Kamis, 20 Mei 2010

Rendahnya Moralitas, Penjajah yang Belum Terkalahkan

Rendahnya Moralitas, Penjajah yang Belum Terkalahkan

Kebodohan yang dibudayakan kolonial di bumi pertiwi ini menjadikan orang pribumi tak dapat ”bergerak”. Mereka cenderung pasif. Hanya menjalankan (saja) yang diperintahkan kaum penjajah. Jadi, hidup mereka sangat bergantung pada bangsa penjajah itu.

Dalam hidup demikian, tentu, yang ada hanya penderitaan bagi yang terjajah, yaitu kaum pribumi (sendiri). Mereka sekolah cukup (hanya) dapat menulis dan membaca. Itu pun kemanfaatannya tak lebih demi kepentingan pemerintah kolonial. Mereka dipekerjakan sebagai bawahan di kantor-kantor pemerintah kolonial. Meski mereka dapat membaca dan menulis, tak semuanya berani mengadakan ”pergolakan”.

Beberapa di antara mereka yang memiliki sikap nasionalisme kuat adalah dr Wahidin Soedirohusodo dan dr. Soetomo. Mereka berdua dengan dibantu beberapa teman yang sepaham berikhtiar menghimpun pemuda pelajar untuk membentuk ”kelompok” pembangkit bagi ”tertidurnya” orang pribumi. Di mata penggagas kelompok ”pembangkit” ini, semestinya, negeri kaya (semacam Hindia Belanda) yang terjajah ini dapat (saja) hidup tanpa bergantung pada kaum penjajah.

Bara ”kebangkitan” yang mereka bawa ternyata mendapat sambutan yang gegap gempita dari orang-orang pribumi, yang sejatinya menyimpan energi untuk bangkit dari penjajahan. Melalui Boedi Utomo, orang-orang pribumi mulai menyadari bahwa hidup tanpa bergantung lebih menguntungkan karena mereka memiliki kebebasan.

Dan, berangkat dari Boedi Utomo itulah, kolonial lambat laun merasakan ”desakan” yang membuatnya harus lebih berhati-hati dan tertutup. Semangat Boedi Utomo telah dirasakan menguat dari Sabang sampai Merauke dalam ”melawan” kaum penjajah. Atas kegigihan tak terkira, cengkeraman kekuasaan kolonial dapat diregangkan sehingga kekebasan berbangsa dan bernegara terwujud, Indonesia merdeka!

Sayang, kini, 102 tahun setelah bangkit sejak 20 Mei 1908, penjajah itu muncul dalam rupa baru di bumi pertiwi ini. Penjajah yang memiliki daya gerilya ampuh, yang bertolak belakang dengan penjajah kolonial tempo dulu yang tak punya strategi gerilya. Karena daya gerilya yang ampuh itulah sehingga penjajah kali ini (nyaris) menghantam semua orang, di seluruh elemen bangsa ini, baik yang berada di tingkat tinggi maupun rendah.

Semangat berkarakter Boedi Utomo, yang mampu melepaskan diri dari kungkungan penguasa kolonial, kini, tak dapat ditemukan. Justru yang muncul adalah perilaku tak baik kolonial di mana-mana. Sebut saja, misalnya, korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, menyalahgunakan wewenang, memanfaatkan kesempatan demi mengeruk keuntungan pribadi atau golongan. Oknum-oknum yang demikian adalah mereka yang kehilangan moral, yang artinya energi moralitas destruktif benar-benar telah menjajah mereka. Inilah penjajah masa kini yang berdaya gerilya ampuh.

Agaknya tak ada senjata yang akan dapat mengalahkan penjajah yang demikian itu, tanpa ada komitmen positif (pribadi) yang segera diwujudkan dalam hidup bermasyarakat dan bebangsa. Mari, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-102 ini, kita berintrospeksi diri untuk hendak berbuat baik demi keberlangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia ke dalam alam peradaban yang mulia semulia benak dr. Wahidin Soedirohusodo, dr. Soetomo, dan rekan-rekan seperjuangan mereka tempo dulu!

7 komentar:

  1. bangkit itu,....Aku
    untuk negeriku
    tak perlu resah dengan keadaan yang ada
    salam dari kalimantan tengah pak

    BalasHapus
  2. setelah seratus tahun kemudian 2008 muncul gerakan budisastro yang mengajak bangkit dan bersatu melawan kebodohan serta ketertinggalan teknologi. semoga perjuangan budisastro mendapat dukungan dari kalangan guru..untuk indonesia lebihber martabat

    BalasHapus
  3. Salam dari Kalimantan Tengah diterima dengan sukacita, Pak.

    Dan, saya dukung sepenuh hati dan jiwa ini!
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  4. Ayo bangkit saudara-saudaraku. Benar kata p Sungkowoastro dan p Budisastro; musuh nyata yg kini kita hadapi adalah nafsu diri kita sendiri dan kebodohan yang menyebabkan bangsa kita semakin tertinggal.

    BalasHapus
  5. Kadang saya berpikir, Indonesia dulu bisa maju dan bersatu karena tertekan penjajah... kita punya musuh yang sama dulu.. Sekarang, meski sebenernya musuh utama kita adalah kebodohan dan perpecahan, tapi tak semua orang membacanya sbagai musuh...

    Apa perlu dijajah lagi ya Pak biar bersatu lagi ? hehehe...

    BalasHapus
  6. selamat harkitnas, pak sungkowo, semoga semangat budi utomo benar2 mewaris dari generasi ke generasi, termasuk di kalangan para pejabat dan kaum elite kita yang selama ini dinilai mengabaikan kepentingan rakyatnya.

    BalasHapus
  7. untuk pendidikan harus selalu kiota nomor satukan..

    BalasHapus

""