Jumat, 09 April 2010

Sekolah, Promosi yang Realistis

Sekolah, Promosi yang Realistis

Boleh jadi karena jumlah sekolah, sebagai lembaga publik, dari tahun ke tahun semakin bertambah, muncullah persaingan antarsekolah dalam menjaring peserta didik. Persaingan itu ditandai dengan adanya promosi ke sekolah-sekolah sasaran. Sekolah-sekolah sasaran dengan demikian tidak hanya didatangi oleh satu sekolah saja, tetapi berganti-ganti beberapa sekolah dengan memamerkan segala bentuk kelebihan/kekhasan masing-masing.

Untuk menambah daya tarik, biasanya sekolah mengajak serta peserta didik yang berprestasi, baik akademik maupun nonakademik. Peserta didik itu disuruh untuk presentasi tentang keberhasilannya bersekolah di sekolah tersebut dengan segala daya dukung yang disediakan sebagai fasilitas pengembangan prestasi di hadapan calon peserta didik baru. Apalagi kalau peserta didik yang berprestasi itu dulunya berasal dari sekolah sasaran, tentu akan sangat menguntungkan sebab mereka telah memiliki ikatan batin yang kuat dengan adik-adik kelas, yang secara psikologis sungguh berpengaruh.

Sekolah-sekolah yang memiliki sarana multimedia lengkap yang didukung oleh guru yang terampil dalam aplikasi teknologi informasi-komunikasi, multimedia akan menjadi media promosi yang cukup menarik. Para calon peserta didik baru dapat disuguhi -secara audio-visual- berbagai kegiatan sekolah yang menarik, baik kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Awalnya sekolah swasta
Awalnya, yang melakukan promosi demikian itu memanglah sekolah di kota-kota besar. Sejauh penulis pernah ketahui -sekitar sepuluh tahun yang lalu- adalah sekolah-sekolah yang berada di tingkat provinsi, terutama sekolah-sekolah swasta -termasuk sekolah swasta yang dibilang favorit. Bahkan belakangan ini, sekolah-sekolah itu melakukan ekspansi promosi ke sekolah-sekolah ”unggul” di daerah. Sekolah-sekolah yang berpromosi itu tidak hanya memamerkan keberhasilan/kekhasan dan fasilitas termutakhir yang dimiliki, tetapi juga menawarkan beasiswa, bahkan gratis biaya bagi calon peserta didik baru yang berprestasi.

Dan, kini sekolah-sekolah di daerah agaknya terinspirasi ”gerakan” yang dilakukan oleh sekolah di kota-kota besar itu. Awalnya, yang melakukan promosi ke sekolah-sekolah sasaran adalah sekolah-sekolah swasta dengan target terbatas pada sekolah yang masih memiliki latar belakang sama, semisal sealiran/seagama. Yang berlatar belakang Islam promosi ke sekolah-sekolah bernuansa Islam, yang Katolik ke sekolah-sekolah Katolik, yang Kristen ke sekolah-sekolah Kristen. Akan tetapi, dalam perkembangannya model begitu dilakukan juga oleh sekolah-sekolah negeri, yang dulunya memang lebih bersikap ”menanti” -tidak melakukan promosi karena calon peserta didik baru, termasuk yang berprestasi pun datang berbondong-bondong mendaftar.

Kini dengan bertambahnya banyak sekolah berlabel ”unggul”, sikap itu mulai berubah -meminjam istilah persepakbolaan- dari ”menunggu bola” menjadi ”menjemput bola”. Sebab, kalau tidak aktif akan banyak kehilangan kesempatan meraih target yang diharapkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Apalagi dengan berkembangnya ilmu teknologi informasi-komunikasi yang hampir dimiliki oleh semua sekolah, baik negeri maupun swasta, sangat memudahkan akses calon peserta didik menentukan pilihan. Oleh karena itu, kini dapat kita jumpai jauh beberapa bulan sebelum masa penerimaan peserta didik baru, banyak sekolah mulai berpromosi, baik langsung datang ke sekolah sasaran, lewat media cetak atau eletronik, maupun memasang poster di jalan-jalan.

Sekolah-sekolah yang oleh masyarakat dikenal favorit dan karena memang fasilitas pembelajarannya representatif, mengadakan open house lewat kegiatan perlombaan yang pesertanya dari peserta didik sekolah-sekolah sasaran merupakan langkah strategis. Sebab, melalui kegiatan tersebut akan banyak terjaring calon peserta didik baru berprestasi. Mereka pasti semakin tertarik mendaftar sebagai peserta didik baru karena sekolah tersebut lazimnya menyediakan beasiswa, bahkan gratis biaya.

Sekolah-sekolah yang berada di grade menengah ke bawah menjelang pengumuman penerimaan calon peserta didik baru tak segan-segan memasang poster di sekolah favorit tersebut demi menjaring calon peserta didik yang tidak diterima agar beralih mendaftar ke sekolah pemasang poster tersebut.

Harus realistis
Upaya-upaya promosi seperti itu bukanlah hal yang tabu dilakukan meskipun seakan menjejajarkan lembaga pendidikan -pencetak generasi bangsa- sama dengan perusahaan orientasi bisnis, semisal konveksi, onderdil motor, dan transportasi. Hanya yang perlu dibedakan adalah data-data, fakta-fakta, bukti-bukti yang dikemas untuk bahan promosi. Kalau di perusahaan orientasi bisnis, kita sering menjumpai promosi dengan melebih-lebihkan data-data atau bukti-bukti bahkan kadang kurang realistis untuk mempengaruhi konsumen agar mau menggunakan jasa atau barang produk perusahaan, sekolah tidaklah demikian. Sekolah dalam melakukan promosi harus realistis sebab jasa yang ditawarkan pada konsumen terkait dengan pembentukan pribadi yang berkarakter.

Apalah jadinya jika sekolah hanya demi mendapatkan banyak konsumen (baca: peserta didik) tega melakukan tindakan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Tentu bangsa ini akan semakin terpuruk karena pemegang kendali masa depan bangsa tidak berkarakter.

4 komentar:

  1. terima kasih telah berkunjung di blog budies. mantab pak tulisannya

    BalasHapus
  2. kalau profile pemberi komentar ditambahi yang url, mungkin lebih mudah ya pak yang mau komen

    BalasHapus
  3. betul sekali, pak, menjelang tahun ajaran baru, sering terjadi perang spanduk antarsekolah. seringkali mereka terlalu berlebihan dalam berpromosi. bahkan terkesan bombastis. tapi, masyarakat juga makin cerdas dalam memilih sekolah, pak. kayaknya ndak begitu berpengaruh meski terjadi perang spanduk yang makin seru.

    BalasHapus
  4. @)ak Budies
    Terima kasih, Pak, Panjenengan berkenan berkunjung ke blog ini. Kunjungan Bapak sungguh berarti bagi saya. Apalagi Bapak berkenan juga memberi masukan yang sungguh berguna untuk perbaikan blog ini.

    Memang ada banyak hal mengenai blog yang saya belum mengerti, Pak. Sebab, saya terjun ke dunia blog ini masih sangat baru. Oleh karena itu, masukan Bapak segera akan saya tindaklanjuti. Sekali lagi terima kasih. Salam kekerabtan.

    @Pak Sawali
    Ya, Bapak, biarlah melalui kecerdasan masyarakat generasi mendatang lebih tertata masa depannya. Terima kasih. Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""