Senin, 12 April 2010

BERJIWA BESAR, PELAJARAN BERHARGA

Berjiwa Besar, Pelajaran Berharga

Minggu, 11 April 2010, anak kami yang pertama mengikuti lomba baca puisi tingkat SD/MI se-Kabupaten Kudus dalam rangka HUT ke-64 SMP 1 Kudus. Peserta berjumlah 41 terdiri atas laki-laki dan wanita. Peserta dalam babak penyisihan harus membacakan satu puisi wajib, yang ditentukan oleh panitia. Dari 41 ditentukan sepuluh peserta memasuki babak final. Dalam final, setiap peserta membaca satu puisi dari tiga pilihan, yang telah disediakan oleh panitia. Ditentukan juara satu, dua, dan tiga serta harapan satu, dua, dan tiga. Itu berarti ada empat finalis yang harus rela tidak menerima kejuaraan.

Agar dapat memasuki final, beberapa hari sebelum lomba, anak kami berlatih di rumah. Tidak setiap hari, tetapi ketika latihan yang dapat saja diulang beberapa kali, anak kami begitu menikmati. Tidak memiliki rasa bosan. Bahkan menerima masukan-masukan untuk perbaikan penampilan, baik segi vokal, ekspresi, maupun interpretasi. Menurut apresiasi saya, pembacaan yang dilakukan anak kami, baik. Oleh karena itu, kami yakin ia pasti mendapat juara.

Apalagi setahun yang lalu, ketika ia masih kelas V, mengikuti lomba serupa dalam acara yang sama, ia mendapat juara dua. Keyakinan mendapat juara kali ini sebenarnya dengan pertimbangan bahwa yang juara pertama tahun lalu telah SMP sehingga tidak mungkin mengikuti lomba. Kalau ada peserta-peserta ”wajah” baru, tentu tidaklah menjadi pesaing yang berat. Memang sempat diadukan kepada saya bahwa ia mendapat informasi dari teman sekelasnya bahwa satu di antara peserta ada yang pernah menjadi juara baca puisi tingkat provinsi. Anak kami sempat grogi. Akan tetapi, motivasi-motivasi yang sengaja kami letupkan cukup membuatnya bergairah lagi.

Sayang, ketika lomba, kami tidak dapat mendampinginya. Kami tidak mengetahui penampilannya di hadapan juri, peserta lain, dan pendamping. Namun, dari jauh kami tetap berkeyakinan anak kami memeperoleh kejuaraan.

Siang hari, saat kami masih berada di Pati, HP saya berdering tanda ada SMS masuk. Sebelum mengeluarkan HP dari dalam saku, saya berpikir bahwa yang SMS tentulah anak kami. Saat saya buka, satu pesan muncul berbunyi, ”Yah, saya mendapat juara harapan dua”. Saya tidak membalas SMS, tetapi langsung menelepon nomor HP anak kami. Saya mendengar suara di ujung sana terasa sedikit gemetar mungkin karena ada gangguan teknis komunikasi atau kekecewaan anak kami yang berdampak pada gangguan pita suaranya. Untuk menjaga perasan anak kami, tanggapan yang keluar dari mulut saya adalah ”bagus”, ”luar biasa”, dan ”itu sudah sangat baik”.

Di rumah saat kami berjumpa, ia mulai berbicara banyak hal terkait dengan lomba tadi. Akan tetapi, satu ungkapan perasaan yang menarik bagi saya adalah ketika ia mengakui bahwa memang yang memperoleh juara satu, dua, tiga, dan harapan satu, bagus-bagus.

Berdasarkan pengakuan itu, saya berkesimpulan bahwa anak kami menerima dengan ikhlas perolehan peringkat yang diterimanya itu tanpa penolakan meskipun kalau dibanding dengan peringkat tahun yang lalu, turun cukup berarti. Ada kemunduran karena asalnya juara dua menjadi harapan dua. Bahkan mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah kekalahan. Akan tetapi, ia menerima dengan berjiwa besar dan tidak malu. Saya perlu belajar kepadanya.

8 komentar:

  1. Bapak dan anaknya sama-sama hebat, Pujian luar biasa akan semakin memacu anak-anak kita untuk lebih berprestasi. Anak saya http://noharaface.com sedang berjuang untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, mohon dukungannya.
    blog saya satunya di www.budies.info

    BalasHapus
  2. Berusaha untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak penting bagi kita sebagai orangtua, ya Pak, demi tumbuh kembang mereka menjemput masa depan yang gemilang. Mari Pak kita saling mendukung perjuangan anak-anak dalam menempuh pendidikan. Terima kasih kunjungan Pak Budies ke blog ini.

    Blog putra Bapak dan blog Bapak yang satunya menjadi perbendaharaan informasi bagi saya. Terima kasih. Salam kekerabtan.

    BalasHapus
  3. Hebat, Pak. Kita sebagai orang tua/pendidik memang harus senantiasa mengajarkan pada anak-anak kita bersikap bersahaja dalam segala suasana. Kita harus ajari mereka rendah hati ketika mereka sedang di puncak kemenangan dan tetap tegar ketika harus menerima kekalahan. Justru inilah pelajaran yang paling berharga untuk kita petik dalam setiap ajang adu kompetensi.

    BalasHapus
  4. Jadi, adakalanya orangtua mau belajar dari anak-anak, ya Pak. Terima kasih atas kunjungan Bapak di blog ini. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  5. Jadi ingat pepatah Bahasa jerman yang berbunyi Kebo nyusu GUdel, yang kalau kita implementasikan di zaman sekarang, dalam hal positif tentunya. Ternyata kita harus mengikuti perkembangan dan kemauan anak sambil tetap memberikan rambu-rambu begitu kira-kira, ya Pak
    Lain dari itu saya sangat sependapat dengan komentar bapak bahwa blog dapat menjadi jembatan untuk memulai menuju penulis yang baik.
    salam dari kalimantanm tengah, Kalau boleh usul gimana kalau bapak bikin juga blog di wrdpress, sepertinya banyak rekan guru yang bikin blog di wepe. selain itu gimana kalau komentarnya dipermudah, supaya pengunjung tidak enggan memberikan komentar.
    maaf ya pak, tidak bermaksud menggurui

    BalasHapus
  6. Ya begitu, Pak, menjadi orangtua yang fleksibel dan demokratis demi kemajuan tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk kita sebagai orangtua.

    Salam dari Kalimantan Tengah telah tersambut dengan sukacita. Dan, biarlah salam tersebut terus berlanjut dan saling bersambut demi memeprteguh kekerabatan.

    Terima kasih atas usul Bapak agar saya membuat blog dengan wp. Semoga atas saran Bapak tersebut segera boleh terwujud sehingga komunikasi dengan komunitas guru penyuka blog wp se-Indonesia lebih mudah terjalin.

    Nah, yang satu ini, Pak, hingga sekarang "mempermudah post komentar" ke blog saya, belum saya temukan tutorial yang dapat membantu. Yaah... mungkin karena masih demikian rendahnya pengalaman saya akan blog sebab memang masih muda, baru 2-3 bulan ini ngeblog. Masih banyak yang kurang. Teman-teman satu sekolah belum ada yang fasih dalam hal bikin blog. Bahkan, nyaris.... yang memiliki blog secara pribadi, guru di tempat saya, hanya saya, Pak. (Aahhh.... malu, masak di Jawa yang mungkin dianggap lebih maju ternyata kalah dengan yang di tempat Bapak!). Akan tetapi, inilah kenyataannya, Pak, di Jawa ada wilayah yang telah maju, tetapi ada juga yang masih primitif. Hehehe.....

    Pak, saat saya akses ke blog htt://noharaface.com, tak dapat masuk. Entah kenapa ya, Pak?
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  7. Bagus pak kalau putranya (atau putrinya) menyadari, sehingga bisa mengambil positifnya.
    Saya ingat...dulu rasanya udah hebat di kota kecilku, pas meneruskan ke PTN..ehh mau dapat di tengah aja udah susah payah....hmm namun justru itu yang membuat kita terbuka, diatas langit selalu ada langit..dan kita harus terus menempa diri.

    Sukses buat putra(i) nya pak...

    BalasHapus
  8. Ya, Bu, saya setuju pada ungkapan "di atas langit ada langit", biar kita selalu merendah hati di mana dan kapan saja. Begitu, kan Bu? Terima kasih. Putra kami yang pertama putri, demikian juga yang kedua. Jadi, kedua-duanya putri.

    BalasHapus

""