Minggu, 18 April 2010

SAAT ANAK MEMILIH SEKOLAH, ORANGTUA TAK HARUS DIAM

Saat Anak Memilih Sekolah, Orangtua Tak Harus Diam

Beberapa hari terakhir ini, anak SD, SMP, dan SMA, yang berada di kelas sulung pikirannya telah digelisahkan oleh banyaknya pilihan jenjang pendidikan/sekolah kelanjutannya. Kalau hendak dipilah kecenderungan pilihan anak, tampaknya bisa didasarkan pada komunitas teman terbanyak, sekolah yang difavoritkan karena mutu, sekolah yang relatif dekat dengan tempat tinggal, dan biaya pendidikan/sekolah.

Terutama anak SD/MI menuju ke SMP/MTs dan SMP/MTs menuju ke SMA/MA/SMK, perlu mendapat perhatian lebih serius dari orangtua karena dalam taraf usia mereka cenderung belum memiliki pertimbangan-pertimbangan kritis dalam menentukan pilihan. Umumnya mereka mudah terpengaruh komunitas teman terbanyak. Maksudnya kalau ada sejumlah banyak teman memilih sekolah ”A”, ia pun memilih sekolah ”A”; jika sejumlah banyak teman memilih sekolah ”B”, ia pun menjatuhkan pilihan ke sekolah ”B”. Seakan-akan mereka bertumpu pada emosional belaka, yang penting menyenangkan. Senang karena terus dapat berkumpul dengan teman-teman lama.

Anak taraf usia seperti itu belum realistis memandang keadaan. Bisa jadi hanya karena telah terbiasa berkumpul dengan teman tertentu, memaksa diri sekolah di tempat yang sama meski memiliki keberbakatan/potensi yang berbeda. Taruhlah misalnya, si A yang berbakat menari seharusnya memasuki Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI), tetapi ternyata masuk SMK oleh karena hanya ingin tetap dapat berkumpul dengan si B yang berbakat dalam bidang TIK. Ini jelas si A kurang realistis dalam menentukan pilihan. Sikap demikian akan sangat merugikan perkembangan potensi dasar yang telah dimilikinya.

Atau mungkin, sejumlah banyak teman -karena memiliki kemampuan di atas rata-rata- memasuki sekolah yang difavoritkan, sementara karena si A kemampuannya terbatas tidak bisa mengikuti. Ini dapat menimbulkan sikap dilematis. Mau turut merasa tidak mampu, tidak turut berarti berpisah dengan teman. Bisa saja kemudian muncul rasa minder berlebihan, yang dapat menimbulkan keterputusan komunikasi dengan teman. Anak menjadi introver dan bersikap apatis. Ini yang sangat berbahaya bagi perkembangan seluruh aspek kehidupan anak.

Dengan demikian, peran orangtua memberikan pendampingan anak -setingkat pendidikan dasar- di dalam menentukan pilihan bersekolah amat penting. Orangtua harus memberi ruang bagi anak untuk membangun komunikasi. Sebab, disadari atau tidak, menjelang musim penerimaan peserta didik baru, seperti waktu-waktu ini, anak telah banyak membawa bahan pembicaraan ke rumah untuk diadukan ke orangtua, yakni dari sekolah yang difavoritkan hingga yang dinomorsekiankan; dari anak suka masuk di sekolah tertentu hingga tak suka masuk di sekolah tertentu. Seperti anak kami, yang kini kelas VI, yang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN)-nya baru Mei nanti, telah berulang kali mendiskusikan dengan saya tentang teman-teman sekelasnya yang mau masuk ke banyak pilihan SMP. Ada yang mau masuk ke SMP ”A” karena termasuk sekolah (bertarif, ehh... maaf!) bertaraf internasional (SBI), ada yang mau masuk ke SMP ”B” karena uang pembangunan murah, ada yang mau masuk ke SMP ”C” karena relatif dekat dengan rumah.

Pertimbangan-pertimbangan realistis nan lengkap perlu dibuka di hadapan anak ketika hendak menjatuhkan pilihan. Jangan sampai salah memilih. Sebab, kesalahan memilih dapat menimbulkan rasa kecewa di kemudian hari, yang dapat saja berdampak pada rendahnya motivasi belajar. Oleh karena itu, penting didiskusikan dengan anak perihal, misalnya, jarak sekolah dari rumah, alat transportasi yang digunakan, tingkat kemacetan jalan menuju sekolah, prestasi sekolah, bahkan termasuk anggaran yang ada dalam keluarga. Bukan berarti hal demikian menambah beban pikiran anak, tetapi lebih mengarahkan anak -yang masih berpendidikan dasar itu- untuk secara bersama mengambil keputusan tertepat bagi dirinya.

Tentu berbeda dengan anak SMA/MA/SMK yang hendak masuk ke perguruan tinggi (PT). Kecenderungan mereka lebih kritis dalam menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang relatif mantap. Pilihan mereka tentu telah relevan dengan visi hidup mereka. Potensi/keberbakatan yang dimiliki menjadi acuan dalam memilih jurusan/fakultas. Pola grubyak-grubyuk, mengikuti komunitas teman terbanyak, yang begitu kental pada anak usia pendidikan dasar, agaknya tidak dijumpai pada anak usia pendidikan menengah. Mereka tentu lebih fokus, teguh, dan berpendirian kuat. Tidak mudah terpengaruh. Ya... kalau ada anak berkeinginan memasuki jurusan/fakutas kurang sesuai dengan potensi/bakat yang dimiliki, barangkali orangtua perlu memberikan masukan yang dapat mengarahkan anak itu pada pilihan yang lebih tepat.

Artinya, kalau hingga kini masih sering dikumandangkan ”biarlah anak memilih pendidikan/sekolah sesuai dengan keinginannya, sementara orangtua tinggal menuruti” tidaklah selalu baik. Memang benar jika keinginan anak tidak dituruti menimbulkan kekecewaan yang melukai benak anak. Akan tetapi, lebih kecewa lagi kalau akhirnya diketahui bahwa keinginan yang dituruti itu tidak pas dengan potensi dasar anak -yang berdampak pada disorientasi masa depan. Oleh karena itu, keinginan anak perlu dicermati orangtua karena tidak setiap keinginan anak itu baik bagi tumbuh kembangnya. Apalagi kalau anak itu masih taraf pendidikan dasar, keinginannya lebih banyak didasarkan pada perasaan belaka.

Penting dibicarakan secara terbuka dengan anak perihal anggaran pendidikan yang ada di keluarga, terutama di keluarga yang memiliki banyak tanggungan menyekolahkan anak dengan anggaran pas-pasan. Penting karena cara demikian dimungkinkan dapat mengondisikan anak-anak lebih berhati-hati. Dan, ini berarti membawa anak pada pola kehidupan lebih dewasa.

Dan, yang terpenting orangtua tidak memaksakan kehendak. Sebab, memaksakan kehendak akan berakibat fatal. Tidak hanya membunuh karakter anak, tetapi memadamkan lentera komunikasi anak dan orangtua. Nah, dengan demikian, memunculkan bentuk-bentuk komunikasi persuasif dalam menentukan pendidikan untuk anak perlu dikembangkan.

7 komentar:

  1. Njenengan bener sekali, Pak. Dalam hal ini kewajiban orang tua adalah mengarahkan dan memang tentunya jangan sampai memaksakan kehendak sendiri tanpa mempertimbangkan keadaan si anak.

    BalasHapus
  2. Saya sepakat pak, orangta harus mendampingi anak dalam menentukan pilihan. Orangtua bisa berperan sebagai sabahat, konsultan, serta memberikan keuntungan dan risiko dari masing-masing pilihan. Sekaligus memberikan pengertian kepada anak, bahwa kita bisa belajar dengan teman baru, yang artinya akan bertambah teman...karena bukankah kita akan selalu ketemu orang baru di kehidupan kita?

    BalasHapus
  3. memang benar, pak, ortu perlu memberikan pandangan terbaik buat si anak dan pilihan terakhir ada bagusnya diberikan kepada anak, sehingga ortu tak menjadi tumpahan kesalahan ketika anak tengah menghadapi masalah.

    BalasHapus
  4. @Pak Mursyid
    Menciptakan alam demokrasi antara orangtua dan anak memang perlu ditumbuhkan, terutama, di masa sekarang ini, ya, Bapak. Sebab, menciptakan keberanian anak untuk berani beropini sungguh modal yang penting bagi anak-anak kita menempuh masa depan mereka. Terima kasih atas komentar Bapak. Salam kekerabtan.

    @Bu Edratna
    Komentar Ibu sungguh inspiratif. Ada banyak makna yang tampaknya dapat digali dari komentar Ibu. Terima kasih komentar Ibu. Salam kekerabtan.

    @Pak Sawali
    Ya... saya setuju dengan pendapat Bapak. Pilihan terakhir memang tepat diberikan kepada anak sebab memang anaklah yang
    melakukan aktivitas pilihannya itu, dan sebagai ortu mendorong dan berdoa demi keberhasilan anak, ya Pak. Terima kasih komentar Bapak. Salam kekerabtan.

    BalasHapus
  5. SANGAT SETUJU PAK, KEBETULAN ANAK SAYA SEDANG MENCARI SEKOLAH LAGI UNTUK ME;LANJUTKAN KE PENDIDIKAN YANG LEBIH TINGGI, INI BERMANFAAT PAK

    BalasHapus
  6. Terima kasih. Dan, saya mendukung dari jauh untuk menemukan tempat "berlabuh" mendidik diri bagi putra Bapak. Salam kekerabtan.

    BalasHapus
  7. tidak sepenuhnya idealisme anak harus dipenuhi, tetapi sepanjang itu ia mampu jalani. sepatutnya orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya. alangkah baikknya memberikan arahan, konsultan bagi anak. dengan demikian anak mengerti kehidupan masa depannya

    BalasHapus

""