Selasa, 11 Mei 2010

Matinya Aktivitas, Korban Tivi

Matinya Aktivitas, Korban Tivi

Kekuatan gaya ”magnetik” media elektronik, dalam hal ini televisi (tivi), dalam menyedot pemirsa sangatlah besar. Tak hanya memikat anak-anak, remaja/pemuda, dewasa, tetapi juga kanak-kanak, yang masih balita. Kekuatan yang dapat ”menguasai” banyak orang dari berbagai lapisan usia itu bukan tanpa alasan. Alasan yang terutama, tivi sebagai media yang menarik karena tak hanya menyajikan acara yang variatif, tetapi juga tampilan yang dapat terekam oleh hampir semua indera manusia -bahkan perasaan atau emosi pun terlarut.

Keterlarutan perasaan/emosi sering tak disadari pemirsa karena begitu lembutnya acara tivi menerobos ke pusat benak dan otak secara persuasif. Maka, tak jarang, begitu ada iklan (makanan, pakaian, aksesoris, atau yang lainnya) menarik, tebersit secara tiba-tiba keinginan untuk menikmati, memakai, atau tumbuh sikap yang lain. Begitu juga, terhadap tokoh-tokoh dalam film, sinetron, atau iklan yang dilihat, sering membangun kekuatan psikologis pemirsa untuk meniru. Dandanan rambut, model pakaian, kesukaan makanan, hingga pola hidup, misalnya, sering kita jumpai pada banyak orang sebagai ”perilaku” bajakan saja.

Padahal, acara tivi yang variatif itu, jika ditimbang-timbang lebih dominan acara yang ”kurang mendidik”. Pemirsa lebih banyak mendapatkan gambaran hidup konsumeris daripada ekonomis; penyuka sinetron, lebih sering memperoleh pelajaran dendam, horor, dan iri hati daripada rendah hati, ilmiah, dan teguh hati alias bersahaja; tak jarang melalui infotainmen, disuguhi kawin-cerai bukan hidup damai dalam berumah tangga.

Dan ironisnya, acara seperti itu yang disenangi pemirsa. Duduk berjam-jam di depan tivi tak terasa jenuh. Bahkan, saat makan pun, mata tak lepas dari tayangan di tivi. Yang sering saya lihat di rumah, mulut anak saya lama berhenti mengunyah saat makan (meski di piring masih penuh nasi dan lauk), tetapi mata begitu aktif melihat ke tivi. Bahkan, anak saya yang kecil -usia 2 tahun 3 bulan- terhipnotis oleh Kemilau Cinta Kamila (KCK), sebuah sinetron tayangan RCTI. Ia akan merengek kalau tivi di rumah belum memunculkan KCK meski jam tayangnya memang belum. Juga tak mau diajak tidur jika KCK belum selesai. Betapa dahsyatnya teror media tivi ini terhadap hidup anak saya, khususnya dan semua orang, umumnya.

Tentulah si kecil -maksudnya, anak saya yang kecil- tak akan terhipnotis KCK kalau tak dikenalkan oleh orang dewasa, yakni yang momong (merawat) saat kami masih sibuk bekerja. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang dewasa pun -yang tentunya memiliki banyak pekerjaan- betah duduk berlama-lama di depan tivi. (Apakah Anda pun berperilaku demikian?). Bahkan sering melupakan pekerjaan. Atau mungkin jika tidak melupakan, cukup menempatkan pekerjaan sebagai sambilan melihat tivi. Disadari atau tidak, kini, (faktanya) banyak orang telah berperilaku terbalik. Bukan bekerja sambil melihat tivi, tetapi melihat tivi sambil bekerja.

Anak-anak (yang bersekolah) pun mengalami hal yang serupa. Bahkan, beberapa pengakuan dari siswa saya ketika ditanya mengenai bagaimana perbandingan pemakaian waktu belajar dengan melihat tivi, jawabnya tak jauh berbeda: lebih banyak melihat tivi. Tidak mengada-ada. Ini kenyataan yang dapat kita jumpai di sekitar kita. Realitas ini sekaligus menunjukkan bahwa tivi, ternyata, sosok pembunuh aktivitas orang. Malas makan (seperti anak saya) karena melihat tivi; tak mau tidur (seperti anak saya yang bungsu) karena melihat KCK; lupa bekerja karena terpengaruh program tivi; malas belajar karena terpikat acara tivi. Ini disebut beberapa saja.

Dan jujur saja, pemirsa jarang mau melihat program berita atau tayangan lain yang berupa ilmu pengetahuan, misalnya, meski durasi waktu untuk tayangan tersebut tidaklah banyak. Kalau toh ada jumlahnya relatif kecil. Hanya orang-orang tertentu. Menyedihkan bukan?

Tulisan ini dipublikasikan bukan bermaksud ingin ”menghancurkan” keberadaan tivi di tengah-tengah masyarakat konsumen. Bukan. Tulisan ini tentu tak memiliki kekuatan untuk memprovokasi masyarakat agar tivi terjauhkan sebab masyarakat telah (begitu) telanjur sayang dengan tivi. Hanya mengingatkan agar masyarakat -termasuk saya- mau berintrospeksi diri, ”menempatkan” tivi secara proporsional dalam keberlangsungan hidup.

7 komentar:

  1. Pak,
    saya percaya ini bukan salah televisi dan salah manusia yang menonton... tapi mari kita salahkan pihak pemerintah...

    Pemerintah seharusnya berani tegas mengatur berapa porsi sinetron, berapa porsi pendidikan...

    Tulisan ini menarik!

    BalasHapus
  2. saya hanya di depan TV hanya untuk 2 alasan : 1.nonton kartun ( spongebob,curious george dkk ) 2. nonton ISL ( klw pas gak bisa nonton arema di stadion :D )

    BalasHapus
  3. kalo sudah liat tipi semua segala2nya dech

    BalasHapus
  4. Susahnya TV hidup sejak kita mulai bangun sampai tidur lagi....
    Saya dulu menyikapinya dengan memperbanyak kursus yang disesuaikan dengan hobi anak pak...dan karena kursusnya keluar, si mbak kan mengantar, maklum saya juga ibu yang bekerja di luar rumah. Dan jika akhir pekan saya mengajak ke toko buku..syukurlah anakku lebih suka baca dibanding nonton TV..tapi orangtuanya juga jarang nonton kecuali ada yang penting. Si mbak dibelikan TV sendiri untuk dikamarnya...dan anak-anak tetap bersama orangtuanya. Memang lelah pak, tapi bisa.

    BalasHapus
  5. betul banget tu pak..
    saya pernah liat ilustrasi tentang kekejaman tipi ke anak2 terutama,tapi saya lupa ngopi,hehe
    jadi gag bisa nunjuin deh..:)

    BalasHapus
  6. Kita memang harus cerewet pada anak2 kita berkenaan dengan TV ini, Pak. Saya sendiri seringnya nonton TV hanya pada wkt menjelang maghrib utk mengikuti berita. Mulai Maghrib sampai jam 21.00 TV mati, kecuali malam Minggu.

    BalasHapus
  7. siang pak, mampir lagi nih.hehe

    BalasHapus

""