Sabtu, 27 Maret 2010

PENJUAL LENTOG

Penjual Lentog

Aku tak mengerti benar isi hatinya
Tetapi kulihat sorot matanya yang
tampak lelah
Menceritakan kekhawatiran
Usaha yang dirintis dengan peluh
Sebentar lagi tak dapat menghidupi
anak dan istri yang terus menanti

Di rumah menyerukan doa-doa
Memohon berkah kepada Tuhan
Agar hari-harinya masih panjang

Sebab di pinggir-pinggir jalan
Yang dilewati setiap hari dengan
keranjang lentog
Yang menggantung di pundaknya
Telah dipenuhi restoran dan cafe-cafe
Diserbu pelanggan-pelanggan beruang

Kulihat air matanya tumpah
Serupa kuah lentognya
Yang semakin basi
Karena sejak pagi hingga sore
Tak dijumpainya pembeli

Di jalan menyerukan doa-doa
Seirama langkahnya
Agar istri dan anak-anaknya
Tetap menanti dengan sayang
3/2010

2 komentar:

  1. Kekawatiran penjual lentog mungkin sama dengan penjual pecel, penjual sayur lontong....
    Hidup makin sulit, biaya makin tinggi, kebutuhan makin banyak.
    Dulu...rasanya untuk lauk bisa dari apa yang ditanam di kebon....

    BalasHapus
  2. Ya, Bu. Dalam situasi seperti ini, hal yang juga penting adalah pengambil kebijakan semestinya harus peka terhadap persoalan hidup yang banyak dialami rakyat kecil. Dengan begitu, keberlangsungan hidup dan kehidupan mereka tidak lagi menjadi kekhawatiran mereka. Terima kasih, Bu. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""