Rabu, 09 Juni 2010

Mapel Bahasa Indonesia, Perlu Persepsi Baru

Mapel Bahasa Indonesia, Perlu Persepsi Baru

Mengejutkan banyak orang memang, jika (nyaris) di sepanjang waktu ada ujian nasional (unas), mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia tak pernah menjadi perintang lulus, tapi di unas 2010, justru berubah menjadi monster yang membuat banyak peserta didik belum -untuk tak memanfaatkan kata ”tidak”- lulus. Posisi mapel Bahasa Indonesia dalam menyokong peserta didik belum lulus justru menggeser mapel yang selama ini menjadi momok, seperti matematika dan Bahasa Inggris. Artinya, kalau unas-unas terdahulu (selalu) jenis mapel eksak dan Bahasa Inggris yang menduduki peringkat tinggi menggagalkan peserta didik lulus; di unas 2010, peringkat itu diduduki mapel Bahasa Indonesia.

Sebagai gambaran riil, berikut data berdasarkan Radar Kudus (26/5/2010), yang bersumber dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus. Untuk jenjang SMA/SMK/MA yang belum lulus karena nilai mapel bahasa Indonesia tak memenuhi syarat sejumlah 411 peserta didik, dengan rincian 59 peserta didik SMA, 144 peserta didik MA, dan 208 peserta didik SMK; sedangkan untuk jenjang SMP/SMP Terbuka/MTs sejumlah 371 peserta didik, dengan rincian 215 peserta didik SMP/SMP Terbuka dan 156 peserta didik MTs.

Angka setinggi itu (411 untuk SMA/MA/SMK dan 371 untuk SMP/SMP Terbuka/MTs), sebelumnya tak terduga sama sekali. Sebab, seperti yang telah disebut di atas, biasanya nilai unas mapel Bahasa Indonesia selalu baik. Karenanya, oleh sebagian banyak orang kemudian mapel Bahasa Indonesia tak ”diperhitungkan” bakal menyumbang skor kegagalan dalam hasil unas.

Mereka menganggap mapel tersebut lebih mudah ketimbang mapel lain yang diunaskan. Meski, diakui atau tidak, guru mapel Bahasa Indonesia pun tetap merasa memiliki beban seberat beban yang ditanggung guru mapel (unas) lain itu. Bahkan, kalau di sepanjang keberlangsungan unas terdahulu, misalnya ada satu (saja) nilai unas mapel Bahasa Indonesia turut menyumbang ”ketidakberuntungan” hasil unas, bebannya dapat dimaknai sama beratnya dengan ”menanggung” beban beberapa -tak hanya satu- nilai unas mapel lain yang jeblok.

Oleh karena itu, setiap menjelang unas, tingkat ”kestresan” guru mapel Bahasa Indonesia sebenarnya lebih berat ketimbang guru mapel unas lainnya. Sebab, jangan-jangan meski tak ”diperhitungkan” (karena dianggap mudah tadi), ada juga peserta didik yang belum lulus hanya karena nilai unas mapel Bahasa Indonesia jeblok. Kalau biasanya nilai unas mapel Bahasa Indonesia baik, lalu ternyata didapati ada yang tak baik (seperti dalam unas 2010), tentu menjadi satu teror yang menggelisahkan. Berbeda dengan mapel unas yang selama ini memang menjadi momok. Kalau pun ada nilai jeblok, tak terlalu menjadi persoalan karena telah biasa.

Gambaran itulah yang menyebabkan ”keterkejutan” nilai hasil unas 2010. Yang secara faktual menunjukkan banyaknya peserta didik belum lulus karena lebih banyak jatuh di mapel Bahasa Indonesia. Dan, ini (akhirnya) dipahami banyak orang bahwa bahasa sendiri (justru) belum terkuasai. Muncullah dugaan bahwa Bahasa Indonesia kurang penting karena faktanya setiap ada lowongan pekerjaan yang diutamakan kemampuan berbahasa Inggris. Maka, yang lebih diutamakan adalah penguasaan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, seperti Mandarin dan Jepang. Ada juga dugaan, seperti yang telah disebut di atas, bahwa Bahasa Indonesia itu mudah sehingga tak perlu ditekuni secara serius.

Anggapan bahwa mapel bahasa Indonesia itu mudah boleh jadi karena, di samping sepanjang unas sebelum 2010 selalu menunjukkan hasil baik, juga Bahasa Indonesia (memang) menjadi alat komunikasi keseharian, baik di sekolah, kantor swasta, maupun instansi, bahkan (juga) di rumah yang di beberapa daerah malah telah menggeser peran bahasa ibu. Hanya, pemakaiannya cenderung (disadari atau tidak) mengabaikan kaidah yang ada. Apalagi dibarengi dengan menjamurnya penggunaan bahasa ”gaul” di kalangan anak-anak. Tengok saja, misalnya, bahasa yang mereka pakai di short message service (SMS) atau pesan pendek dan facebook. Sedikit banyak kenyataan itu berdampak pada rendahnya kualitas pemahaman Bahasa Indonesia.

Belajar Bahasa Indonesa secara baik dan benar itu sebetulnya memerlukan “energi” yang jauh lebih banyak ketimbang belajar ilmu yang lain. Kalau belajar ilmu eksak/pasti, umumnya cenderung memanfaatkan logika; belajar Bahasa Indonesia tak cukup menggunakan logika, tapi juga perasaan. Itu artinya, ketika orang belajar matematika mengerahkan kecerdasan intelektual; sedangkan belajar Bahasa Indonesia, disamping mengerahkan kecerdasan intelektual, juga kecerdasan emosional. Karena, mapel eksak lebih mengarah ke monotafsir, sedangkan mapel Bahasa Indonesia ke multitafsir.

Keluasan materinya pun sulit terukur, tidak seperti mapel (unas) lain. Mapel eksak, seperti matematika dan IPA, agaknya lebih mudah dibatasi karena (misalnya) ada rumus-rumus, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip praktis yang cenderung tetap dari waktu ke waktu, dan jelas itu sangat membantu. Mapel Bahasa Indonesia tidak demikian. Misalnya, dalam teks bacaan sastra saja. Saat belajar, peserta didik menghadapi bacaan Siti Nurbaya. Tapi, sangat terbuka kemungkinan di soal unas bukan bacaan Siti Nurbaya, melainkan Laskar Pelangi. Realitas itulah yang menyulitkan peserta didik untuk dapat fokus belajar mapel Bahasa Indonesia, terutama saat menghadapi unas. Dan, sekaligus berarti peserta didik dituntut untuk ”menjelajah” banyak bacaan.

Padahal, anak-anak (kita) rata-rata tak memiliki ketahanan membaca yang cukup bisa diandalkan. Kondisi ini disebabkan oleh kultur masyarakat kita yang memang belum memiliki budaya membaca (dan juga menulis) yang baik. Masyarakat kita baru sebatas suka mendengar dan melihat saja.

Kenyataan itu tampaknya selaras dengan peringkat yang diperoleh peserta didik Indonesia dalam aspek kemampuan membaca yang masih rendah jika dibandingkan dengan siswa negara lain. Satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa, dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalah penelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yang disponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia.

Bisa dipastikan kalau tak ada perubahan persepsi dalam belajar bahasa Indonesia, ”kemerosotan” nilai unas mapel Bahasa Indonesia 2010, akan terulang di unas 2011. Bahkan, tak menutup kemungkinan semakin parah kalau sementara ”perluasan” materi terus (akan) bertambah sesuai dengan perkembangan zaman; namun sikap, kultur, dan kebiasaan masyarakat (termasuk guru) tak bergeser dari yang telah ada. Disadari atau tidak, hal itu berpengaruh besar terhadap anak-anak (baca: peserta didik). Oleh karena itu, segera mengubah persepsi masyarakat (termasuk guru) terhadap mapel Bahasa Indonesia sangatlah penting.

Pertama, memiliki kesadaran bahwa bukan berarti yang selalu mendapat nilai baik, itu mapel yang mudah. Misalnya, sepanjang unas sebelum 2010, nilai mapel Bahasa Indonesia selalu baik, tapi kurang pas jika kemudian disimpulkan mapel tersebut mudah. Hal itu akan menimbulkan sikap meremehkan keberadaan mapel Bahasa Indonesia, yang (pada akhirnya) dapat saja menurunkan gairah belajar, yang bermuara pada jebloknya prestasi.

Kedua, menyadari bahwa mapel Bahasa Indonesia, tak cukup dicermati dengan logika/intelektual, tapi juga perasaan/emosional (terutama yang terkait dengan materi sastra). Guru mapel Bahasa Indonesia dengan demikian perlu mensinergikan kompetensi intelektual dan emosional untuk menginspirasi peserta didik dalam belajar (yang sesungguhnya) mapel Bahasa Indonesia.

Ketiga, tumbuh pemahaman bahwa materi mapel Bahasa Indonesia begitu cepat berkembang mengikuti perkembangan arus zaman, oleh karenanya dibutuhkan sikap adaptif. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengikuti perkembangan yang ada sebagai upaya ”menangkap” luasnya bahan yang terdiaspora.

Pada akhirnya, tulisan ini hanyalah sebatas gagasan, pemikiran, yang mati, tak bernyawa. Tentu tak memiliki efek apa-apa tanpa ada upaya konkret dari berbagai pihak, baik masyarakat, guru, orang tua, maupun peserta didik untuk mau mengubah persepsi terhadap mapel Bahasa Indonesia. Selamat berubah!

Artikel di atas dimuat di Radar Kudus, 8 Juni 2010

17 komentar:

  1. Betul itu pak!!!
    Padahal kan kita juga butuh bahasa Indonesia!!!!
    Biar dipakai sehari-hari tapi nyatanya jarang ada anak yang berhasil mendapatkan nilai sempurna untuk semua ulangan Bahasa Indonesia!!
    (derita yng pernah ikut lomba menulis bahasa Indonesia-red)
    hahahaha =D

    BalasHapus
  2. Lomba menulis cerpen Bahasa Indonesia kan?
    kamu masih dapat juara III saat itu. Itu sungguh luar biasa.

    Salam kekerabatan, mantan muridku yang kreatif!

    BalasHapus
  3. Waaaaaa~
    Pak Sungkowo masih ingat!! XD
    Tapi cerpennya hilang sekarang - -;
    padahal mau di pake bu Endah buat akreditasi~
    hehehe..

    Pak, kok kaya mau tanding sepak bola sih pak?? XD

    BalasHapus
  4. Betul itu Pak,
    memang,bagi anak zaman sekarang, Bahasa Indonesia ibaratnya sudah di masukkan ke dalam tong sampah sebelum mereka mempelajarinya..
    Mereka hanya berkutat di IPA, Matematika, Ekonomi, atau Bahasa Inggris..
    Tapi, kalau menurutku, justru yang mereka buang ke tong sampah merupakan "emas" yang tidak mereka sadari..^^..
    Mari kita lestarikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak!!!
    Karena seni dan budaya Indonesia ada bukan untuk "dianggurkan" begitu saja, tapi memerlukan tangan-tangan yang bisa menghargainya dan melestarikannya..^^..

    BalasHapus
  5. Belajar banyak hal baru itu perlu, tapi jangan melupakan yang lama~
    Setuja, sa!!! XD

    BalasHapus
  6. Iy setuju2 mi,

    Lho Mi, cerpenmu ilang?
    (pantes Bu Endah nguber2 aku, ta'bilangi punyaku juga ilang, ndak percaya sisan)
    Hehe..

    BalasHapus
  7. kegagalan siswa dalam mengikuti un bahasa indonesia, khususnya di sma/smk, menurut saya lebih banya disebabkan kualitas soal yang diragukan tingkat validitasnya, pak. hal itu diperparah dengan soal-soal apresiasi (sastra) yang mereduksi pemahaman dan penafsiran siswa terhadap soal yang disajikan. selain perbaikan mutu pembelajaran, penyusun soal juga perlu belajar bagaimana menyusun soal un yang baik dan bermutu.

    BalasHapus
  8. Haya sa,, ilang kok..
    Dulu di pinjem2 trus begitu balik rumah angger ta gletakke,xixixixi
    Lupa ta taro mana~
    hehe..
    belom ngasi tau Bu Endah juga XP

    BalasHapus
  9. Enak kw mi..
    lha aku?
    semua cerpen, puisi yg pernah ta'buat disuruh njilid, pake hard cover...
    sebelum pindah SMA harus sudah ada, diuber2 terus sisan...
    Ta'kasi 1 ndak mau,minta semuane..
    hahaha..:D

    BalasHapus
  10. soal yang diturunkan menurut saya jelas tidak valid, karena tidak mengukur apa yang akan diukur. misalnya siswa dapat membuat puisi, dapat menulis cerpen, dapat menulis resensi dan sebagainya,...bahkan tidak sedikit siswa yang meraih prestasi bidang bahasa. Lantas untuk ujian diukur dengan pilihan ganda...bagaimana ini bisa dikatakan valid? bagaimana penghargaan terhadap siswa kita yang telah berprestasi di bidang kebahasaan?

    BalasHapus
  11. @Elsa:
    Mari terus berkarya!

    @Mia:
    Kamu cari sampai ketemu, cerpen "Malaikat Kecilku" (kalau saya tak salah ingat, Mia).

    @Pak sawali:
    Mungkin demikian juga untuk soal SMP sederajat ya, Pak.

    @Pak Budi:
    Artinya, ke depan, demi membangun keselarasan dengan materi yang dipelajari siswa, soal-soalnya perlu ada perubahan ya, Pak?

    BalasHapus
  12. saya sangat awam dengan dunia pendidikan, tapi menurut saya apakah Bahasa Indonesia memang harus di UNAS kan. masalahnya setiap hari bahasa kan selalu berkembang sesuai kebutuhan, lalu bagaimana kita menciptakan standarnya, apalagi dalam bentuk soal UNAS.bukankah fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan identitas,siswa gak lulus matematika ada kemungkinan PASTI dia memang lemah di dalam matematika, tapi siswa yang tidak lulus bahasa Indonesia apakah dia PASTI lemah di dalam komunikasi dan tidak bangga dengan identitas kebangsaannya. maaf jika komentar sok tau saya ini salah.... ^^

    BalasHapus
  13. ayo kita berbahasa yang baik dan benar,hehe

    BalasHapus
  14. p3rlu dipikirk@n ju9@ @k@n h@dirnya f3nomen@ @L4y P@k <-- itu salah satu perusak bahasa Indonesia, maksut hati mau lucu2an malah kebablasan lupa bahasa sendiri...

    ada seorang anak didik teman saya yang menjawab soal ujian pakai b@h@sa Al@y ini pak...memprihatinkan...

    BalasHapus
  15. Zaman saya mahasiswa, banyak yang di DO gara-gara bahasa Indonesia berturut-turut tidak lulus.
    Saya setuju, bagaimanapun pandai nya berbahasa asing, bahasa sendiri yang harus dipelajari dengan serius

    BalasHapus
  16. ya, bahasa memang tiba-tiba menjadi bahasan

    BalasHapus
  17. @bekti patria:
    Memang menarik, Sobat, apalagi akhir-akhir ini bahasa Indonesia semakin banyak "disandingi" bahasa lain.

    Terima kasih telah berkenan berkunjung.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""