dapat dipastikan setiap orang yang melihat nenek itu bergerak untuk berbuat, merasa tidak tega. Sebab, terbaca gerak napas di dadanya terengah-engah. Pipinya yang meluruh ke bawah bergetar-getar karena badan bergoyang. Meski begitu, dirinya tidak suka diberi pertolongan. Ternyata masih tersimpan kekuatan spirit mandirinya.

Kekuatan spirit itulah yang mungkin tidak selalu terbaca oleh orang lain hanya karena orang lain itu secara emosional jatuh iba. Siapa sih yang mengetahui seorang nenek beraktivitas dengan tubuh tidak teguh membiarkan begitu saja? Tidak tersentuh hati sama sekali untuk membantu? Tentu langsung bersikap menolong. Sikap itu yang dimiliki oleh suami rekan saya. Ketika nenek tercinta hendak turun dari kursi roda, segera anak lelakinya itu mendekat penuh sayang lantas membopong tubuh nenek dari kursi roda. Akan tetapi, ada hal yang kurang beres. Nenek itu bergerak-gerak seolah tidak mau dibopong. Rengkuhan tangan putranya dengan spontan merenggang. Akhirnya nenek terjatuh ke kursi roda. Untung posisinya tetap duduk seperti sediakala. Raut muka terlihat cemberut meski fisik tak tercederai.

Ini mengisyaratkan bahwa si nenek ingin kemerdekaan dalam gerak. Sebab, spirit mandirinya ternyata masih demikian tinggi, yang menuntut setiap orang di dekatnya untuk dapat membaca. Jika tidak dapat membaca kekuatan spirit itu, yang terjadi adalah seluruh potensi positif yang tersimpan di dalam diri akan menjadi tumpul -tidak berkembang dan justru hancur berkeping.

Kenyataan di atas sebetulnya berlaku untuk siapa saja, termasuk peserta didik dalam menghadapi ujian kali ini. Sungguh diperlukan kemampuan membaca kekuatan spirit yang tersimpan dalam diri peserta didik. Perlakuan yang diberikan tidak akan berguna jika kekuatan spirit yang ada tidak diketahui terlebih dahulu. Jangan-jangan perlakuan yang diberikan selama ini justru menjadi perintang untuk berkembang. Bersediakah kita senantiasa membaca kekuatan spirit yang terkandung dalam diri seseorang sebelum kita memberi bantuan?

3 komentar:

  1. Tulisan yang mencerahkan. Mengingatkan pada alm ibu...ya kita harus memahami keinginan orangtua, mereka masih ingin mandiri. Kadang anaknya tak tega melihat ibunya masih capek, mencuci baju...padahal itulah salah satu kegiatan yang menyenangkan. Saya sendiri sudah pensiun, pesan anak-anak juga seperti itu, ibu jangan terlalu lelah, kan kami sudah mandiri, ibu tak perlu kerja lagi....padahal bekerja adalah agar kita merasa tetap hidup dan tak segera pikun.

    Begitu pula kita, sebagai orangtua atau pendidik, harus melatih murid mandiri, tidak manja...sekolah yang memudahkan mendapatkan nilai bagus, akan membuat muridnya tak bersaing di dunia pekerjaan, dan untuk saat ini hal tsb berbahaya. Betapa banyaknya kebutuhan perusahaan yang tak bisa dipenuhi oleh para sarjana baru (saya sebelumnya termasuk assessor...pewawancara), karena sebetulnya anak-anak banyak yang kurang tangguh, tak kuat menghadapi stres, padahal saat bekerja, stresnya tinggi sekali....mis. jika bekerja di dunia Perbankan, Kesehatan dll....kesalahan kecil bisa berisiko tuntutan hukum.

    BalasHapus
  2. Pak, masuknya komentar kok sulit sekali?
    Apa tak bisa pakai cara lain? Karena bisa patah semangat, padahal tulisan di blog bapak bagus.

    BalasHapus
  3. Maaf jika merepotkan Ibu sampai-sampai (mungkin) harus beberapa kali Ibu memposting komentar ke blog sederhana ini baru masuk.

    Tentang "apa tak bisa cara lain?" saya belum mengerti juga sebab saya termasuk manusia sangat baru mengenal blog, Bu. Kalau Ibu memahami tentang yang satu ini justru saya mohom informasi, tetapi saya akan berusaha mencari tahu bagaimana supaya lebih mudah memposting ke blog ini. Terima kasih atas informasi Ibu ini, sungguh berharga buat saya.

    Terima kasih komentar Ibu, yang ternyata melalui komentar itu saya menjadi tahu bahwa rupanya banyak output pendidikan yang kurang tangguh dalam berjuang menghadapi dunia kerja. Doakan saya dan rekan-rekan guru mampu mengawal peserta didik menjadi insan yang tangguh. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""