Minggu, 20 Juni 2010

Berdiaspora demi Menanggung Hidup, Madura Lebih Dulu

Berdiaspora demi Menanggung Hidup, Madura Lebih Dulu

Bisa jadi karena memang kala itu, lahan di (Pulau) Jawa masih luas dan subur, maka umumnya keluarga Jawa hidup berdampingan. Membuat tempat tinggal satu keluarga besar dalam satu lingkup tempat. Dalam lingkup tempat itu dapat dijumpai kerabat besar, ada kakak, adik, paman, bulik (bibi), keponakan, dan seterusnya dan seterusnya, yang masing-masing telah berkeluarga. Jadi, tak heran kalau rumah-rumah yang berdiri berderat dalam satu lahan (kala itu) sebetulnya masih ada ikatan kekerabatan, mungkin satu bapak-ibu, kakek-nenek, atau buyut. Tradisi semacam itu (agaknya) mengemban amanat leluhur yang kini telah mulai luntur, yakni ”mangan ora mangan yen ngumpul’ (makan tidak makan kalau berkumpul).

Realitas yang kini kita jumpai adalah hidup mulai berpencar. Sikap hidup ”mangan ora mangan yen ngumpul”, kini, telah berubah menjadi ”ora ngumpul kang wigati bisa mangan” (tidak berkumpul yang penting dapat makan). Prinsip demikian, dua dasawarsa terakhir ini, menjadi tradisi baru yang merambah masyarakat Jawa. Tentu akibat dari (terutama) lahan dan tingkat kesuburannya mulai berkurang. Menyempitnya lahan karena tempat tinggal mulai banyak. Kesuburan berkurang karena tanah telah banyak tercemar.

Kalau orang Jawa hidup berpencar, berdiaspora, ngetrennya baru-baru saja. Berbeda dengan orang Madura. Dua hari yang lalu saya potong rambut di potong rambut madura. Maksudnya, yang menjadi tukang potong rambut orang Madura. Saya telah menjadi pelanggan lebih dari sepuluh tahun. Dan, menjadi kebiasaan kalau saya potong rambut pasti mengantuk. Oleh karena itu, untuk mencegah ngantuk di sepanjang waktu potong rambut dua hari yang lalu itu, saya ngobrol-ngobrol dengan Cak Masduki. Demikian, panggilan tukang potong rambut itu, yang sekaligus sebutan itu dipakai nama untuk tempat potong rambutnya, ”Potong Rambut Cak Masduki”.

Pembicaraan tak remsi seputar profesi Cak Masduki, sebagai tukang potong rambut sejak 1983 itu, membuahkan berbagai pengetahuan. Hampir dapat dipastikan di setiap kota, baik di kota kecil maupun besar, ditemukan banyak tukang potong rambut asal Madura, pulau garam itu. Maka, tak terlalu berlebih jika profesi tukang potong rambut identik dengan orang Madura. Di Kudus, Jawa Tengah, saja diakui oleh Cak Masduki ada sekitar limapuluh orang yang berprofesi sebagai tukang potong rambut.

Menjamurnya potong rambut madura (hampir di semua kota rantau), awalnya memiliki cerita yang serupa. Setiap ada lebaran, mereka, yang berprofesi sebagai tukang potong rambut di tanah rantau itu, pulang. Dalam silahturahmi di kampung mereka, tersebarlah bahwa profesi tukang potong rambut di tanah rantau banyak yang berhasil. Sehingga, handai-taulan, sanak-saudara, tetangga, bahkan kenalan, saat balik ke tanah rantau, mengikuti. Mereka kemudian turut menekuni profesi tukang potong rambut.

Oleh Cak Masduki dikatakan bahwa meski dalam satu kota, di Kudus, misalnya, ada banyak tukang potong rambut madura, mereka sangat menjunjung nilai-nilai kebersamaan. Nilai-nilai kebersamaan itu diwujudkan dalam berbagai hal. Misalnya, jarak antartempat potong rambut (madura) disepakati satu dengan yang lain (di Kudus) ± tiga kilometer. Mungkin, hal tersebut terkait dengan daerah konsumen/pelanggan. Harga, meski tempat berbeda dalam satu kota, tetap disepakati sama. Artinya, tak ada perang harga di antara mereka. Kapan ongkos dinaikkan juga disetujui bersama. Tidak ada dulu-duluan. Untuk menjalin tetap ada keakraban di antara mereka setiap satu bulan sekali diadakan arisan yang tempatnya berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lainnya.

Yang menarik adalah, ”perjuangan” mereka untuk tetap dapat survive dalam menjalani keberlangsungan hidup. Jika Cak Masduki masuk ke Kudus 1983 itu masih ada yang mendahului, artinya ada seniornya, yang sekarang sudah pensiun, berarti jiwa/semangat berjuang mereka telah sangat lama mulai berkobar. Dan, hal demikian boleh jadi karena memang kondisi pulau garam berbeda dengan Jawa. Taruhlah misalnya, tanah pertanian jelas tak sesubur di Jawa karena tanah batuan kapur dominan di sana. Lahan lautan agaknya juga kurang menampung (seluruh) semangat melaut mereka. Maka, tak hanya tukang potong rambut madura, tapi sate madura pun berdiaspora di mana-mana demi menanggung hidup.

Hal tersebut menunjukkan bahwa ternyata prinsip hidup ”ora ngumpul kang wigati bisa mangan” yang belum lama dikenal oleh orang Jawa itu, agaknya telah jauh-jauh hari diterapkan oleh saudara kita dari Madura, yang terkenal dengan budaya karapan sapinya itu.

12 komentar:

  1. Berdiaspora. Istilah yang keren. Madura udah. Selanjutnya siapa?

    BalasHapus
  2. artikelnya menarik
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  3. Catatan yg menarik, Pak.
    Setuju dengan anggapan bahwa alam yg tak cukup ramah mendidik orang untuk menjadi keras dan mau maju...

    Aku jd inget, 15 taon silam kteika melintas kota Pasuruan aku mampir beli rokok pake bahasa Jawa mlipis, dan kagetnya si penjual ngga bs bahasa jawa karenna ia madura... :)

    BalasHapus
  4. berdiaspora memang menjadikan siapapun menjadi lebih kreatif dan bertanggungjawab.

    BalasHapus
  5. @Tukang Colong:
    Ayo siapa?

    @Blue:
    Terima kasih, Blue berkenan berkunjung.
    Salam kekerabatan.


    @DV:
    Kini bahasa Jawa Om DV masih mlipis nggak, ya?

    @Saung Tani:
    Tampaknya ada korelasi antara berdiaspora dengan kreatif dan bertanggung jawab seseorang, ya...

    Terima kasih telah berkunjung.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  6. jagoan diaspora indonesia ya padang ya pak? kalo dunia ya cina..mereka te o pe lah.. :)

    BalasHapus
  7. Dikampung Saya (pegunungan kapur utara jawa tenah)hal itu suadh terjadi bertahun tahun lalu masalahnya alam yang tidak memungkinkan untuk survive.

    BalasHapus
  8. @sungkowoastro-> semoga semua daerah di Indonesia bisa seperti Madura

    BalasHapus
  9. salut buat semangat berjuang dan kerja keras bagi warga madura....walau disana-sini terkadang ada kekurangan, tapi semangat mereka layak untuk diteladani

    BalasHapus
  10. @Komunitas Salesman:
    Terus saja berjuang untuk survive, Sobat.
    Terima kasih berkenan mengunjungi blog ini.
    Salam kekerabatan.

    @Tukang Colong:
    Semoga saja, Sobat. Kita doakan bersama.
    Salam kekerabatan.

    @Firdaus:
    Setuju, Om Firdaus!
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  11. ternyata bagus juga tuh, pak, filsafat yang dianut orang2 madura. konsep budaya "mangan ora mangan sing penting kumpul" bagi masyarakat desa pedalaman masih cukup kuat dianut, pak.

    BalasHapus

""