Senin, 05 April 2010

Dalam Kelemahan, Tetap Bersukacita Mendampingi

Dalam Kelemahan, Tetap Bersukacita Mendampingi

Bukannya karena kami kuat jika kami ”dipanggil” untuk mau mendampingi anak-anak didik kami, kelas VIII angkatan 2009/2010, SMP 1 Jati Kudus, Jawa Tengah, widya wisata ke Jakarta dan Bandung, 5-8 April 2010. Kami biasa sama seperti guru yang lain. Tidak ada keistimewaan yang perlu diunggulkan. Justru sebaliknya, saya merasa kami lemah, tak memiliki daya yang bisa diandalkan untuk mendampingi anak-anak didik dalam menempuh perjalanan yang begitu jauh dan tentu melelahkan tetap dalam kondisi terjaga damai sejahtera dari pergi hingga kembali.

Dalam perjalanan begitu rahasia. Tentu ada banyak misteri yang tidak ada satu pun di antara kami memiliki kemampuan ”membacanya”. Apakah dalam perjalanan akan dihadang kemacetan, hujan, atau apa saja yang dapat ”menggoda” benak kami menjadi kurang nyaman dalam perjalanan. Saya menyadari apa pun dapat terjadi atas kami. Lelah pikiran dan fisik oleh karena anak didik kami mungkin ada yang kurang enak badan, yang tentu memerlukan perhatian lebih khusus. Kalau satu sampai dua anak mungkin tidak merepotkan, tetapi jika banyak anak yang menderita karena beragam faktor, inilah yang cukup merepotkan. Belum lagi kalau ada persoalan-persoalan di luar keberadaan anak. Wah... tentu semakin merepotkan.

Itulah sebabnya saya meluruhkan segala pikiran yang membebani itu. Tidak ada jalan yang dapat ditempuh untuk menentramkan batin, kecuali harus mau berserah kepada Sang Khalik, Sang Pemilik Keberlangsungan. Keyakinan bahwa dalam perjalanan Tuhan akan senantiasa hadir menjadikan kelegaan benak karena kami tentu dapat melayani. Sukacita tetap ada, dan itulah yang menjadikan semuanya tetap mengalir serupa air meski kadang terhadang bebatuan atau benda-benda lain di sungai, namun kemudian kembali meluncur menuju muara yang membebaskan. Sebagian kesibukan Jakarta, pusat pemerintahan dan Bandung, mojang periangan, akan tercatat lewat kerlip mata kami.

6 komentar:

  1. Wah, ternyata Anda guru.
    Makasih kunjungannya ke blog saya Pak Guru...
    Salam kenal,

    Donny Verdian
    http://www.donnyverdian.net

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. untuk komentar memang agak sulit pak harus punya account di google dul, wordpress n lainnya

    BalasHapus
  4. @Om Donny,
    Ya,Om, saya guru. Dukung dalam doa agar saya dapat menjadi guru yang dimampukan Tuhan untuk membawa anak-anak didik pada perkembangan potensi yang mereka miliki.

    Perkenalan Om Donny sungguh berarti bagi saya. Mari kita terus berkerabat meski tak pernah bertemu langsung. Salam kekerabatan.

    @Pak Sesyp,
    Oh gitu, ya Pak. Terima kasih atas info dan kunjungan Panjenengan ke blog ini. Salam kekerabtan.

    BalasHapus
  5. wah, saya juga tak sanggup menolak ketika didaulta utk mendampingi anak2, pak, idep2 utk merefresh pikiran. bisa bercanda sama anak2.

    BalasHapus
  6. Benar juga ya (Pak/Bu, maaf tidak tahu Anda "Bapak" atau "Ibu" he...he...) Bindo,orang hidup memang perlu penyegaran, agar ketika melayani orang yang membutuhkan kita, tetap terlihat ceria, simpati, dan empati. Terima kasih atas komentar dan kunjungan Panjenengan ke blog ini. Salam kekerabtan.

    BalasHapus

""