Senin, 29 Maret 2010

Parah, Bahasa Tulis Peserta Didik

Parah, Bahasa Tulis Peserta Didik

Meski hanya berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran di kelas, tidak melalui penelitian ilmiah, dapat diketahui masih banyak peserta didik yang tidak mengacuhkan pemakaian bahasa tulis secara benar. Penggunaan tanda baca kurang diperhatikan. Penempatan huruf kapital juga tidak selalu benar. Penulisan awalan dan kata depan tidak dibedakan. Demikian juga kaidah-kaidah yang lain masih saja dilanggar.

Padahal, bahasa tulis yang kurang -untuk menghindari penggunaan kata ”tidak”- mengacuhkan kaidah-kaidah bahasa tulis akan menghadirkan komunikasi yang terganggu. Maksud yang dikomunikasikan oleh penulis bisa saja tidak dipahami oleh pembaca sehingga menimbulkan persepsi yang salah.

Saat pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, kekurangacuhan peserta didik terhadap bahasa tulis itu tentu telah menjadi perhatian guru. Sekecil apa pun kesalahan yang dialami peserta didik dalam proses pembelajaran menjadi tanggung jawab guru dan karena itu guru mengarahkan/membimbing ke arah yang benar. Hal demikian tidak satu-dua kali terjadi, tetapi sering kali. Satu peserta didik dapat mengalami kesalahan berulang-ulang dalam materi yang sama. Ada juga -dan ini sering terjadi- beberapa peserta didik mengalami kesalahan dalam perihal yang sama meskipun telah sering diingatkan.

Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kesalahan tetap terjadi, pertama, peserta didik tidak mau berniat memperbaiki kesalahan berbahasa tulis sebab dalam tataran umum, bahasa tulis mereka dianggap masih dapat dipahami oleh pembaca meski dalam memahaminya dengan tertatih-tatih. Di samping itu, pemakaian bahasa lisan relatif sering mereka gunakan sehingga tak ambil pusing dengan bahasa tulis.

Kedua, dalam tataran lebih khusus, di sekolah, tidak semua guru mata pelajaran memerhatikan pemakaian bahasa tulis. Artinya, hanya beberapa guru -terutama guru bahasa- yang mau memerhatikan. Segi kepraktisan agaknya yang lebih diutamakan. Tidak penting memikirkan ”pernik-pernik” bahasa tulis. Yang penting maksud yang tertulis tersampaikan kepada pihak yang dituju, itu cukup, meskipun kalau dicermati bahasa tulisnya mengisyaratkan ada banyak kejanggalan.

Ada pola pikir yang samar-samar terbaca, yaitu banyak guru menganggap persoalan penguasaan bahasa (tulis) menjadi tanggung jawab guru bahasa sedangkan guru mata pelajaran lain tidak perlu intervensi. Kenyataan ini, disadari atau tidak, semakin memperparah kondisi berbahasa tulis peserta didik. Apa pun mata pelajaran yang diampu seharusnya guru tetap memiliki tugas yang sama, yaitu sebagai agen perubahan. Perubahan dalam ranah apa saja, yang terpenting berubah menuju ke kebaikan. Akan menjadi aneh kalau misalkan guru bahasa hanya mengajarkan tentang bahasa dan tidak mendidik moral peserta didik sebab persoalan moral menjadi tanggung jawab guru agama dan Pkn. Tentu demikian juga sebaliknya, menjadi ganjil jika guru matematika hanya mau mengajarkan ilmu berhitung, sementara ilmu komunikasi (baca: bahasa) ditinggalkan.

Semua memang ada porsinya. Guru bahasa tentu lebih banyak mengajarkan tentang ilmu bahasa daripada etika-moral. Guru matematika mesti harus lebih banyak mengajarkan perihal hitung-berhitung daripada ilmu bahasa. Akan tetapi, implementasi pembelajaran terintegrasi semestinya merengkuh semua aspek, meski tadi telah dikatakan, porsinya berbeda.

Ketiga, yang lebih memperparah lagi yaitu budaya bahasa SMS. Kebiasaan memanfaatkan ”bahasa singkat” saat mengirim pesan singkat lewat piranti elektronik ini telah merambah lintas sektor. Yang dimaksud bahasa singkat di tulisan ini adalah kata yang disingkat-singkat. Pemakaian kata yang disingkat-singkat awalnya hanya untuk kirim SMS, tetapi kemudian di sekolah saat menulis di buku maupun papan tulis pun sama dilakukan. Dan mungkin karena telah biasa dilakukan inilah, kesalahan yang berulang-ulang, seperti telah disinggung di awal tulisan ini, tetap saja terjadi.

Untuk menjadi baik dibutuhkan kerja sama semua pihak. Bahkan, keikutsertaan orangtua memberi teladan penting juga dilakukan. Yang sering dijumpai, penulisan surat izin yang dibuat oleh orangtua ketika anak tidak masuk sekolah tak jarang menyalahi kaidah bahasa tulis. Oleh karena itu, orangtua pun agaknya perlu belajar agar bisa menjadi teladan baik bagi anak-anak. Kalau upaya ini dilakukan dengan motivasi positif dan terus-menerus, dipastikan peserta didik, yang notebene anak-anak kita, akan menguasai bahasa tulis secara baik dan benar.

2 komentar:

  1. betul banget, mas sungkowo. keterampilan siswa dalam menulis memang payah. jangankan dari sisi sintaksis dan wacana, dalam soal diksi dan ejaan yang mendasar pun (nyaris) tak mampu dikuasai dg baik. guru tak berdaya karena berbahasa sangat erat kaitannya dengan faktor kebiasaan dan budaya siswa yang dg telanjang menyaksikan banyak tokoh berpengaruh yang abai terhadap persoalan bahasa tulis ini.

    BalasHapus
  2. Mungkin perlu juga, ya Pak, para tokoh yang berpengaruh itu les berbahasa tulis sehingga figur publik berteladan positif bagi masyarakat, terlebih bagi para peserta didik. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""