Jumat, 28 Mei 2010

Generasi Muda, Ndhangdhut-an, dan Tawuran

Generasi Muda, Ndhangdhut-an, dan Tawuran

Hari ini, Jumat (28/5/2010), salah satu tetangga saya mempunyai hajat menikahkan putranya. Sejak tulisan ini dikerjakan, musik ndhangdhut telah terdengar memekakkan telinga meski dari kaset yang diputar. Orang-orang kampung, seperti di tempat kami ini, memang lebih menyukai jenis musik tersebut. Ya, (mungkin saja) musik ndhangdhut telah menyatu dengan emosi orang-orang kampung, semacam kami ini.

Menurut saya, musik apa pun baik, termasuk ndhangdhut-an. Hanya, yang kurang membuat ”nyaman” (ini di kampung kami), ketika ada pertunjukan ndhangdhut, sering ada dampak ikutan yang membuat ”geram” banyak orang, terlebih bagi orang tua. Dampak ikutan, yang senantiasa melibatkan ”generasi muda” itu adalah ”tawuran”.

Meski sering menimbulkan dampak ”tawuran” antargenerasi muda, tetap saja orang-orang di kampung kami ini ketika punya kerja, jika berduit, nanggap ndangdhut-an. Tak hanya yang menikahkan putranya, tapi juga yang mengkhitankan putranya. Ada banyak alasan yang berkembang di masyarakat kami (lokal). Di antaranya, pertama, demi memberi hiburan masyarakat. Alasan ini sangat realistis sebab memang masyarakat di kampung kami membutuhkan hiburan semacam itu sebagai penghilang rasa letih/lelah karena kesibukan kerja sehari-hari yang sebagian besar memang sebagai petani demi mengenyangkan perut keluarga. Kedua, demi prestise keluarga, agaknya. Ketika keluarga berduit -di kampung kami- memiliki hajatan (entah khitanan atau nikahan) sembari menyewa (nanggap) tontonan, termasuk ndhangdhut-an, gengsi keluarga akan tetap bahkan semakin terangkat di lingkungan masyarakat lokal.

Akan tetapi, ada juga ternyata keluarga yang kondisi ekonomi hanya”cukup”, dengan anggapan demi mendapatkan apresiasi penghormatan di kampung lokal, ketika memiliki hajatan semacam tersebut di atas dalam nanggap tontonan harus ”mengada-ngada”. Artinya, meskipun tak ada dana khusus untuk pos tontonan, tetap diusahakan walau dengan cara pinjam dahulu (tak lain dan tak bukan, di ataranya) demi prestise itu. Ini kenyataan yang banyak dijumpai di kampung kami.

Akibatnya, jika keluarga kurang pintar ”menyimpan rahasia”, begitu hajatan selesai, justru menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Yang boleh jadi menimbulkan dampak tak ”nyaman” dalam kehidupan bermasyarakat karena rumor yang memang biasanya lebih cepat meluas itu, apalagi di kampung.

Omongan tentang akan adanya tontonan ndhangdhut pun (juga) demikian cepat meluas kabarnya hingga ke luar kampung. Disadari atau tidak, hal tersebut mengundang pencinta dhangdhut, yang rata-rata generasi muda itu, untuk turut datang melihat. Jadi, dalam pertunjukan ndhangdhut itu akhirnya menjadi semacam ”perjumpaan” para generasi muda dari berbagai kampung.

”Perjumpaan” yang mestinya harus dimaknai sebagai wahana untuk silahturahmi, saling mengakrabkan, dan membangun komunikasi lebih familiar, malah sering berubah menjadi ajang pertengkaran/tawuran antargenerasi muda. Insiden demikian sering dipicu oleh budaya yang sampai kini masih lekat dengan kebiasaan (banyak) generasi muda kita bergaya hidup sok modern, yang ditandai dengan suka minum-minuman keras.

Dalam kondisi mabuk, orang lebih mudah tersingsung, apalagi pemuda yang selalu ingin ”mencari perhatian”, akan sangat mudah terbakar emosinya untuk kemudian bertengkar. ”Keberanian” mereka, pemuda, muncul sering dalam ketidaksadaran karena mabuk, lebih-lebih terhipnotis suasana musik ndhangdhut dan penyanyi yang cenderung tampil aduhai itu, mengundang ”kegagahan” pemuda untuk saling menjadi ”pemenang”. Jadilah tawuran yang sering tak terkendalikan hingga pertunjukan ndhangdhut terpaksa harus dihentikan meski belum sampai batas waktu.

Ndhangdhut-an yang mestinya diadakan untuk memberi hiburan masyarakat itu, justru menjadi pemantik munculnya keributan di masyarakat. Orang-orang tua, lebih-lebih yang wanita, bukannya menemukan kelegaan dan kesegaran, tapi justru kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran. Sedangkan anak-anak melihat contoh langsung ”kekerasan” yang boleh jadi menjadi sumber inspirasi negatif bagi perilaku mereka.

Padahal, sebenarnya, mengaca dari salah satu tetangga saya lagi (yang petani, tapi juga pegawai honor daerah), yang beberapa tahun lalu pernah punya hajatan nanggap kethoprak, suasana sangat kondusif. Orang-orang kampung benar-benar mendapat hiburan. Mungkin jika nanggap wayang juga demikian, meski wayang pun kini sering dipadukan dengan tampilan penyanyi, termasuk penyanyi ndhangdhut. Hanya, mungkin karena lebih dominan pertunjukan wayangnya, saya pikir suasana tetap dapat dikendalikan. Dan, pertunjukan yang demikian agaknya memang penting untuk dikembangkan sebagai media untuk mendidik masyarakat.

Tapi realitasnya, ndhangdhut tetap menjadi tontonan yang populer di tengah-tengah masyarakat kampung kami. Sehingga, setiap ada orang hajatan, hiburannya lebih banyak ndhangdhut-an. Memang biaya untuk nanggap ndhangdhut lebih murah ketimbang nanggap kethoprak atau wayang dalam hajatan. Semoga (saja) ndhangdhut-an yang kini sedang ditanggap salah satu tetangga saya, tak menimbulkan keributan, tapi menjadi hiburan yang melegakan dari segala beban kesibukan.

11 komentar:

  1. Saya lebih sreg kalau ada orang nanggap ketoprak atau wayang ketimbang ndhangdhutan, Pak.

    Entah kenapa, tapi ndhangdhutan itu rentan perkelahian dan satu lagi, sering dicap pamer aurat sehingga sering malah dipersoalkan oleh lembaga2 yang ngakunya lembaga pembela agama :)

    BalasHapus
  2. Saya juga begitu, Om, lebih menyukai kethoprak dan wayang ketimbang ndhangdhut. Tapi sayang, biaya nanggap kethoprak atau wayang itu lebih mahal. Orang lebih menjangkau nanggap ndhangdhut. Inilah persoalannya. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. Tawuran seakan telah menjadi warna setiap ada acara panggung hiburan. Di sini (Pekalongan) juga mirip seperti tempat njenengan, Pak. Namun tidak sedikit juga orang yang punya hajatan justru lebih memilih mengadakan pengajian akbar dengan mengundang kyai kondang.

    BalasHapus
  4. jiahh.. masih ada juga ya???
    kirain di kampungku aja, duhh.. bt bnaget kalo ada orang hajatan nanggap dangdut, deleng2 angguk2, heheh..

    coba wayang, ketoprak atau seni daerah apa gitu kan lebih berbudaya to, dan mengurangi peluang terjadinya tawuran,

    salam eknal, ditungggu kunjungan baliknya,

    btw, templatenya kuk terlalu kepinggir ya pas bagian posting,^^

    BalasHapus
  5. Salam kenal diterima dengan suka cita dan hormat. Terima kasih atas kunjungannya. Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  6. saya sebagai generasi muda tetep dengan prinsip Hura-Hura tanpa huru hara.:)

    BalasHapus
  7. saya komen lagi pak karena belum ada postingan yang baru,hehe
    gpp kn?

    BalasHapus
  8. Nggak apa-apa. Bersilahturahmi, berkunjung-kunjungan, meski hanya melempar "senyum" karena tak ada yang perlu dikomentari, hal sungguh berarti. Ya, kan?

    BalasHapus
  9. setiap orang agaknya punya selera yang berbeda-beda, pak. tak hanya di kudus, kok, daerah2 lain juga demikian. dangdut memang lebih gampang memicu emosi karena suasana yang terbangun memang lebih ingar-bingar. semoga saja penonton bisa mengendalikan dirinya hingga tak terlibat dalam tawuran.

    BalasHapus
  10. Andai saja setiap penonton dhangdhut itu menyelami dan menikmati dengan hati nurani, mungkin tak akan terjadi hal-hal yang tak kita inginnkan. Semua beres, baik, dan nyaman.

    BalasHapus
  11. tawuran oh tawuran,......
    dasar g da kerjaan,...

    BalasHapus

""