Selasa, 01 Juni 2010

HP Merebak, Tukang Becak Merangkak

HP Merebak, Tukang Becak Merangkak

Ada dampak-dampak yang ditimbulkan manakala piranti teknologi dan informasi merebak di tengah-tengah masyarakat. Dapat posistif dapat (juga) negatif tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Sebut saja piranti handpone (HP) dapat menimbulkan dampak negatif, misalnya, ketika dibawa peserta didik di kelas yang seharusnya mengikuti proses pembelajaran, namun justru short message service-an (SMS-an) dengan teman entah dalam satu sekolah atau lain sekolah. Padahal, hampir dapat dipastikan semua sekolah tak mengizinkan peserta didik membawa alat komunikasi tersebut ke sekolah dalam kondisi dihidupkan saat jam-jam sekolah. Namanya anak, aturan dilanggar itu sudah menjadi hal yang biasa, meski kalau ketahuan ada sanksi yang harus ditanggung. Tidak ada jera yang bersifat kekal. Artinya, dua-tiga hari paska ”ketahuan” dan sanksi diberikan umumnya baik-baik saja, tak ada lagi pelanggaran; tapi setelah itu, perilaku menyimpang atas aturan yang ada muncul lagi. Memrihatinkan sekali kalau HP yang ditemukan guru itu setelah dibuka ternyata menyimpan beragam gambar tak senonoh. Jelas perilaku menyimpang itu menghambat perkembangan belajar peserta didik.

Akan tetapi, dampak positif pemakaian HP sebagai alat komunikasi jelas dirasakan oleh banyak orang. Hubungan satu orang dengan orang lain lebih efektif dan praktis. Informasi di era HP (juga) cepat sampai pada tujuan, tak perlu menunggu waktu lama. Tenaga pun lebih dapat diminimalisasi. Sebelum era HP, untuk menyampaikan informasi ke tempat lain perlu menulis surat, misalnya. Menulis surat selalu diikuti mengantarkannya ke tempat tujuan yang perlu waktu, tenaga, dan biaya (meskipun HP (juga) pakai biaya, masih lebih menguntungkan). Apalagi HP dapat dibawa ke mana-mana. Yang akan sangat memudahkan bagi seseorang untuk meminta bantuan ketika misalnya ada gangguan dalam perjalanan. Tak perlu lagi mencari kotak telepon umum. Di tempat terjadi ”gangguan” itu juga, orang dapat langsung meminta pertolongan.

Demikian juga anak-anak sekolah tak harus terlalu merepotkan sanak/saudara/orangtua yang harus menjemput mereka jika mereka membawa HP (ingat, membawa HP ke sekolah bukan untuk dinyalakan saat proses pembelajaran berlangsung, tapi saat menjelang pulang untuk menghubungi orangtua apalagi kalau jam pulang tak seperti biasa). Sanak/saudara/orangtua tentu akan dapat mengatur waktu dengan baik. Waktu tidak terbuang untuk lama menunggu. Dengan demikian, lebih efektif.

Tak hanya anak-anak sekolah dan sanak/saudara/orangtua mereka, siapa pun akan merasakan lebih nyaman ada HP untuk berkomunikasi. Pedagang di pasar, karyawan kantor, buruh pabrik rokok, misalnya, akan memanfaatkan HP untuk menghubungi sanak-keluarga tatkala waktu pulang tiba dan harus menjemput mereka. Mereka tak lagi susah-susah mencari dan menunggu angkutan, misalnya. Tak juga keluar biaya untuk transportasi. Waktu termanfaatkan lebih efektif.

Nah, saat pulang mengajar siang tadi yang mengharuskan saya mampir ke tukang tambal ban karena ban motor saya kempes, bertemu dengan seorang tukang becak. Tampaknya sedang tak ada penumpang. Sehingga ia nongkrong (begitu santai) bercengkerama dengan tukang tambal ban. Saya ikut nimbrung setelah motor saya ditangani tukang tambal ban itu. Kami (akhirnya) berbicara ini-itu, tanpa ada tema yang terfokus.

Satu pernyataan tukang becak yang sangat mengesan di pikiran saya adalah ketika ia mengatakan bahwa kini pendapatannya menurun drastis gara-gara ada HP. Kok HP? Ya, karena dulu orang-orang yang biasanya memanfaatkan jasanya, kini tak lagi mau naik becak. Padahal, beberapa tahun yang lalu ia merasakan di tempat mangkalnya itu banyak orang menggunakan becaknya sebagai alat transportasi. Sekarang sulit menjaring penumpang. Mereka sering dijemput oleh sanak-keluarganya. Caranya, cukup menekan nomor dalam HP, beberapa saat penjemput yang adalah sanak-keluarga datang, lantas ngibrit di atas sepeda motor. Praktis dan ekonomis.

Dulu sebelum ada HP atau HP masih jarang, memang pernah ”dikalahkan” juga oleh munculnya angkutan. Akan tetapi, waktu itu tak semenderita sekarang. Sebab, jalur/jalan yang dilewati angkutan terbatas. Sehingga becak masih mendapat lahan untuk operasi. Masuk jalan-jalan kampung yang tak dilalui angkutan. Sekarang sama sekali. Lahan operasi habis total.

Kalau dulu, sehari masih dapat membawa pulang uang sebanyak Rp 30.000,00 – Rp 40.000,00. Kini, sulitnya bukan main. Untung masih ada orang yang mau memanfaatkan jasa becaknya, kebanyakan pemilik warung di pinggir jalan. Tukang becak itu disuruh turut membongkar-pasang warung sekaligus mengangkut barang-barang ke rumah atau sebaliknya. Untuk itu, tukang becak mendapat imbalan yang berwujud makan dan uang, meski jumlahnya tak seberapa. Berapa pun jumlahnya, ia dapat membawanya untuk keluarga. Dan, sekaligus (telah) mengurangi jatah makan di rumah. Akan tetapi, kalau warung libur, libur jugalah ia.
Di sinilah keterkaitan antara merebaknya HP dengan keberlangsungan hidup becak sebagai alat transportasi yang semakin terpinggirkan. HP merebak, tukang becak merangkak. Walah, walah....!

4 komentar:

  1. Ada benarnya juga, Pak.
    Tapi beberapa wkt yll saya menggunakan jasa becak, ngangkut beberapa potong kayu dg jarak krg dr 1 km, si tukang becak minta ongkos Rp25.000,- padahal wkt tempuh PP + bongkar barang gak ada 30 menit. Wah, kalau si tukang becak dapat oder 5 kali saja setiap harinya berarti sudah melebihi gaji saya sebulannya. He he he ...!

    BalasHapus
  2. persepsi ini tergantung dari sudut mana kita memandang. semua begitu relatif.

    BalasHapus
  3. Wah, anda begitu cerdas mengaitkannya, Pak Guru! Gusti pareng berkah!

    BalasHapus
  4. Wahh ...padahal saya lebih suka naik becak..tapi memang mahal sih, dibanding dengan angkot, apalagi jika bisa dijemput pakai sepeda motor.

    BalasHapus

""