Senin, 03 Mei 2010

5.168 Seruling Meriahkan Hardiknas

5.168 Seruling Meriahkan Hardiknas
(Catatan Ringan tentang Peringatan Hardiknas Kabupaten Kudus 2010)

Semestinya peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) jatuh 2 Mei. Hanya karena 2 Mei itu hari Minggu, maka upacara peringatan Hardiknas serentak diadakan Senin, (3/5). Pemerintah daerah (Pemda) Kudus memusatkan kegiatan peringatan Hardiknas 2010 ini di pusat kota, tepatnya di alun-alun simpang tujuh, berada persis di depan pendopo kabupaten. Meski dilaksanakan Senin (3/5) tak mengurangi nilai-nilai kesakralan dan kehistorisan. Nilai-nilai semangat keberadaban yang diperjuangkan oleh Ki Hadjar Dewantara tetap (saja) menjadi pijakan peringatan Hardiknas kali ini. Maka benar bahwa tema yang diangkat di Hardiknas kali ini, berbunyi ”Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”.

Peringatan Hardiknas yang dihadiri seluruh pejabat teras Pemda Kudus dan seluruh jajaran di bawahnya, seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud), para pelajar SMP/MTs hingga SMA/MA/SMK, dan juga elemen masyarakat -termasuk tim dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia), berjalan dengan baik, apalagi cuaca saat itu sangat mendukung. Acara peringatan Hardiknas itu diawali dengan upacara, yang saat amanat, oleh Bupati Kudus, Mustofa Wardoyo, dibacakan sambutan tertulis mentri pendidikan nasional.

Di dalam rangkaian acara upacara itu, pemerintah, dalam hal ini Pemda Kudus, memberikan penghargaan terhadap 206 guru, yang terdiri atas guru SD, SMP, dan SMA/SMK, yang diwujudkan dalam bentuk piagam dan medali ”Karya Satya”. Guru-guru yang mendapatkan penghargaan terhormat itu telah mengabdikan diri sebagai pencetak generasi bangsa selama puluhan tahun. Dalam sambutannya, bupati mengharapkan, penghargaan itu hendaknya dapat memotivasi kinerja para penerus perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam membangun peradaban bangsa.

Upacara yang berakhir sekitar 09.30 WIB itu, dilanjutkan dengan acara yang digagas oleh Disdikpora Kudus, yakni menampilkan pertunjukan 5.168 seruling (recorder) yang dibawakan oleh para pelajar dari tingkat SMP/MTs sampai SMA/MA/SMK se-Kudus, baik negeri maupun swasta. Untuk memenuhi target 5.168 peniup recorder setiap sekolah mengirimkan puluhan hingga ratusan siswanya. Dan, jauh-jauh hari mereka sudah harus berlatih lagu-lagu daerah, seperti Suwe Ora Jamu, Ondhel-ondhel, dan beberapa lagu daerah lainnya di sekolah masing-masing. ”Untuk mendukung acara itu sekolah kami harus membelikan ratusan recorder karena siswa kami memang belum memiliki recorder,” kata salah seorang guru kesenian dari salah satu SMP Negeri, di Kudus, Jawa Tengah.

Meski satu hari sebelum pelaksanaan, ketika gladhi kotor, pertunjukan para pelajar meniup recorder itu kurang meyakinkan, pada saat hari H-nya mereka tampil sangat memukau. Beberapa lagu daerah yang dibawakan mampu menyedot masyarakat Kudus berbondong-bondong ke alun-alun, yang berdekatan dengan Mal Ramayana Kudus itu. Bahkan, terlihat dari jauh, pengunjung Mal Ramayana berdesak-desakan di teras supermarket itu turut menyaksikan tontonan yang baru pertama kali ini.

Itulah sebabnya, MURI menganugerahi Pemda Kudus, penggagas (dalam hal ini Disdikpora Kudus), dan para pelajar sebagai ”pemecah rekor MURI recorder terbanyak”, yang mengalahkan pemecah rekor sebelumnya, yakni pelajar di Kediri, Jawa Timur, yang mencapai 3.415 recorder dan Yayasan Pendidikan Karangturi, Semarang, Jawa Tengah, sebanyak 600 recorder. Biarlah penghargaan MURI itu tak hanya membuat Pemda, Disdikpora, dan pelajar Kudus bangga, tetapi juga memberikan spirit maju dalam mengembangkan pendidikan karakter demi kebangkitan bangsa yang lama telah terpuruk ini.

Di penghujung acara ditampilkan tari khas Kudus, yakni ”Tari Kretek”, tari yang mengisahkan proses persiapan hingga pembuatan rokok, yang memang kental dengan kehidupan masyarakat Kudus. Sebagai sebuah hasil kreasi seni sah-sah saja ditampilkan meski dalam peringatan Hardiknas. Selamat Hardiknas!

6 komentar:

  1. Wah, hebat! Kudus hebat!
    Di Kab. Pekalongan malah tak ada greget khusus pada peringatan Hardiknas kali ini.

    BalasHapus
  2. di Kota saya, Malang.. cuman diisi dengan upacara saja... kapan ya peringatan hardiknas bisa semeriah peringatan HUT RI, padahal kedua momen ini nilainya sama2 pentingnya

    BalasHapus
  3. di daerah saya lagi persiapan pemilukada.

    btw, slamat ya atas rekornya..;)

    BalasHapus
  4. Hari Pendidikan Nasional...
    Yang lebih penting lagi adalah proses "MENGAJAR BELAJAR" untuk mencerdaskan bangsa.

    Karena selama ini yang paling banyak adalah sistem "BELAJAR MENGAJAR" jadi para gurunya juga masih belajar dalam hal mengajar.

    Lalu gimana dengan muridnya...???

    BalasHapus
  5. sukses ya pak
    viva pendidikan

    BalasHapus
  6. beda banget dengan kendal, pak. peringatan hardiknas sepi. menjelang pilkada, agaknya tak ada event yang membanggakan buat kaum pendidik. salut dg suksesnya peringatan hardiknas di kudus.

    BalasHapus

""