Kamis, 15 April 2010

Menghayati Fenomena Hidup, Obat Mujarab

Menghayati Fenomena Hidup, Obat Mujarab

Tahun yang lalu, selama berbulan-bulan saya -melalui diagnosis dokter- menderita penyakit tipes. Namun, karena saya termasuk guru yang baru di sekolah tempat saya bekerja sekarang, saya kurang berani terlalu lama tidak masuk sekolah. Oleh karena itu, dalam kondisi tubuh kurang sehat, saya pun tetap mengajar. Untuk menjaga stamina tubuh di kelas, saya selalu membawa sebotol air putih untuk diminum sebagai pengganti keringat yang terus mengucur secara tidak wajar. Tidak wajar karena keringat yang keluar sangat banyak sampai-sampai rambut saja basah kuyup seperti habis keramas, namun wajah terlihat pucat. Hal seperti itu berlangsung relatif lama.

Oleh karena itu, sehabis jam mengajar, meski masih pagi, karena sehari tidak selalu penuh mengajar, saya selalu pamit pulang. Di rumah, langsung beristirahat, tidur. Bahkan untuk menjaga agar stamina badan benar-benar baik, sebelum tidur saya paksakan makan meskipun terasa tidak enak. Juga konsumsi banyak air putih sehingga sering ke ”belakang”, buang air kecil. Akan tetapi, kondisi tetap saja tidak segera pulih.

Konsultasi ke dokter penyakit dalam berkali-kali. Diberi obat cukup banyak. Saya harus menelannya. Ada satu tablet, saya lupa namanya, tetapi sepertinya dalam kertas gerenjeng pembungkusnya ada tertulis ”megavit” -mungkin di dalamnya terkandung banyak/besar vitamin, demikian perkiraan saya saat itu. Setelah saya minum, beberapa saat kemudian ke ”belakang”, kencing dalam jumlah yang banyak dan warnanya kuning jernih. Lantas, tubuh seakan-akan demikian ringan, melayang, serupa orang mabuk.

Sampai-sampai pada suatu saat, ketika saya mengajar di sebuah kelas, duduk saja di kursi guru, merenungkan hidup. Tebersit dalam pikiran saya, mungkin saja sebentar lagi saya mati karena sakit tak kunjung sembuh. Muncul ketakutan-ketakutan, kekhawatiran-kekhawatiran yang terus berseliweran menyusul pikiran-pikiran kotor, yakni bagaimana nanti isteri dan anak-anak jika saya mati. Kasihan mereka. Siapa yang harus diajak rembugan oleh isteri jika sedang ada problem keluarga. Anak-anak tidak lagi memiliki figur ayah. Tentu hidup mereka akan sangat menderita. Inilah pikiran-pikiran jahat yang terus berkecamuk sungguh mengganggu. Tidak ada ketenangan, kedamaian, dan kesejahteraan batin.

Dalam kekalutan seperti itu, tiba-tiba pikiran saya terbawa pada kepindahan adik saya sekeluarga dari Solo ke Kudus belum beberapa lama. Bisa jadi kepindahan mereka itu memang rencana Tuhan untuk keluraga saya. Artinya, jika suatu saat saya ”dipanggil” Tuhan, keluarga yang saya tinggalkan tetap memiliki tempat bertaut, khususnya yang sedarah dengan saya, yakni adik saya. Dengan demikian, isteri saya tentu tetap memiliki kekuatan untuk mengawal anak-anak hingga dewasa. Anak-anak pun akan selalu memiliki kemampuan untuk mengarungi kehidupan yang teralami. Yang saya hayati ketika itu adalah mereka pasti senantiasa dipelihara Tuhan melalui Tuhan mengirim adik saya sekeluarga ke daerah, tempat kami tinggal.

Nah, penghayatan itu, ternyata sungguh memberikan kelegaan bagi saya. Ketakutan dan kekhawatiran yang telah merampas rasa damai dan sejahtera benak, kini berganti menjadi kemantapan dan keberanian untuk menghadapi apa pun yang diberikan Tuhan kepada saya. Tidak ada lagi pikiran-pikiran negatif, semisal, nanti bagaimana isteri dan anak-anak jika saya mati, hidup mereka pasti akan kesepian, anak-anak tentu tidak selincah ketika ayahnya masih ada. Sama sekali bayangan-bayangan semacam itu lenyap dari benak saya. Yang muncul justru kenyamanan, ketenangan, dan kesejukan jiwa. Luar biasa!

2 komentar:

  1. sungguh, sebuah pengalaman yang sarat hikmah, pak sungkowo. memang bukan hal yang mudah utk bisa menetralisir suasana kegetiran dan kepahitan hidup ketika kita tengah diuji. tapi yakinlah, pak, Tuhan tak akan pernah memberikan ujian di luar batas kemampuannya. pak sungkowo pasti bisa menghadapi masa2 pedih itu. insyaallah, pak sungkowo bisa segera fresh.

    BalasHapus
  2. Ya, Pak Sawali, tak ada jalan lain kecuali hanya bertaut kepada Sang Khalik. Terima kasih atas motivasi positif Bapak. Atas restu banyak orang, termasuk Panjenengan, sekarang saya sudah fresh dan semoga terus terjadi demikian atas diri saya karena pertolongan Sang khalik. Salam kekerabtan.

    BalasHapus

""