Kamis, 17 Juni 2010

Ke Mana, Bola Pendidikan Indonesia Menggelinding?

Ke Mana, Bola Pendidikan Indonesia Menggelinding?

Dalam Piala Dunia Afrika Selatan 2010, yang diikuti oleh delapan grup, yang setiap grup terdiri atas empat negara berprestasi dalam sepak bola, bola-bola world cup telah mulai (ramai) digelindingkan ke stadion. Ke-32 negara jagoan bola kaki itu akan terus membangun kekuatan masing-masing dengan ”energi-energi” khusus yang telah dimiliki, yang tentu tak dimengerti oleh lawan, supaya terus dapat menggulirkan bola ke gawang lawan agar tujuan tergapai.

Begitu pula sebetulnya pendidikan Indonesia, yang kini harus bersaing dengan (maraknya) pendidikan asing. Pendidikan Indonesia harus dikelola dengan memanfaatkan ”energi-energi” khusus yang telah tersedia di rahim ibu pertiwi ini. Agar, memiliki kejelasan karakter, yang memungkinkan lebih baik atau paling tidak tak ketinggalan dari pendidikan asing. ”Energi-energi” khusus itu ada tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dan, karenanya harus optimis dalam memandang”energi-energi” khusus yang tersedia itu sebagai modal untuk berkembang. Jangan sampai tebersit pikiran bahwa hanya energi dari asing yang dapat digunakan sebagai modal berkembang. Dari sebagian besar wilayah di Jawa Timur, misalnya, tersedia karakter yang penuh semangat juang. Dari Jawa Tengah, dapat ditemukan banyak filsafat hidup dan seni yang dapat membangun kehalusan budi. Dari Bali, terdapat daya kreativitas yang tinggi. Dari Sulawesi dan Kalimantan, dapat dijumpai etos kerja yang tak mudah menyerah. Ini menyebut beberapa saja.

Artinya, jika kekayaan yang tersebar memenuhi wilayah Indonesia itu dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin nusantara ini menjadi negara yang (akhirnya) juga disegani lagi oleh bangsa lain. Diperlukan pengorbanan karena masing-masing wilayah/daerah memiliki keistimewaan, yang tak dimiliki oleh wilayah/daerah lain. Jangan sampai (malah) dijadikan sumber ego wilayah/daerah yang pada akhirnya menjadi pemicu perpecahan. Sebaliknya, kekhasan yang telah dianugerahkan Tuhan itu harus disinergikan menjadi satu kekuatan yang ”dahsyat”. Di penghujung pembukaan Piala Dunia 2010, beberapa waktu lalu, perjuangan kesebelasan Afrika Selatan, juga tim Meksiko, di Soccer City, Johannesburg, yang akhirnya imbang 1:1, tak mungkin meninggalkan nilai-nilai persekutuan, kerja sama, atau gotong royong. Pemain satu dengan yang lain tentu saling membantu. Saling melengkapi kekurangan yang lain. Itulah modal ”kekuatan” untuk maju.

Afrika Selatan tentu memiliki strategi yang digali dari dalam diri sendiri. Demikian juga Meksiko. Masing-masing mendulang potensi timnya. Kemampuan yang mereka miliki (tentu) telah mereka ketahui dan pelajari. Misalnya, bagaimana kemampuan menggiring bola, seberapa kuat tendangan mereka, seberapa cepat lari mereka, ada berapa pemain yang teknik permainannya baik, dan seperti apa keadaan postur tubuh setiap pemain. Kondisi itulah yang dikelola semaksimal mungkin untuk menghadapi lawan tanding.

Tentu kesebelasan Jepang, yang postur tubuhnya cenderung lebih kecil jika dibanding dengan pemain-pemain Pantai Gading, mempergunakan ”gaya” bertanding yang berbeda. Mereka akan mengeksplorasi (mati-matian) potensi dirinya untuk dikembangkan menjadi ”gaya-gaya” bermain yang khas, yang mampu menandingi lawan. Tak mungkin Jepang ”memaksakan” dirinya untuk bermain serupa ”gaya” permainan Pantai Gading karena keberadaan mereka jelas berbeda.

Maka, penting kiranya pendidikan Indonesia dikembangkan berdasarkan kekuatan-kekuatan yang tersedia dari rahin ibu pertiwi, bukan (malah) berdasarkan kekuatan-kekuatan dari luar. Terlihat secara terang benderang, beberapa tahun terakhir ini, Indonesia agaknya cenderung ”mengagungkan” kekuatan-kekuatan asing. Tengok saja, misalnya, munculnya rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI) yang lebih mengunggulkan penggunaan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran. Sehingga, beberapa mata pelajaran (mapel) yang dulunya memakai pengantar bahasa Indonesia, yang notabene ”kekayaan” pribadi itu, harus tergantikan bahasa Inggris, yang merupakan ”kekayaan” asing.

Padahal, sebetulnya, dengan tak ”mengangungkan” penggunaan bahasa Inggris pun dalam proses pembelajaran, belum tentu (kita) tak dapat bersanding dengan asing. Taruhlah, misalnya, pemakaian bahasa Inggris tetap serupa dengan porsi-porsi yang dulu, namun fungsinya lebih dimaksimalkan, masih sangat terbuka peluang untuk dapat berkiprah di ajang internasional, atau dikenal internasional. Ketika tahun 70-an, pendidikan kita diacu oleh Malaysia, itu bukan karena kepiawaian kita dalam berbahasa Inggris. Justru kala itu penggunaan Bahasa Indonesia sedang mantap-mantapnya karena Yus Badudu ”mengajarkan” lewat banyak media elektonika.

Kini, justru bahasa kebanggaan nasional itu telah termarjinalkan. Juga pola-pola pendidikan ”khas” yang diperkenalkan oleh pendahulu kita, kini telah tergantikan pola-pola pendidikan asing. SD, SMP, SMA, dan PT berlomba-lomba ”berkiblat” pada pendidikan asing, yang disadari atau tidak, telah ”menenggelamkan” roh pendidikan Indonesia. Semakin menipisnya tata krama, musyawarah, kekerabatan, rasa sosial, tenggang rasa, keuletan, keramahan, dan nilai-nilai humanistis lain pada kaum terdidik kita, mungkin karena (memang) bergulirnya bola pendidikan Indonesia kurang tepat.

Oleh karena itu, (agaknya) nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para perintis bangsa itu tak boleh terabaikan. Justru bagian ini yang harus lebih dipertajam dalam khasanah pendidikan Indonesia. Karena, sesungguhnya, itulah yang menjadi jati diri pendidikan bangsa ini. Pendidikan bangsa ini harus ”mengakar” pada keragaman kekayaan ibu pertiwi. Penanaman jati diri (harus) lebih dipertegas lagi. Saya berpikir, pendidikan Indonesia (kini) telah jauh menggelinding, tapi kurang mengakar. Sehingga, hanya berputar-putar di tengah lapangan, tak sampai ke gawang tujuan, karena mengalami ”kebingungan”.

Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan Indonesia harus membangun kemantapan terlebih dulu berdasarkan akar budaya yang ada, baru kemudian memperkaya dengan yang ”berbau” asing. Fakta yang ada, kini, pendidikan Indonesia belum kuat mengakar pada budaya sendiri, tapi telah ”memberanikan” diri mengusung pola pendidikan luar negeri. Yang, justru menimbulkan kesan sekadar hanya mempertahankan gengsi.

5 komentar:

  1. kalo gini gmn pak, siswa berpotensi dibiayai negara untuk menuntu ilmu keluar negeri to dy harus meneken kontrak dl, klo sudah lulus harus kembali ke negara kita buat mengabdi..

    BalasHapus
  2. agaknya sulit menghindar dari pengaruh asing, pak, selama para pengambil kebijakan di negeri ini masih gampang disetir oleh kaum pemilik modal yang umumnya berasal dari asing. untung UU BHP dianulir, kalau tidak, makin parahlah intervensi asing itu.

    BalasHapus
  3. Ulasannya mantab, Pak. Meski saya guru bahasa Inggris saya selalu berusaha berhati-hati. Saya tidak ingin siswa saya melalaikan budaya sendiri.
    Dalam hati sebenarnya sayapun sering bergumam ketika mendengar sekolah berlabel RSBI/SBI bahasa pengantar KBM-nya menggunakan bahasa Inggris. Jane ki karepe piye, to ya?

    BalasHapus
  4. @Tukang Colong:
    Saya setuju itu, hanya ketika nanti telah mengabdi di ibu pertiwi perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah karena mereka aset bangsa.

    @Pak Sawali:
    Wah,wah... wah...kapan berakhirnya ya, Pak, sepertinya terus ada "regenerasi" dari waktu-ke waktu yang tak pernah ada bedanya.

    @Pak Mursyid:
    Ada visi ada misi, tapi realitasnya (rasanya) tak bakal terwujud karena masih berpusing-pusing terus di tengah "lapangan", alias dilematis.

    BalasHapus
  5. ijin sedot, buat tugas ya pak :D

    BalasHapus

""