Minggu, 04 April 2010

Berhati Paskah

Berhati Paskah

Subuh, sekitar 04.00 WIB, Minggu, 4 April 2010, anak kami yang pertama bangun tidur demi mempersiapkan diri menyambut ibadah paskah, 05.00 WIB. Karena ia turut mengisi acara, membaca puisi, ia saya minta untuk mencoba lagi membaca puisi terjemahan karya Mortimer Arias dari Bolivia, subuh itu juga -yang sorenya telah berlatih beberapa kali baca- meski tetangga kiri-kanan-muka-belakang, kami perkirakan masih tidur karena suasana memang terasa masih sunyi. Hanya memang dengan suara yang agak lirih, karena yang saya pentingkan intonasi, ekspresi, dan pelafalan.

Ia membaca ulang puisi itu dengan rona menyejukkan. Tidak kelihatan muram, tanda masih terbawa rasa kantuk. Juga tidak terlihat malas-malasan. Padahal, selama ini belum pernah anak kami itu bangun sewaktu ayam masih berkokok lantas melakukan aktivitas, apalagi aktivitas membaca puisi. Puisi terjemahan yang disediakan pendeta kami berjudul ”Tuhan, Engkaulah Hadir”, dengan syair lengkapnya begini:

Tuhan, Engkaulah hadir di dalam hidupku;
Sama dengan udara kuhirup kasih-Mu
Dalam denyut jantungku kuasa-Mu bekerja;
Tubuh dan panca indra, ’Kau menggerakkannya
Juga di pekerjaan, ’Kau, Tuhan, beserta,
Juga Engkau dengarkan lagu keluh-kesah;
Lagu mesin dan martil bising dan menderu,
Lagu peras keringat naik kepada-Mu.

Di dalam suka-duka, ’Kau ingin beserta,
Turut memperjuangkan damai sejahtera.
’Kau datang dalam Kristus, dosa dihapus-Nya,
Dalam kerajaan-Mu, Kauubah dunia.


dibawakan dengan baik meski dalam kamar, menurut penglihatan kacamata saya. Akan tetapi, yang saya syukuri adalah kesungguhannya mau melayani di saat teman-temannya mungkin masih banyak yang terlelap tidur karena acara paskah sekolah minggu memang akan dilaksanakan 10.00 WIB. Ia mau melawan rasa kantuk, rasa malas, dan mengusir dingin pagi.

Umumnya, seusia anak kami yang pertama itu, jika mengikuti rangkaian ibadah yang panjang dan lebih-lebih dalam komunitas usia yang berbeda, akan cepat bosan, yang pada muaranya meresahkan benak. Akan tetapi, ia tetap teguh mengikuti hingga tiba waktu membaca puisi. Ia rela berkorban, meski tak sebanding dengan pengorbanan Kristus.

4 komentar:

  1. Aku salut. dan ikut bersyukur atas kesungguhannya mau melayani di saat teman-temannya mungkin masih banyak yang terlelap tidur. Semoga generasi penerus Pak Sungkowo ke depan semakin sukses dan semakin mengerti indahnya pengabdian hidup.Amin. Salam.

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Pak Riyadi. Juga sukses selalu untuk Bapak dan keluarga, tanpa pernah berhenti berkarya untuk membantu sesama yang membutuhkan dalam bidang apa pun saja. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. wah, salut banget dengan didikan kuat dalam keluarga pak sungkowo. selamat paskah, pak, semoga dunia makin damai.

    BalasHapus
  4. Terima kasih, Pak Sawali. Ya...jadilah apa yang Bapak bilang, dunia makin damai. Dan, kita turut ambil bagian dalam mewujudkan itu melalui peran kita di seputar lingkungan kita berada. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""