Kamis, 01 April 2010

Perlu, Pembiasaan Membaca

Perlu, Pembiasaan Membaca

Sejak try out menghadapi Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) hingga selesai UASBN, jika peserta didik -meski tidak semuanya- ditanya mengenai soal bahasa Indonesia, jawabnya dapat dipastikan hampir sama, yakni bacaannya panjang-panjang dan membuat pusing kepala. Bacaan dalam soal bahasa Indonesia panjang-panjang, memang harus diakui. Bisa satu paragraf terdiri atas lima kalimat atau lebih; bisa beberapa paragraf yang setiap paragrafnya variatif jumlah kalimatnya. Teks-teks bacaan itu terkait dengan materi uji keterampilan membaca. Akan tetapi, dalam materi uji keterampilan menulis tidak jarang juga dijumpai soal yang teks bacaannya panjang. Meskipun soal-soal itu berbentuk pilihan ganda, untuk dapat menentukan satu jawaban benar, peserta didik tetap harus membaca teks bacaan yang disuguhkan itu hingga paham.

Harus pula diakui bahwa tingkat kesulitan teks bacaan yang disuguhkan itu beragam. Ada teks bacaan yang mudah dipahami karena menggunakan kalimat-kalimat pendek dan isinya sesuai dengan konteks kehidupan peserta didik. Namun, ada juga teks bacaan yang sulit dipahami karena di samping menggunakan kalimat-kalimat panjang, juga muatan isinya jauh dari konteks kehidupan peserta didik.

Peserta didik yang merasa ”terbeban” ketika menghadapi soal bacaan, sesungguhnya dapat dipetakan. Pertama, kemungkinan peserta didik menderita gangguan penglihatan. Kasus ini jelas dapat diatasi dengan memakai kacamata. Kedua, kemungkinan peserta didik kurang terbiasa membaca. Agaknya kasus yang kedua inilah yang lebih banyak melatarbelakangi ”ketidakjenakan” peserta didik menghadapi soal-soal bahasa Indonesia.

Kenyataan itu tampaknya selaras dengan peringkat yang diperoleh peserta didik/siswa Indonesia dalam aspek kemampuan membaca yang masih rendah jika dibandingkan dengan siswa negara lain. Satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa, dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalah penelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yang disponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia. (Kompas, 28 Oktober 2009).

Terkait dengan rendahnya kemampuan membaca peserta didik, pertama, peran guru tidak bisa diabaikan. Guru memiliki peran penting dalam mendongkrak peringkat kemampuan membaca peserta didik. Tidak cukup guru menasihati agar peserta didik gemar membaca, tanpa menyediakan bahan-bahan bacaan yang menarik bagi peserta didik. Mengingat kemampuan guru terbatas, sekolah perlu mengadakan buku-buku bacaan untuk peserta didik dengan cara tidak hanya menunggu subsidi pemerintah, tetapi perlu juga memiliki ”kelincahan” mencari dana dari masyarakat demi memenuhi koleksi buku di perpustakaan sekolah.

Fasilitas tersebut paling tidak akan mempermudah upaya untuk membiasakan peserta didik membaca karena bahan tersedia. Caranya, perlu dijadwal kunjungan perpustakaan bagi peserta didik secara bergilir dan terus-menerus. Tidak cukup sampai di situ, peserta didik yang telah mengadakan kunjungan perpustakaan diwajibkan pula membaca satu atau lebih buku dan wajib membuat laporan/catatan-catatan penting atau resensi atas buku tersebut dalam rentang waktu tertentu. Hasilnya diserahkan kepada guru untuk diberi reward, terserah guru masing-masing bentuk reward-nya, yang penting peserta didik merasa senang.

Upaya ini mengharuskan semua guru turut berperan. Tidak cukup guru bahasa Indonesia dan Inggris yang memang memiliki muatan materi pembelajaran membaca dan menulis. Mengapa? Sebab, pada hakikatnya semua mata pelajaran memerlukan kegiatan membaca dalam menguasai materi. Itulah sebabnya tidak ada salahnya jika semua guru juga mendorong peserta didik gemar membaca melalui pemberian tugas sesuai dengan mata pelajaran masing-masing meskipun di soal UASBN untuk mata pelajaran selain bahasa Indonesia dan Inggris tidak memuat teks bacaan yang panjang.

Lebih dari semua itu perlu digairahkan keteladanan gemar membaca dari guru di mana dan kapan saja sekaligus diikuti kegiatan menulis. Guru jangan sekadar gampang berteori, tetapi nyata-nyata mempraktikkan apa yang dianjurkan kepada peserta didik. Keteladanan yang diberikan harus konsisten dan berkelanjutan, tidak hangat-hangat tahi ayam. Ketika teladan yang diberikan belum membuahkan hasil, jangan lantas patah semangat. Terus berusaha dan pantang mengenal lelah.

Upaya tersebut tidak akan sia-sia tentunya. Pasti akan memperkaya wawasan guru, yang dapat dipakai sebagai bekal mengajar di hadapan peserta didik. Guru yang demikian tentu akan lebih mudah berinovasi dan berkreasi dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya menyenangkan peserta didik. Melalui proses demikian, harapannya peserta didik meneladani guru-guru mereka.

Kedua, pembiasaan perlu juga digalakkan dalam lingkungan keluarga. Keluarga yang berkemampuan dan memahami betapa pentingnya pengembangan pendidikan -terlebih demi mengawal anak-anak meraih masa depan- tentu lebih mudah mewujudkan perpustakaan keluarga. Sementara keluarga yang kurang mampu, di era yang demikian ini, semestinya oleh pemerintah setempat diajak bersama-sama mengadakan perpustakaan warga sebagai fasilitas belajar publik. Apalagi kalau dapat membangun kebersamaan antarwarga tanpa ada pembedaan kelas sosial untuk mewujudkan komunitas gemar membaca, tentu sangatlah membanggakan. Komunitas Merapi, yang beralamat di Dusun Gemer RT02/RW07, Ngargomulyo, Dukun, Magelang, yang dikomandoi oleh Gendhotwukir dan teman-teman, misalnya, telah membuktikan penduli pembelajaran publik lewat Rumah Baca Merapi di daerah gempa Bantul dan Rumah Baca Merapi di lereng Merapi.

Yang mendapatkan manfaat dari rumah baca tersebut tidak terbatas pada anak-anak sekolah, tetapi juga masyarakat petani yang bermukim di wilayah itu. Dengan demikian, profesi petani atau profesi lain yang digeluti oleh warga setempat akan diperkaya melalui rumah baca tersebut.

Ketiga, menyadari gempuran media audio-visual mutakhir yang menyuguhkan tampilan perpaduan antara warna, gambar, dan suara yang semakin menarik menghibur, disadari atau tidak, menyedot perhatian masyarakat. Anak-anak yang memang menyukai hiburan jelas lebih memilih media tersebut daripada buku atau teks bacaan lain. Oleh karena itu, keluarga/masyarakat perlu menerapkan jam belajar keluarga/masyarakat. Dengan demikian, kegiatan belajar anak di rumah tidak hanya ada dalam suasana yang kondusif, tetapi juga terkontrol.

Kalau pembiasaan yang demikian didukung oleh banyak pihak dan dimulai sejak usia dini, maka anak-anak (baca: peserta didik) ketika menghadapi soal-soal dengan bacaan yang panjang seperti pada soal UASBN bahasa Indonesia dan Inggris tetap akan bisa menikmati dengan batin yang nyaman. Dengan demikian, soal dengan bacaan yang panjang tetap bisa dipertahankan karena menurut Jakob Oetomo, membaca memberikan ruang dan waktu untuk melakukan refleksi intelektual, merangsang cara berpikir kritis, dan memberikan kemampuan membuka, serta memperbarui diri. (Kompas, 28 Maret 2010).

2 komentar:

  1. benar sekali, pak sungkowo.budaya literasi di negeri ini memang terlalu jauh dibandingkan dengan negeri jiran. negeri lain sudah nberada di jalur tol peradaban, negeri kita masih bersikutat di balik semak2. utk anak2 dalam menghadapi soal UN B Ind, mereka sering saya sarankan utk membaca dan memahami maksud pertanyaannya, baru baca teksnya agar bisa lebih smafrt dan efektif.

    BalasHapus
  2. Terima kasih komentarnya, Bindo. Marilah kita mulai dari lingkungan terkecil yang ada di sekitar kita! Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""