Jumat, 12 Maret 2010

TERGERUS, PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

Tergerus, Pendidikan Kecakapan Hidup

Memasuki sebuah ruang kelas, di suatu pagi, saat hendak mengajar, saya dihadapkan pada kondisi ruang kelas yang sungguh tidak nyaman untuk belajar. Lantai kelas masih kotor. Sobekan-sobekan kertas, bungkus permen, dan remah-remah tanah yang mungkin terlepas dari sol sepatu anak-anak masih berserakan di beberapa bagian lantai.

Ironisnya, dalam kondisi ruang kelas yang demikian itu, tak ada satu pun anak yang bergegas berdiri lantas mengambil sapu dan membersihkan ruang itu meski saya diam berdiri beberapa saat di muka kelas sebagai isyarat ada sesuatu yang kurang beres. Mereka tetap duduk, seakan-akan tidak ada persoalan yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum mulai belajar. Yang terlihat, justru mereka nyaman-nyaman saja.

Kenyataan itu serupa dengan yang di-share-kan teman-teman guru. Banyak ditemukan juga di kelas lain. Bahkan sampai ada teman guru yang menegaskan dengan mengatakan ”siapa yang piket hari ini!”, juga tak kunjung segera ada yang berdiri. Justru di antara mereka yang tampaknya memang petugas piket, saling menunggu. Tidak segera menanggapi meskipun mereka sadar bahwa mereka piket. Ada kesan melempar tanggung jawab dari satu kepada yang lain. Mungkin kelompok piket tersebut memang kurang maksimal menjalankan tugas sehari-hari. Artinya, ada di antara anggota yang mungkin terus bertugas, tetapi ada juga yang tidak mau bertugas sehingga kekompakan hilang yang bermuara pada munculnya sikap iri hati. (Saya tidak tahu apakah hal yang sama dialami juga oleh anak-anak di sekolah lain.)

Wajar jika kemudian muncul pendapat, pendidikan kecakapan hidup telah tergerus. Hilang dari keberadaan anak-anak. Mengaca pada fenomena di atas, jelas anak-anak tak tanggap dan cakap terhadap problema yang ada.

Berbeda dengan tiga dasa warsa yang lalu saat saya masih mengenyam pendidikan di SD. Kami begitu tanggap dan cakap ketika kondisi kelas terlihat kotor. Tidak ada guru yang menyuruh, kami secara bersama-sama bergegas membersihkan kelas itu. Bahkan kami selalu melakukannya cepat-cepat agar guru yang akan masuk ke kelas kami tidak mengetahui. Keinginan kami adalah agar ketika guru masuk kelas merasa senang karena kondisi kelas bersih, nyaman untuk belajar. Kebiasaan demikian itu telah melekat dalam jiwa kami.

Saya meyakini, kami cepat tanggap dan cakap menyelesaikan problem yang ada karena memang ketika itu kami diajari oleh guru-guru kami. Hal praktis terkait dengan kecakapan hidup diajarkan langsung, semisal menyeterika pakaian, menyapu, menjahit baju yang sobek, menanam singkong, memelihara kelinci, memelihara ikan, bahkan kami pernah beramai-ramai mencangkul di kebun sekolah. Oleh karena itu, persoalan keseharian yang terkait langsung dengan kehidupan kami dapat kami selesaikan. Pembelajaran nyata demikian yang menjiwai kami selalu mau membantu orangtua dalam menghadapi persoalan yang ada.

Pelajaran-pelajaran praktis seperti itu agaknya tak hanya mencetak anak menjadi cepat tanggap dan cakap menghadapi persoalan yang muncul, tetapi juga mampu membentuk kehalusan batin dan kecermatan berpikir. Membawa anak lebih bersikap hati-hati, teliti, dan sabar dalam bertindak/berbuat.

Sayang, pembelajaran yang membekali nilai-nilai kehidupan demikian itu -yang tentu disesuaikan dengan konteks kekinian- sekarang sulit ditemukan di sekolah-sekolah formal. Tak ada guru yang mengajari menyeterika sehingga banyak anak yang merasa kesulitan saat disuruh menyeterika pakaian sendiri. Anak merasa tak dapat memelihara kelinci karena memang tak pernah diajari memelihara kelinci. Demikan juga keterampilan di bidang lain tak ada pembelajaran khusus. Kalau pun ada di sekolah kejuruan dan itu tentu tidak banyak menjangkau anak. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah umum mungkin ada, tetapi berjumlah sedikit pula.

Semua itu terjadi karena orientasi pendidikan di negeri ini yang kurang tepat. Betapa tidak. Anak-anak lebih banyak dijejali teori-teori ketimbang pengetahuan praktis yang terkait dengan kecakapan hidup masa kini. Dan, agaknya pendidikan kita kini masih belum mungkin menerapkan pembelajaran kecakapan hidup secara komprehensif karena pemerintah belum berniat menghapus ujian nasional (UN) yang hanya mengandalkan keseragaman kecerdasan intelektual itu. Ini berarti materi kecakapan hidup benar-benar masih jauh menyentuh kebutuhan anak.

Pendidikan kecakapan hidup agaknya sulit juga diperoleh dalam keluarga. Sebab, keluarga modern cenderung memanjakan anak-anak. Anak-anak tidak dibolehkan melakukan aktivitas yang sedikit agak berat, semisal membantu kesibukan orangtua di rumah. Anak-anak lebih diarahkan sehari-hari berpikir kesibukan sekolahnya. Dengan demikian, praktis anak-anak tak pernah bersentuhan dengan kegiatan rumah yang mengandung nilai-nilai keterampilan hidup.

Kalau kenyataan tersebut terus dibiarkan terjadi, tanpa ada sikap berpihak kepada anak demi memperoleh pendidikan keterampilan hidup secara optimal baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat, dipastikan anak tidak memiliki bekal kuat untuk menghadapi dinamika kehidupan yang tiada pernah berhenti ini.

5 komentar:

  1. Wah... lha kok ternyata sama dengan yang saya alami ya Pak... sampai saya tiap hari grundelan sendiri. Anak-anak sekarang itu tidak peduli lingkungan sekitar, ndak punya unggah-ungguh, "ndableg". Jangan-jangan kita sebagai guru yang ikut andil ya Pak..

    BalasHapus
  2. tantangan yang dihadapi dunia pendidikan kita makin rumit dan kompleks, pak. imbasnya juga berpengaruh ke kita juga sbg guru. faktor keteladanan dari dalam keluarga agaknya juga mulai berkurang sehingga anak2 jadi abai terhadap masalah yang terjadi di lingkungan kelasnya.

    BalasHapus
  3. 1)Bu Mulyati,
    Ternyata kenyataan yang demikian itu dialami juga oleh anak-anak di sekolah lain, termasuk di sekolah Ibu. Benar Bu, kita -sebagai guru- mungkin turut andil juga dalam membentuk jiwa anak yang demikian itu karena kita memang telah berada di pusaran sistem pendidikan kita yang tak terang benderang ini. Terima kasih. Salam kekerabatan.

    2)Pak sawali,
    Ya, Pak, ya, keteladan telah luntur. Jadi penting keteladanan itu perlu digairahkan lagi baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat, mulai dari kita masing-masing. Terima kasih. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  4. Pak, kedisiplinan anak tak hanya dibebankan pada guru, namun juga orangtua, karena pada awalnya anak mendapat pendidikan dari rumah, dari lingkungan keluarganya.

    Kondisi sehari-hari membuat generasi sekarang menjadi kurang tanggap....sedih saya melihatnya. Di satu sisi saya juga melihat masih banyak anak yang baik, yang setiap kali lulus dengan baik, disiplin, dan mudah diterima kerja...akibatnya makin banyak kesenjangan...dan yang tak berhasil tidak bisa introspeksi diri, merasa diri mampu, padahal yang menilai kan orang lain.

    BalasHapus
  5. Itulah Bu, yang menjadikan pekerjaan kita -sebagai orangtua- akan semakin berat namun tetap harus disyukuri. Penting pelajaran Bu Melly Kiong, yakni Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong, itu untuk sesegera mungkin diterapkan di tiap-tiap keluarga. Terima kasih. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""