Jumat, 26 Maret 2010

Terjadinya Desa Bacin

Terjadinya Desa Bacin
(dalam sebuah versi lain)

Diceritakan ada seorang memiliki kesaktian yang luar biasa, Saridin, namanya. Kesaktian yang diperoleh dari sang guru itu tidak dimanfaatkan dengan rendah hati. Saridin malah menjadi sosok yang tinggi hati. Dia sering mempertunjukkan kedigdayaannya itu di hadapan banyak orang. Hanya dengan selembar daun jati, dia dapat terbang ke sana-ke mari. Dengan hanya berpegang pada dua butir kelapa, dia dapat mengarungi selat, dari Jawa hingga Sumatera.

Suatu saat, Saridin sedang mengadakan perjalanan di sebuah desa yang jauh dari laut. Penduduk desa itu sangat menginginkan ikan. Sebab, selama itu mereka tidak pernah mengetahui ikan. Yang mereka tahu lewat cerita orang-orang yang bertandang ke desa mereka adalah ikan itu hewan yang hidup di air. Di mana ada air, di situ dapat ditemukan ikan. Hanya memang, karena desa mereka termasuk desa yang tandus, sulit ditemukam air. Kalau pun ada air, jumlahnya amat sedikit dan karenanya mereka tidak pernah sekali pun melihat rupa ikan.

Orang-orang desa itu telah lama mendengar nama Saridin. Dari orang-orang luar desa mereka, kedigdayaan Saridin pun diketahui. Oleh karena itu, ketika Saridin singgah sebentar di desa mereka, mereka berbondong-bondong segera menemui Saridin. Mereka ingin membuktikan, benarkah Saridin itu memiliki kesaktian?

”Tuan, ” salah seorang yang dianggap sebagai sesepuh desa itu tiba-tiba bicara.
Tetap dalam posisi duduk di tanah, Saridin menyahut, ”Ya, ada apa kisanak?”
”Kami pernah mendengar cerita bahwa di setiap ada air ada ikannya. Akan tetapi, di tempat kami ini tidak pernah kami temukan ikan meski sedikit-sedikit ada air,” kata sesepuh desa itu.
”Ya, Tuan, ya...!” suara gemuruh warga hampir bersamaan.
Dengan menunjuk ke atas, ke puncak pohon kelapa, Saridin berucap, ”Ambilkan buah kelapa itu. Satu saja!”

Saridin berdiri, berjalan menuju ke pohon kelapa. Orang-orang -laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak- merangsek ke arah Saridin. Saridin menepuk pundak seorang yang hendak naik pohon kelapa untuk memetik sebutir buahnya.

Karena keterampilannya memanjat, dalam hitungan detik, orang tadi telah menjatuhkan sebutir kelapa.

”Lihat! ” Saridin mengangkat butir kelapa itu tinggi-tinggi di hadapan banyak orang. Kepala-kepala mereka berebutan muncul ke atas melihat butir kelapa yang diangkat Saridin. Kepala-kepala mereka itu menyerupai kelapa, bulat-bulat, berbalutan warna hitam. Mata mereka bersinar-sinar seperti kamera menatap ke peragawan-peragawati yang meliuk-liuk di atas catwalk.

”Di dalam kelapa ini ada ikannya,” demikian Saridin membuka pertunjukannya.
Orang-orang semakin berdesak-desakan. Membulat-bulatkan matanya berharap cepat melihat ikan yang meloncat dari butir kelapa yang dibongkah. Dan, benar, begitu butir kelapa itu dibongkah keluarlah dua ekor ikan meloncat ke tanah. Orang-orang semakin merangsek. Tidak mempedulikan lagi suasana di sekelilingnya. Hasrat mereka ingin melihat ikan dari dekat tidak dapat lagi dikendalikan. Orang-orang yang sudah tua, anak-anak, dan wanita-wanita hamil terutama banyak yang jatuh terinjak-injak oleh kaki-kaki yang telah terhipnotis kekuatan Saridin.

Benar-benar terjadi prahara di desa itu. Akibat ulah Saridin, banyak warga desa tersebut tewas mengenaskan. Akan tetapi, tak ada satu pun warga yang berani menyalahkan Saridin. Yang kehilangan sanak-saudara, orangtua bertangis-tangisan.

Peristiwa itu terdengar sampai ke telinga guru Saridin. Dengan diikuti para murid, sang guru mencari Saridin di desa yang gempar itu. Sang guru ingin menangkap Saridin. Saridin memang masih berada di desa itu. Akan tetapi, ketika dia mengetahui sang guru datang, berlarilah Saridin hendak menghilangkan jejak. Sang guru beserta para murid terus mengejarnya.

Dan, tanpa mereka duga, tiba-tiba sungai yang berada di depan mereka, yang hendak mereka seberangi, mengeluarkan bau bacin hingga membuat sesak napas. Sang guru dan para murid akhirnya mengurungkan niat. Sesaat sebelum meninggalkan wilayah itu, sang guru mengatakan kepada para murid, sampai kapan pun wilayah itu disebut bacin karena bau bacin sungai menebar ke mana-mana.

Sebenarnya sungai itu belum pernah dijamah orang. Begitu Saridin menceburkan diri ke sunagi itu demi bersembunyi, bau bacin sungai merebak memecah keharuman udara desa. Saridin aman mendekam di lubuk sungai.

2 komentar:

  1. Hmm saya baru mendengar cerita tentang daerah bacin ini. Di daerah manakah?

    BalasHapus
  2. Oh, ya, Bu, ini cerita yang berkembang secara ujar turun-temurun di daerah kami, Kudus, tepatnya salah satu nama desa yang ada di Kudus. Terima kasih atas kunjungan Ibu. Komentar Ibu sungguh berarti. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""