Senin, 31 Mei 2010

Utang

Utang

Saya memiliki salah satu tetangga, yang untuk ukuran di kampung kami boleh dibilang kaya, meski tak kaya raya. Kekayaan yang ia miliki memang tidaklah ditampak-tampakkan kepada banyak orang sebagaimana ada sebagian orang yang suka pamer-pamer kekayaan. Terbukti, terutama yang laki-laki, bapak dalam keluarga itu, berpenampilan biasa seperti kami-kami yang secara ekonomi hidup ”cukup”. Agak berbeda dengan yang wanita, ibu dalam keluarga itu, yang penampilannya meski tak mencolok, tapi dari pakaian yang dikenakan setiap hari, orang lain dapat ”membaca” bahwa ia tergolong orang kaya.

Mungkin karena penampilan sang ibu itulah, sehingga ada teman-teman sekerjanya yang pinjam uang alias utang. Saya mengetahui hal itu karena beberapa waktu sebelum tulisan ini saya tulis isteri saya bercerita. Intinya, salah satu teman sang ibu, yang adalah teman sekerjanya, sering utang. Meski jumlahnya tak banyak, (karena memang pinjam) sebagai peminjam mesti harus memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan. Utang yang dahulu (saja) belum dikembalikan kok kini mau utang lagi. Ya akhirnya berniat tak dipinjami.

Akan tetapi, mungkin karena memang butuh, meski sudah ada tanda-tanda tak akan dipinjami, tetap saja teman sang ibu (tetangga kami) itu ngotot ingin pinjam. Tak dapat utang di tempat kerja, ya utang di rumah. Jadi, teman sang ibu itu berniat hendak ke rumah.

Kebetulan rumah sang ibu itu bersebelahan dengan rumah kami. Saat ada kabar bahwa temannya hendak berkunjung ke rumahnya dalam rangka, ya pinjam uang tadi, ia pergi ke rumah kami karena kebetulan isteri saya libur bekerja. Sebetulnya itu sebagai siasat untuk menghindar saja.

Saya berpikir, agaknya teman sang ibu itu tak jauh berbeda dengan keberadaan kita sebagai insan yang dicipta Tuhan. Memang Tuhan tak pernah berfirman bahwa hidup kita (dengan segala keperluan yang disediakan itu) merupakan utang kita kepada Tuhan. Sebab, Tuhan memang tak hendak memberi pinjaman kepada kita. Tuhan memberi kepada kita dan Ia tak mau dibalas. Tuhan memberi secara ikhlas, tulus, dan pasti yang terbaik.

Hanya sering kita tak ”tahu diri”. Terus diberi masih (saja) sering merasa kurang, meski sebenarnya Tuhan telah mencukupi keperluan kita. Karena itu, kita terus mencari Tuhan, sebagai tempat untuk bergantung hidup. Tapi, hebatnya, Tuhan tak pernah menghindar, meski senantiasa kita repoti. Dan, inilah ”wajah” kita yang sebenarnya, sering menghindar jika ada sesama yang terus ”memerlukan”, meski itu utang bukan minta.

6 komentar:

  1. saya sering membaca tulisan itu hutang pak, bukan utang, padahal yang bener (menurut eyd) itu ya utang... seperti yang njenengan tulis ini
    wah jadi inget iklan minuman besoda
    "..hutang mu yang ku mau

    BalasHapus
  2. Wah,wah.wah.....ternyata njenengan itu tak hanya demen (suka) yang eksak-eksak, tapi juga bahasa ya, sampai-sampai perihal istilah/kata "utang" saja njenengan mengerti benar yang sesuai eyd.

    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. Pak, tapi soal hutang terkadang jadi berbelit ketika sampe ke saat penagihan lho...
    Bukannya membela si ibu yang kaya yang menghindar, tapi kalau saya jadi dia, saya akan katakan terus terang kalau saya nggak bisa dihutangi kalau memang nggak bisa...:)

    BalasHapus
  4. sebenarnya utang-piutang itu hal yang wajar di tengah2 masyarakat kita, pak. tapi repot juga kalau utang terus2an, dan ndak punya itikad baik utk mengembalikannya, hihihihi ...

    BalasHapus
  5. Ibu kaya tadi tidak salah, apalagi jika memang suaminya bekerja keras dan mereka hidup hemat. Tetangganya yang tak benar, utang tak bisa dipaksakan apalagi ke tetangga...apakah tetangga yang suka pinjam utang tadi juga tahu jika ibu yang dipinjami ada masalah.

    Sebaiknya jika perlu bisa pinjam ke Bank, tentu saja dengan cara dipotong gaji atau apa....kita sering malah menyalahkan orang yang tak mau meminjamkan, padahal seharusnya kita bekerja keras dan hidup hemat jika memang belum mampu. Kalau utang terjadi terus menerus berarti ada yang salah.

    BalasHapus
  6. Sebenarnya, hutang, rejeki, kaya dan lain sebagainya telah diatur oleh Allah SWT. Hanya kita sebagai khifalah yg musti berusaha untuk mendapatkannya. Dan kita bisa mempercepatnya dengan membaca Al-Qur'an. Dikatakan bahwa tiap2 manusia memiliki juz dalam Al-Qur'an.
    Saat ini saya ada usaha di http://airalkalinesehat.wordpress.com. Silahkan mampir. makasih

    BalasHapus

""