Minggu, 30 Mei 2010

Antara Prestise dan Idealisme

Antara Prestise dan Idealisme

Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang menunggu putra kami yang pertama mengikuti tes praktik di sekolah tempat saya mengabdi pada ibu pertiwi, sebagai salah satu syarat untuk dapat diterima menjadi calon peserta didik baru (PDB). Sehari, sebelumnya, Sabtu (29/5/2010), ia dan anak-anak lain telah mengikuti tes tulis. Hari ini, Minggu (30/5/2010), mereka harus merampungkan tes praktik dan psikotes.

Anak-anak itu memperebutkan kursi yang disediakan untuk kelas imersi. Kelas yang proses pembelajarannya menggunakan dua bahasa (bilingual), yaitu bahasa Indonesia dan Inggris. Pendaftaran PDB untuk kelas imersi diadakan sebelum pengumuman ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) sekolah dasar (SD). Jadi, yang menjadi dasar untuk dapat diterima di kelas imersi adalah hasil tes tulis (yang meliputi materi matematika, bahasa Indonesia, Inggris, dan ilmu pengetahuan umum), praktik, dan psikotes, serta (jika ada) penilaian berdasarkan piagam prestasi akademik bagi yang memiliki. Jelas penyaringannya tak mengikutsertakan hasil UASBN. Artinya, cukup tes tulis, praktik, psikotes, dan (jika ada) nilai piagam prestasi akademik itu. Dengan demikian, mereka, anak-anak itu, harus berkompetisi semaksimal mungkin untuk dapat diterima. Apalagi jika orang tua (juga) sangat berharap.

Boleh jadi karena itulah, jauh-jauh hari sebelum tes tulis diadakan, saya mendapat bel dari ipar saya, yang juga seorang guru. Intinya, ia menyampaikan keinginan temannya, yang juga seorang guru, untuk memintakan (maaf!) bocoran soal. Saya dapat menduganya meski ”keinganan” itu masih terbalut dalam bahasa yang rapi. Tentu (saja) melalui bocoran soal tulis itu, harapannya anak teman ipar saya dapat diterima karena dapat mengerjakan soal dengan baik.

(Ya, karena tes praktik anak saya sudah selesai dan sekalian saya ada sedikit urusan di luar sekolah, kami, saya dan putra kami, meninggalkan sekolah. Otomatis aktivitas menulis tak bisa dilanjutkan. Saya save sebagian tulisan, dan saya hendak lanjutkan di rumah. Di bawah ini, lanjutannya...)

Ah! Saya benar-benar terkejut karena ”keberanian” ipar saya itu. Hubungan pertemanan (tak jarang) mampu melampaui akal sehat. Yang berjalan (justru) akal dan perasaan yang tak sejati. Norma-norma sosial dan moral yang ada, akhirnya dilanggar begitu saja. Ipar saya dan temannya, sama-sama seorang guru, hendak mengambil langkah yang bisa jadi ”membunuh” karakter anak (sendiri). Bagaimana tidak, jika seandainya kemampuan anak tak mencukupi, namun dipaksakan, tentu pada ujung-ujungnya anak akan ”menderita”.

Itulah sebabnya (bukannya saya kok sok), ”permintaan” ipar saya itu, saya tolak. Saya katakan bahwa meskipun putra kami juga ikut dalam kompetisi memperebutkan kursi kelas imersi itu, saya tak hendak membocori soal, baik tulis maupun praktik. Biarlah putra kami berkompetisi tanpa intervensi. Saya tidak perlu malu andai saja putra kami tak diterima di kelas imersi karena memang potensi yang dimiliki tak mencukupi. Toh sekolah tak hanya ada di kelas imersi. Masuk di kelas reguler pun tak jadi masalah jika memang tingkat kemampuannya cukup di reguler saja.

Di titik inilah, orang harus memilih. Ingin mempertahankan prestise atau idealisme. Kalau keberlangsungan hidup hanya untuk mengejar prestise tanpa melihat realitas yang ada, sepertinya, hidup itu hanya berpura-pura. Hidup hanya untuk mencari hormat. Hidup hanya untuk mendapatkan banyak pujian. Dan, diakui atau tidak, fenomena demikian bisa jadi ada seabrek kita jumpai di sekitar kita. Umumnya, keberadaannya tidak awet alias cepat hilang, musnah.

Kalau keberlangsungan hidup berdasarkan idealisme, tentu idealisme yang realistis, sepertinya mengantarkan pada hidup yang sesungguhnya, tidak pura-pura. Dengan demikian, perihal hormat, pujian, dan ”tepukan” tak menjadi hal penting. Dan, diakui atau tidak, fenomena demikian jumlahnya amat sedikit atau bahkan sulit ditemukan di sekitar kita. Umumnya, keberadaannya awet alias langgeng.

Nah, melalui tulisan ini saya tak hendak pamer diri bahwa saya seorang yang idealis. Tidak. Saya hanya termasuk orang yang mau berusaha untuk tak mudah goyang, cukuplah menerima kenyataan yang ada sembari menjaga dengan baik dan jujur atas karunia yang Tuhan berikan, termasuk keputusan untuk menyekolahkan putra kami yang pertama di SMP kali ini tanpa harus intervensi ini-itu. Bagi saya, itu yang terbaik.

9 komentar:

  1. saya sependapat dengan panjenengan lho pak,sekarang saya juga mengalami hal yang hampir sama.. anak saya akan mengikuti tes seleksi ikatan dinas dari pemerintah daerah untuk masuk kedokteran di universitas palangkaraya. beberapa teman menyarankan kepada saya untuk lobi ke bupati dan anggota dewan, karena saya dianggap dekat dengan para pejabat. tapi... saya ingin anak saya diterima karena kemampuannya. bukan karena lobi orangtuanya

    BalasHapus
  2. Memang benar, Pak, ada banyak orang yang ingin "melayani" keinginan sendiri dengan cara-cara yang kadang kurang hormat dan karenanya tak sesuai dengan perkenan Sang Khalik.

    Padahal yang Sang Khalik inginkan pada setiap umat-Nya adalah jalan-jalan yang Ia kehendaki. Mungkin saja, prinsip yang kita pegang mendekati kehendak-Nya. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. Terima kasih. Salam kenal....

    BalasHapus
  4. Salam Kenal Mas...
    Makasih sudah berkunjung di Blog saya.
    Saya juga guru, kebetulan juga menangani penerimaan siswa baru.
    Kalau ditempat saya namanya PPD.
    Ditempat saya juga pakai tes bahasa Inggris + Psikotes karena kebetulan SMA tempat saya bekerja sudah RSBI.

    BalasHapus
  5. Selamat "melayani" anak-anak negeri Pak Marsudiyanto. Terima kasih berkenan berkunjung.Mari kita jalin kekerabatan.
    salam kekerabatan.

    BalasHapus
  6. kunjungan balik Nohara nih. makasih ya Pak sudah berkenan berkunjung ke blog sederhananya Nohara. Sungguh kebanggaan yang tak ternilai.
    sukses selalu buat Bapak, dan sering-sering mampir ke blog Nohara...
    salam...

    BalasHapus
  7. Kunjungi->Tua di Jalan. Ada Award buat bapak...:D

    BalasHapus
  8. Sepakat dengan Pak Sungkowo...
    Menurut saya ada kalanya banyak idealisme mesti dilepaskan, tapi ada pula yang tetap perlu dijaga terutama menyangkut tata nilai kebenaran...

    BalasHapus

""