Kamis, 29 April 2010

Pemilihan Citra Kartini yang "Rendahkan" Perjuangan Kartini


Pemilihan Citra Kartini yang ”Rendahkan” Perjuangan Kartini
(Melihat dari Dekat Pemilihan Citra Kartini Indonesia 2010 Kabupaten Kudus)

Ajang Pemilihan Citra Kartini Indonesia 2010, yang digagas oleh Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kabupaten Kudus bekerja sama dengan beberapa komunitas entertainer yang berada di Kudus, di antaranya Studio 5, Berlian Wedding, dan Fotoku, usai sudah.

Acara yang digelar di lokasi Museum Kretek Kudus, Rabu (28/4), dikuti berbagai sekolah dari tingkat SMP/MTs hingga SMA/MA/SMK negeri dan swasta se-Kabupaten Kudus. Kurang lebih 40-an pasang peserta, sebelum acara dimulai transit dulu di rumah adat Kudus yang terasa sesak dan pengap karena di samping rumah memang berukuran sedang, juga dalam kondisi jendela tertutup kecuali beberapa pintu yang ada di depan dan samping. Agaknya panitia, yang berasal dari jajaran Disparbud Kudus, kurang memperhatikan pelayan akomodasi peserta.

Itulah sebabnya, ketika acara belum dimulai karena mundur satu setengah jam dari rencana, banyak peserta yang keluar masuk dari dalam area transit. Mereka tampak kegerahan. Akan tetapi, masih terbaca dari wajah mereka energi semangat mengikuti kontes yang dipilah jadi dua kategori itu, yakni pasangan Kartini Klasik dan pasangan Kartini Mulsim. ”Ini baru yang pertama kali sehingga kebanyakan peserta diikuti oleh sekolah negeri, belum banyak Mts, MA, dan swasta yang mengikuti, semoga untuk tahun-tahun mendatang lebih banyak lagi yang berminat,” harap salah satu pembawa acara dari atas panggung yang didirikan persis di depan rumah adat Kudus itu. Pembawa acara yang tampaknya sepasang duta wisata Kudus itu cukup menghangatkan acara karena joke-joke yang kadang dilontarkan untuk menyemangati para peserta.

Mundurnya acara yang demikian panjang, oleh Kepala Disparbud Kudus, Hadi Sucipto, diakuinya karena para peserta memerlukan waktu relatif lama dalam berdandan. Dalam sambutannya dikatakan, pemilihan citra Kartini Indonesia 2010 ini bertujuan untuk mengajak generasi muda terus mengenang semangat Kartini, yang memang telah sesuai dengan tema acara, yakni ”Jangan Lupakan Kartini!”. Perhelatan yang dihadiri oleh beberapa pejabat di Kudus itu, dibuka oleh Asisten Tiga Bupati Kudus, Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesra, mewakili bupati yang tidak dapat menghadiri acara tersebut karena ada perjalanan dinas ke Jakarta. Dalam pidato tertulisnya, yang dibacakan oleh Asisten Tiga, bupati menekankan betapa pentingnya meneladani tokoh Kartini di masa sekarang ini, hanya memang disesuaikan dengan konteks kekinian. Semangat ingin terus maju, memberontak lepas dari kungkungan ”kegelapan”, hendaknya menjadi etos kekaryaan dalam keberlangsungan hidup generasi muda. Jangan menjadi generasi yang satgnan, mandeg, tanpa inisiatif. Generasi muda harus terus kreatif dan berinovasi.

Agaknya, spanduk yang bertulisan ”Pemilihan Citra Kartini Indonesia 2010”, yang terpasang di atas pintu gerbang masuk Museum Kretek Kudus mengandung makna yang terlalu bombastis. Sebab, realitanya dalam kontes tersebut juri hanya menilai segmen penampilan para peserta, yang terwakili dalam keserasian pakaian dan mak eup, cara berjalan, kecantikan, dan hal-hal lain yang tampak oleh mata. Sementara, kepribadian, apalagi brain (gagasan-gagasan, pemikiran, visi ke depan, misalnya) sama sekali tak tersentuh oleh juri. Jelas bentuk ’pemilihan” semacam itu kurang memberi apresiasi secara komprehensif akan ketokohan Kartini, sebagai pahlawan bangsa. Disadari atau tidak, seakan-akan perjuangan Kartini yang bernilai demikian ”berarti” bagi kemajuan kaum wanita khususnya dan Indonesia umumnya -melalui ajang Pemilihan Citra Kartini Indonesia 2010- masih dimaknai demikian rendah.

Karena yang dinilai lebih pada tataran yang bersifat jasmaniah, lebih elegan kalau panitia mengemas acara tersebut dalam tajuk, misalnya, ”Pemilihan Peraga Busana kartini Indonesia 2010”. Kata ”citra” lebih mewakili ketokohan tak hanya sebatas pakaian, tetapi lebih pada kepribadian, pemikiran, kegigihan Kartini dalam memperjuangkan kemajuan bangsa.

Akan tetapi, kerja keras panitia yang dapat menelurkan jawara dalam kategori Kartini klasik dan Kartini muslim perlu diapresiasi positif. Kategori Kartini klasik untuk tingkat SMP/Mts dimenangkan SMP 1 Jati Kudus, sedangkan di kategori Kartini muslim SMP 1 Jati Kudus hanya menduduki peringkat kedua. Di samping itu, ada juga pemenang untuk tingkat SMA/MA/SMK, baik kategori Kartini klasik maupun Kartini muslim.

Dari perhelatan ini diharapkan panitia dapat belajar, untuk mendapatkan pijakan-pijakan -yang lebih mengokohkan ketokohan Kartini, sebagai pahlawan bangsa- dalam ajang serupa di tahun-tahun mendatang. Semoga.

3 komentar:

  1. sukses ya pak acaranya, semoga muncul kartini-kartini baru yang membawa negeri ini menjadi lebih bermartabat

    BalasHapus
  2. saya setuju dengan perubahan nama itu..
    biar lebih cocok dengan realita
    :)

    BalasHapus
  3. itu dia, pak sungkowo, yang bikin saya ndak habis pikir. mind-set para pejabat dalam memandang ketokohan kartini tak lebih dari kacamata lahiriahnya saja. pencitraan yang terbangun melalui event semacam ini pasti akan tereduksi seolah2 kartini identik dengan busana. repot!

    BalasHapus

""