Sabtu, 03 April 2010

Permainan Tradisional, peletak Dasar Moral

Permainan Tradisional, Peletak Dasar Moral

Setiap bulan purnama, apalagi jika bertepatan dengan masa libur sekolah, sekitar 30 tahun yang lalu, saya sungguh dapat merasakan betapa persahabatan dengan teman-teman sekampung melalui permainan tradisional semacam gobak sodor, petak umpet, jamuran, dan permainan tradisional lainnya memiliki nilai yang demikian tinggi. Tidak membedakan gender. Laki-laki dan perempuan memiliki akses yang sama dalam menentukan keputusan di permainan itu. Sangat demokratis. Perempuan dapat saja memimpin permainan, sebaliknya laki-laki dipimpin. Saya merasakan, ketika itu, hal demikian tidak menjadi persoalan. Satu dengan yang lain saling menghormati/menghargai.

Orangtua kami, biasanya, jagongan sembari melihat permainan yang kami lakukan. Jagongan adalah kumpul-kumpul dalam suasana santai membiacarakan berbagai hal tanpa ada penentuan topik tertentu. Jadi, dalam sekali jagongan dapat membicarakan berbagai topik. Mereka memberikan suport, tak peduli kelompok mana yang menang, apakah di kelompok itu ada anaknya atau tidak. Dan, pemberian motivasi yang begitu itu ternyata menyulut kami tampil secara sportif. Kalau pada akhirnya ada yang kalah dan menang, itu hal biasa dan yang kalah menghadapinya dengan berjiwa besar. Tidak marah, tidak ngambek, apalagi melakukan tindakan yang anarkis. Uhh.... tidak ada itu. Justru yang terjadi adalah tidur kami malam itu demikian nyenyak karena batin terasa damai dan nyaman. Paginya, raut muka cerah menatap hari baru.

Meski pekerjaan kami, kala itu, selain sebagai pelajar, membantu orangtua menggembalakan hewan piaraan, mencari rumput, mencari kayu bakar selalu menunggu dan tentu melelahkan. Akan tetapi, kami lakukan dengan baik, tetap dalam suasana batin yang senang, dapat bernyanyi, bersiul bersahut-sahutan karena kami lebih sering melakukan pekerjaan itu bersama-sama. Ada satu permainan yang saat itu belum kami sadari bahwa sebenarnya permainan itu tergolong judi, namanya gor. Saat kami mencari kayu bersama, misalnya, sekadar untuk melepas lelah dan berspekulasi, kami bermain gor. Caranya, setelah melalui kesepakatan, masing-masing di antara kami harus mengumpulkan kayu dengan jumlah sama. Taruhlah misalnya, kalau satu orang lima batang kayu, yang lain juga lima batang kayu. Kayu-kayu itu kemudian dikumpulkan menjadi satu. Kami lantas beradu dengan memanfaatkan sarana sabit/parang yang kami miliki, tanah agak lapang, dan sebatang kayu sebagai pasak yang ditancapkan di tanah. Kami harus berada jauh dari pasak tersebut sesuai dengan jarak yang disepakati. Selanjutnya, secara bergantian, kami melempar sabit/parang masing-masing ke arah pasak tadi. Kami segera meyaksikan posisi sabit/parang yang terlempar. Sabit/parang yang terletak paling dekat dengan pasak, pemiliknya menjadi pemenang dan karenanya berhak memiliki sekumpulan kayu tadi. Permainan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai kesepakatan. Yang jelas, yang menang tentu dapat langsung beristirahat karena telah mendapat banyak kayu sembari menanti teman yang kalah untuk mencari kayu lagi hingga memenuhi target, semisal satu pikul, baru kemudian pulang bersama-sama. Dan, yang pasti tidak ada perasaan bermusuhan meskipun dalam permainan gor tadi, ada yang kalah dan menang.

Sayang, permainan tradisional yang dapat meletakkan dasar-dasar moral dalam hidup bermasyarakat itu, kini, telah menghilang bersamaan dengan munculnya permainan-permainan modern yang cenderung bersifat tertutup dan individualistis. Anak telah merasa puas bermain di ruang komputer, semisal lewat video game atau play station yang menyajikan begitu banyak permainan, tanpa melibatkan teman sebaya. Akan tetapi, disadari atau tidak, permainan jenis kedua ini lebih banyak membentuk pribadi yang cenderung kurang ramah, sulit bergaul, mementingkan diri sendiri, jauh dari nilai-nilai kebersamaan dan kesetiakawanan.

Jadi, mungkin kini sering muncul tawuran antarpelajar, antarmahasiswa, antarkelompok masyarakat, dan demonstrasi yang cenderung anarkis, serta pelajar kurang berkompetisi secara sportif, juga pelajar terlibat tindak kriminal karena memang mereka tidak pernah bersentuhan dengan permainan tradisional. Mereka yang setiap hari disibukkan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah sudah seharusnya diberi ruang untuk bersosialisasi. Memang ada guru-guru kreatif yang kala melaksanakan pembelajaran mengembangkan model-model yang memuat nilai-nilai kebersamaan, spontanitas, sportivitas, dan kompetisi yang positif. Akan tetapi, tidak berjumlah banyak. Oleh karena itu, penting kiranya menggugah pelestari-pelestari permainan tradisional -yang banyak memuat nilai moral itu- di masa sekarang ini, yang tentu harus difasilitasi oleh pemerintah daerah melalui dinas/departemen terkait.

Ketika anak-anak binaan kami yang tergabung dalam Teater Jasmine, milik SMP 1 Jati Kudus, Jawa Tengah, berlatih dan kami minta untuk menggali permainan-permainan tradisional untuk dipresentasikan/ditampilkan, anak-anak sungguh bergairah. Ketika secara bergilir di antara kelompok yang terbentuk menampilkan temuannya, terungkap nilai-nilai moral, semisal kebersamaan, kepemimpinan, kerja keras, dan rela berkorban dalam permainan yang dilakukan dengan penuh kegembiraan itu.

Mengingat kontribusi permainan tradisional terhadap pembentukan moral dan mental anak demikian signifikan, maka fenomena semakin tidak dikenalnya permainan tradisional oleh generasi penerus bangsa ini patut diprihatinkan. Jangan biarkan anak-anak semakin kehilangan budaya leluhurnya!

6 komentar:

  1. wah, saya kangen banget dengan permainan tradisional masa kecil, seperti bentik, jamuran, sodor (go back so door), egrang, bancakan, sampai kucing2an. anak2 saya sekarang sudah ndak mengenal permainan jenis seperti ini, pak. ruang mereka bermain juga sudah makin menyempit.

    BalasHapus
  2. Saya kangen dengan permainan seperti gobak sodor, jamuran...juga nembang saat bulan purnama.
    Dan karena cewek, main pasaran dengan bahan diambil dari dedaunan sekitarnya...juga bikin mobil2an dari kulit jeruk Bali.

    Sekarang..anak-anak lebih suka main depan kompie....atau ke Mal.
    Ntar cucuku kayak apa ya? ...hihihi

    BalasHapus
  3. @Pak Sawali
    Mungkin akan lebih baik meski ruang bermain mereka semakin menyempit suatu saat tetap dimunculkan permainan-permainan tempo dulu sehingga anak-anak tidak akan kehilangan warisan leluhur ya, Pak. Salam kekerabatan.

    @Bu Edratna
    Semoga kelak timbul kejenuhan anak-anak untuk main di mal dan di depan kompie, ya Bu. Kemudian mereka menemukan jenis permainan yang memiliki nilai psikologis, fisiologis, dan sosiologis. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  4. @p.sungkowo: bagus pak..
    lmba teater slain d djarum gak ada??

    BalasHapus
  5. jd punya ide buat bikin skripsi ttg permainan tradisional :) mkasii :)

    BalasHapus
  6. @Anonim

    Sama-sama. Semoga skripsi yang sobat rencanakan mengangkat topik permainan tradisional menambah kasanah ilmu pengetahuan banyak insan. Selamat, ya.

    BalasHapus

""