Minggu, 21 Maret 2010

Orang Dewasa Perlu Berguru pada si Kecil

Orang Dewasa Perlu Berguru pada si Kecil

Hampir sulit ditunda apalagi dicegah/ditolak ketika si kecil, seperti putri kedua kami yang masih berusia dua tahun, mendadak meminta es krim. Saat saya ajukan permintaan ”nanti saja” buru-buru meronta-ronta sembari menangis di gendhongan saya. Perilaku itu merupakan bentuk argumentasi (tentang ini sudah saya tulis di blog ini, dengan judul ”Menghargai Argumentasi si Kecil”). Terlihat tidak sabar. Keinginannya mendesak untuk segera dapat dipenuhi. Kalau saja saya tunggu agak sedikit lama tentu meronta dan menangisnya bertambah keras. Saya berusaha segera memahami keinginan putri kami itu. Hasil pemahaman itu adalah sangat wajar jika anak seusia anak-anak kelompok bermain itu sekali pernah merasakan es krim yang nikmat itu, di lain waktu ingin lagi merasakan. Semacam ketagihan begitu, meski belum sampai pada taraf tinggi.

Keinginan untuk segera memenuhi kenikmatan, lebih-lebih kenikmatan jasmani -berupa makanan, yakni es krim tadi- bagi anak-anak agaknya sulit untuk dihindari. Disadari oleh orangtua bahwa anak-anak memang lebih mengutamakan/mementingkan hal-hal yang bersifat jasmaniah, lahiriah, daripada hal-hal yang bersifat batiniah, rohaniah. Dari perilaku si kecil -yang saya pahami sebagai bentuk argumentasi itu, akhirnya saya menarik sebuah logika sederhana bahwa es krim bagi putri kedua kami -mungkin juga bagi balita yang lain- lebih penting daripada belaian kehangatan di gendhongan orangtua.

Orangtua telah lama menyadari bahwa si kecil/balita dalam masa-masa pertumbuhan seakan-akan lebih mengutamakan perihal lahiriah daripada batiniah, tetapi kurang menyadari kalau sebetulnya terbentuknya mental semacam itu peran orangtua sungguh besar. Betapa tidak. Yang sering dilakukan orangtua ketika sang buah hati menangis adalah menawarkan hal-hal yang bersifat lahiriah, semisal permen, es, makanan ringan, mainan, atau hal serupa yang dimungkinkan dapat menghentikan tangis si kecil. Dan, memang perlakuan jenis ini agaknya lebih mujarab. Si kecil akhirnya benar-benar berhenti menangis karena di mulut mungilnya ada makanan yang nikmat atau di tangannya sibuk dengan permainan yang baru diberikan. (Jangan-jangan –melalui perlakuan jenis ini- justru orangtualah yang membentuk mental hedonis sejak usia dini terhadap anak-anaknya sendiri!).

Kembali ke kejadian putri kedua kami. Saat itu memang ada agenda bersama beberapa keluarga untuk mengunjungi teman yang beberapa waktu lalu melahirkan. Acara demikian tentu telah membudaya di seluruh pelosok tanah air ini. Turut mengucapkan syukur kepada teman/saudara yang baru dikaruniai berkat oleh Sang Khalik secara berganti-gantian menjadi sebuah ikatan kultural di tanah pertiwi ini.

Beberapa langkah saat hendak membeli es krim, saya melontarkan tawaran secara berseloroh kepada si kecil yang masih menangis di gendhongan bahwa ayah dan ibu akan ”melihat adik kecil”. Tanpa saya duga, si kecil spontan berhenti menangis dan merespon tawaran itu dalam bentuk ucapan, ”adik kecil...”. Saya mengerti maksud putri kedua kami itu lewat intonasi ucapannya, yang mengandung ajakan. Maksudnya, mengajak melihat adik kecil. Apa yang menjadi fokus di pikirannya kini agaknya berubah. Yang semula mengajak membeli es krim, sekarang justru mengajak melihat adik kecil. Bahkan ketika kami telah menaiki motor hendak menjenguk adik kecil, putri kami itu masih sedikit meronta dengan bilang ”adik kecil...”, mungkin dikiranya kami menuju ke toko es krim. Si kecil benar-benar telah melupakan es krim. Buktinya, ketika kami bilang ke rumah adik kecil, putri kami itu tidak meronta lagi. Sepanjang perjalanan justru ceria, yang terbaca lewat nyanyian dengan lirik dan nada tak karuan dari bibirnya.

Dewasa ini, ternyata kepekaan sosial si kecil lebih tinggi dibandingkan kepekaan sosial orang dewasa. Putri kedua kami telah menunjukkan hal itu. Ia rela tidak membeli es krim, tetapi harus menjenguk adik kecil. Membangun komunikasi dengan sesama ternyata menjadi lebih penting ketimbang mengunggulkan kenikmatan jasmani. Kepentingan pribadi disisihkan untuk merengkuh kepentingan bersama. Bahkan kalau boleh saya katakan, silahturahmi yang dibangun si kecil dengan adik kecil sungguh sejati karena tidak ada tendensi apa-apa, kecuali berjumpa mengikat batin dalam relasi sosial.

Kenyataan yang terbalik kita lihat dewasa ini bahwa ketika orang dewasa membangun komunikasi dengan sesama hampir dapat dipastikan ada kepentingan-kepentingan di baliknya. Apalagi di tataran politik. Seolah-olah mesra menjadi kawan, tetapi musuh belaka adanya. Di samping itu, tak jarang kita jumpai banyak orang dewasa dalam menjalani keberlangsungan hidup lebih mengutamakan kenikmatan-kenikmatan jasmani daripada kepentingan-kepentingan yang memiliki nilai sosial, kemanusian, dan religius. Perseteruan antarsuku, antarkelompok masyarakat, demonstrasi yang anarkis, serta masih tingginya tingkat korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini menunjukkan bahwa betapa orang (baca: orang dewasa) demikian kental dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan, sebaliknya mengabaikan kepentingan bersama.

Agaknya penting bagi orang dewasa saat ini berguru kepada si kecil jika ingin mengembalikan kehidupan kebersamaan tanpa pamrih di bumi pertiwi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""