Jumat, 11 Juni 2010

Menulis Ijazah, Stres pun Datang

Menulis Ijazah, Stres pun Datang

Beberapa hari terakhir ini, saya dan beberapa teman guru disibukkan dengan aktivitas menulis ijazah, yang sebentar lagi harus diterimakan kepada para peserta didik yang berhak menerima. Menulis ijazah, berdasarkan pengalaman yang saya temukan, (ternyata) selalu menjadi persoalan dari tahun ke tahun. Menjadi persoalan karena tak setiap guru yang diberi tugas mau (melaksanakan tugas) menulis ijazah itu dengan tanpa ”menolak” terlebih dahulu, meskipun ”gaya” menolak masing-masing guru berbeda.

Ada yang menolak dengan dalih tulisannya jelak. Ada juga yang menolak karena tak dapat berkonsentrasi penuh, yang memungkinkan (nanti) salah dalam menulis. Ada pula yang menolak karena takut kalau ada kesalahan. Dan, tak sedikit yang menolak karena antara beban yang harus ditanggung dengan honor yang diterimakan tak ”seimbang”. Mungkin masih ada seabrek alasan lain mengapa banyak guru yang menolak menulis ijazah.

Memang harus diakui bahwa ijazah adalah sesuatu yang sangat berharga bagi peserta didik yang telah dinyatakan lulus dari jenjang pendididkan tertentu. Peserta didik untuk mendapatkan ijazah itu harus menempuh pembelajaran beberapa tahun, dan harus melampaui tingkat-tingkat kelas yang memerlukan ”energi” tak sedikit. Apalagi jika peserta didik itu tingkat penerimaan materinya termasuk lamban, jelas perlu waktu yang sedikit agak panjang. Ada banyak rintangan yang harus dilalui, baik rintangan yang bersifat internal maupun eksternal. Anak-anak usia pelajar, yang notabene masa mencari jati diri itu, memang penuh dengan ”godaan”. Kalau termakan ”godaan”, berarti kurang mulus dalam belajar; sementara itu, dapat melewati ”godaan”, yang berefek pada mulusnya menjalani pendidikan, jelas memerlukan ”benteng” yang tangguh. Intinya, untuk memperoleh ijazah perlu perjuangan. Di samping itu, berharganya (selembar) ijazah karena peruntukannya memang mutlak sebagai sarana menjalani keberlangsungan pendidikan khususnya dan hidup pada umumnya.

Keberlangsungan pendidikan jelas memerlukan ijazah. Untuk dapat meneruskan ke jenjang SMP atau yang sederajat harus memiliki ijazah SD atau yang sederajat. Untuk melanjutkan ke jenjang SMA atau yang sederajat perlu memiliki ijazah SMP atau yang sederajat. Demikian juga, jika masuk ke PT, ijazah SMA atau yang sederajat mutlak diperlukan. Dan seterusnya dan seterusnya. Hingga, pada ketika seseorang mencari pekerjaan, ijazah pun rupanya (tetap) menjadi syarat mutlak. Seolah-olah ijazah menjadi penyambung napas hidup.

Ijazah agaknya tak hanya berharga di mata peserta didik yang berhak menerima, tapi juga di mata orang tua. Bagaimanapun juga ”kelahiran” ijazah di tangan anak, orang tua sangat berperan. Orang tua tak hanya menjadi ”promotor”, tapi juga memotivasi anaknya agar sekolah dengan sungguh-sungguh. Perjuangan orang tua di belakang anak tak dapat diabaikan. Setiap orang tua (juga) selalu mengidamkan anaknya hidup sukses di masa depan. Meskipun kesuksesan orang tak selalu terkait dengan ijazah, tapi tak dapat dipungkiri (hingga di masa sekarang ini, di Indonesia) ijazah masih menjadi ”modal” penting untuk meraih harapan.

Gambaran di atas itulah yang mungkin ”mengharuskan” ijazah itu ditulis secara khusus. Khusus, bukan berarti dimantra-mantrai terlebih dahulu, atau diselamati terlebih dulu. Bukan. Tapi, (umumnya) perlu ditulis oleh guru yang tulisannya bagus, indah, dan rapi. Ditulis dengan tinta yang harganya agak sedikit mahal. Tentu di samping agar tak mudah mblobor, juga ketebalan dan keawetannya terjamin.

Maka, ketika surat keputusan (SK) Kepala Sekolah diturunkan, tercantumlah nama-nama guru yang (mungkin) tulisannya dianggap lebih baik daripada yang lain. Akan tetapi, nyatanya, seperti tadi yang telah disebut di atas, dengan berbagai alasan tak setiap guru yang diberi tugas itu mau melaksanakan secara legawa, ikhlas, dan enjoy.

Menulis ijazah yang memiliki ”nilai” tinggi itu memang tak mungkin ditulis dengan kadar konsentrasi yang biasa-biasa saja, seperti misalnya ketika menulis karya tulis, surat, memo, atau yang lain. Sebab, kertas ijazah tak mudah begitu rupa untuk minta ganti jika dalam penulisan ada yang salah. Harus melalui proses yang agak panjang. Pihak sekolah pun (akan) merasa sungkan, malu, dan tak enak hati kalau jumlah yang salah itu relatif banyak. Oleh instansi atasan, (tentu) sekolah dinilai kurang hati-hati. Meski secara kelembagaan sekolah yang dianggap tledhor, kurang hati-hati, guru yang menulis ijazah pasti memiliki beban tersendiri.

Beban yang sebenarnya sebelum memulai menulis ijazah (saja) sudah muncul itu, bahkan membiakkan stres. Kami berempat mengakui bahwa saat menulis ijazah sangat stres. Ada perasaan takut, khawatir, dan cemas. Saya menulis di tempat yang udaranya cukup dingin saja (meski tak ber-AC), masih berkeringat dan harus menyiapkan sapu tangan untuk melap keringat. Hal yang sama ternyata dialami juga oleh teman saya (malah pakai handuk kecil!). Karena, jangan-jangan, butir-butir keringat akan jatuh di kertas ijazah yang ditulisi kalau tak dilap dan merusakkannya. Perlu (juga) konsentrasi yang penuh. Lelah sedikit saja perlu segera istirahat sebab jika dipaksakan dilanjutkan boleh jadi mengalami kesalahan.

Pengalaman menulis ijazah kali ini menarik untuk direnungkan. Ada teman yang mengalami kesalahan. Tiga lembar kertas ijazah harus dimintakan ganti. Setelah kertas ijazah pengganti ada, teman saya itu tak mau menulis (lagi). Benar-benar terlihat ada beban berat. Ada perasaan takut yang tak dapat terkatakan. Bagimana pun juga dipaksa, ia tak (bakal) mau menulis. Kesalahan pertama yang tak sengaja dibuat (malah) menjadi semacam monster yang menakutkan sehingga ia benar-benar menolak saat disuruh menulis (lagi). Benar-benar trauma. Akhirnya, saya harus menolongnya meski sebetulnya beban itu pun memberat pada diri saya.

Bahkan, karena beban semacam itu, beberapa di antara kami ada yang berucap tahun depan harus diganti. Harus diganti! Ketakutan yang berlebihan (yang dialami beberapa guru) itu semoga tak membuat stres berkelanjutan.

Oleh karenanya, bagi saya, menulis ijazah itu tak harus indah dan bagus. Sebab, tulisan indah dan bagus itu cenderung (hanya) dipunyai guru-guru seni rupa, di samping mereka diyakini (juga) lebih memiliki tingkat ketelitian dan kehati-hatian serta kesabaran yang dapat diandalkan. Sayang, guru seni rupa tak banyak jumlahnya. Bahkan, jika kita mau jujur, tak setiap sekolah memiliki guru seni rupa. Ini masalahnya. Maka, menulis ijazah itu yang penting adalah jelas dibaca dan rapi. Waktu yang relatif lama disediakan untuk menulis ijazah agaknya akan sangat membantu mengurangi beban pikiran. Dan, jelas hal ini terkait dengan harus cepatnya distribusi blangko ijazah ke sekolah-sekolah.

29 komentar:

  1. saya kemarin menulis ijazah 100 lebih pak, wah sampai dengkelen saya... lha yang muda-muda kok gak ada yang mau, saya dulu masih capeg, dah disuruh...dan sampai sekarang,,masih belum ada yang mau lagi

    BalasHapus
  2. Selamat atas tugasnya, Pak. Semoga lancar2 saja dan honornya jumbuh dengan tanggung jawabnya.

    BalasHapus
  3. Memang berat ya pertanggungjawabannya
    Saat menjadi Kepala Divisi Pendidikan dan Latihan, maka setiap kali kena giliran tanda tangan....dan tangan sampai pegal...untungnya ijazah itu untuk para staf/karyawan yang telah lulus ujian, yang hanya merupakan salah satu kriteria untuk bisa naik pangkat, sehingga tak terlalu berat dibanding ijazah lulus pendidikan seperti SMP, SMA, PT dll.

    BalasHapus
  4. selembar surat yg menentukan masa depan seseorang.... selamat bekerja ya pak.... saya hanya bisa bantu doa saja ^^

    BalasHapus
  5. Pak, sejak dulu saya berpikir kenapa ijazah itu ngga ditulis pake komputer?

    BalasHapus
  6. alhamdulillah, dalam dua tahun terakhir ini saya ndak nulsi ijazah lagi, pak. sdh banyak temen yang mau dan sanggup menulisnya.

    BalasHapus
  7. loh menulis ijazh kokstress ta gan

    BalasHapus
  8. masih sekolah apa gmana ni

    BalasHapus
  9. andai saja guru2 memiliki rasa memiliki 'penghargaan' yg tinggi terhadap siswa yang telah ia pergauli dan didik selama lebih kurang 3 tahun, maka memberikan ijazah dengan menuliskannya sendiri mungkin merupakan pekerjaan yang paling ditunggu2nya..jika sudah demikian, maka saya rasa dunia pendidikan akan maju...
    namun sayang kdg pendidikan itu sering bertepuk sebelah tangan, karena banyak faktor...

    btw, tentang e-health, kami melakukan riset di puskesmas, yang low cost agar dpt mencapai layanan primer di indonesia, shg kesan hy dpt dinikmati org kaya saja dpt luntur pak..doakan kami...

    BalasHapus
  10. sebetulnya menulis ijazah ada teknik khusus untuk meminimalkan kesalahan. alhamdulillah, tugas menulis ijazah kemarin bisa saya selesaikan tanpa kesalahan.

    BalasHapus
  11. @bekti patria:
    Selamat dan sukses, Sobat.
    Salam kenal dan kekerabatan.

    BalasHapus
  12. Salam Kenal Pak Sungkowo.
    Salut dan angkat topi buat anda, betapa tidak goresan tangan indah bapak akan ikut menetukan masa depan anak didik untuk meneruskan pembangunan bangsa yang kita cintai ini.

    Akhirnya saya menemukan blog ini yang mengulas masalah penulisan ijazah, saya orang tua murid anak saya baru tamat SMA tahun ini, tapi nasibnya mungkin kurang beruntung karen ikut diperburuk oleh tangan yang kurang terampil dan kurang teliti dari si pejabat penulis IJAZAH, nama anak saya tertulis SALAH, pihak sekolah hanya membuatkan surat keterangan atas kesalahan itu dan berjanji untuk mengusulakn penggati tapi lagi-lagi dengan tidak berharap banyak, karena blanko ijazah terbatas dan lebih parah lagi kalo SKHU yang salah sama sekali tidak dapat diganti. Nah bagaimana jadinya nasib masa depan anak bangsa ini termasuk anak saya? rencana mau mendaftar ke TNI/Polri, saya kasihan melihat anak saya jadi murung terus seperti kehilangan semangat untuk meneruskan sekolah. Nah ini contoh nyata bagi Pak Sungkowo dan pejabat yang lain yang diserahi tugas menulis ijazah. Jika dilihat dari kaca mata awam (wali murid)penulisan ijazah haruslah benar 100% atau kesalahan nol (zero depect, karena akibatnya dapat merugikan pihak lain. Saya mohon arahan dari bpk Sungkowo atas masalah yang saya hadapi saat ini, semoga Allah SWT tetap memberikan Berkah dan Kekuatan kpd bpk untuk mengabdikan diri dan bermanfaat untuk orang lain, jika berkenan mohon jawaban bapak dapat dikirim ke E-mail saya : tirtagayo@yahoo.com. Terima kasih atas arahan bapak.

    Salam


    M.Gayo
    Limus Pratama Regency, B5.21, Cileungsi - Bogor

    BalasHapus
  13. Saya juga mengalami hal yang sama dengan pak Tirtagayo...
    Anak saya baru lulus SMP..dan baru kemarin (18 Agustus 2010) ijasah bisa diambil di sekolah SMP-nya dulu, bukan karena kami terlambat mengambil..karena memang baru selesai dibuat (aneh juga ya.....)...
    Setelah tadi malam saya lihat...nama anak saya di ijasah tersebut bekas diperbaiki.....mungkin sebelumnya salah tulis..terus seperti dikerok pakai silet/pisau mungkin...baru ditimpa kembali dengan tulisan yang benar.....dan fatalnya...kesalahan tidak hanya 1 huruf..tapi 4 huruf....
    Bekas perbaikan tersebut sangat nyata dan tentu saya sangat risau, kuatir ada masalah di kemudian hari bila ijasah tersebut diperlukan. Karena ijasah merupakan hal sangat penting dan akan diperlukan sepanjang hidup....

    Yang ingin saya tanyakan...bisakah kami minta penggantian ijasah tersebut...dan bagaimana prosedurnya?...kalaupun kami harus mengurussampai ke kantor diknas atau yang lain saya siap jalani....karena hal ini merupakan hal yg sangat fatal bagi saya.....

    Untuk bantuan jawabannya...sebelumnya saya ucapkan terima kasih.


    Nunung
    Jakarta

    BalasHapus
  14. assalamu alaikum pak,.n selamat sore.

    lagsung sya sekarang menjalani kuliah di slah satu perguruan tinggi negeri,,,dan yg mmbuat sy khatir pak,,ketikan nnti ijazah sy di mnta itu gmna?
    soalnya ada pnulisan tggal lahir sy yg salah n smua ijzah itu berbeda tggl lhir dr sd mpe sma,,,itu krena kelalaian pnulis ijazah tersebt.
    smpe skrg pak,,,sy msh kepikiran itu terus,,gmna nasib sy nnti..?ap yg hrus sy lkukan,,
    skrg sy udah tingkat dua,,rencananya nnti mau plng ngurus surat keterangan,,??nah ap surat keterangan itu tidak di permasalahkan lg jika sy daftar CPNS krena sy juga kuliah di UNIV yg lgsung di angkat gtu pak jdi CPNS stelah lulus,,,nah sy bingung ni pak????

    sy mhon kepada bpak solusi dan srannya ke email sya..

    adiwijayastan@gmail.com
    terima kasih sebelumnya pak atas bntuannya
    sy sngat berhrp mndpt pncerahan dr bapak.

    BalasHapus
  15. @Anonim:
    Lalu, bagaimana putra/(putri?)anda dapat sekolah yang lebih tinggi, ke SMA/MA/SMK, jika ijazah baru selesai dibuat dan anda baru ambil 18 agustus 2010? Tentu, jika sekarang telah bersekolah dengan mempergunakan bukti yang lain, seperti SKHU,misalnya, saya turut bersyukur.

    Mengenai bekas kerokan pisau/silet atas beberapa huruf nama putra/(putri?) anda pada ijazah, sejauh masih dapat dibaca dan tidak sangat rusak, saya pikir tak perlu dikhawatirkan kepentingannya ke depan. Sebab, jika kini anda hendak mengurus gantinya saya rasa waktunya telah terlalu jauh, karena blangko ijazah yang masih sisa dan blangko tukar akibat kesalahan tulis, sejauh saya tahu, dibakar/dimusnahkan setelah 2 bulan penulisan ijazah.

    Andai waktunya masih cukup, benar, bahwa jika anda berniat untuk mengurus ijazah yang mengalami kesalahan itu ke diknas setempat, tentu setelah konfirmasi terlebih dahulu ke sekolah tempat putra/(putri?) anda bersekolah.
    Salam.

    BalasHapus
  16. BUAT PAK Sungkowoastro MOHON MOHON ARAHAN SAJA, saya sudah 18 tahun diserahi menulis ijasah mulai tahun 1993-2011...nah baru sekarang ada kesalahan..dikarenakan model ijasah yang rumit : semua nilai dmasukin mulai rata-rata raport,nilai ujian sekolah. nilai akhir dan nilai ujian nasional serta nilai akhir.......jadi stressssss ada satu yang salah yaitu memasukkan nilai rata-rata pada ujian sekolah saya masukkan di kolom muatan lokal kolom nilai sekolah sebab mulok tempat saya hanya dua...dan kelihatannya ada ruang yang kosong..dan salah masuk harusnya di kolo rata-ratanya...nah mulai saat itu menambah konsentrasi..stressssssssssss..mohon arahan pak saya tunggu !!!!

    BalasHapus
  17. tidak hanya smp yang lampiran belakang ijazah ada rata-rata raport,nilai ujian sekolah. nilai sekolah dan nilai ujian nasional serta nilai akhir
    SD juga begitu pak.!!!
    SEANDAINYA TRANSKRIP NILAI SEPERTI TRANSKIP NILAI PADA IJAZAH PERGURUAN TINGGI yang bisa dicetak tulisan komputer mungkin agak ringan dan mengurangi resiko kesalahan...

    BalasHapus
  18. @Anonim
    Benar juga ya. Ke depan memang seharusnya dipikirkan oleh pemerintah hal tersebut. salam.

    BalasHapus
  19. wah betul pak...., saya malah diberi waktu 2 hari saja untuk menulis ijazah, semakin melihat contoh tulisan ijazah yang indah dan bagus semakin saya stress...akhirnya saya percayakan pada diri saya sendiri dan tulisan saya, itu yang membuat beban jadi ringan.

    BalasHapus
  20. salam hormat,
    saya kebetulan dipercayakan menulis ijazah namun pada penulisan saya ada kesalahan di no.seri ijazah dengan nmor ujian, apakah itu biza diganti dengan blanko yang baru? kalaupun bisa apa nmor serinya tetap?
    Mohon pencerahan

    jika mau lihat contoh makalah serta artikel menarik silahkan kunjungi blok saya:
    http://nugococom030108.blogspot.com

    BalasHapus
  21. Selamat pagi bapak Sungkowoastro,
    Saya Sugeng tinggal di bali. saya sangat senang dan tertarik dalam penulisan kaligrafi, sebelumnya saya sudah banyak menulis untuk wedding planner tamu domestik dan mancanegara di Bali. saya ingin mencoba menawarkan jasa menulis ijazah di sekolah2 dasar di bali. setelah sy baca semua komentar penulis sy jadi ragu-ragu jika saja saya mengalami kesalahan fatal dan tidak ada gantinya. untuk itu mohon pencerahannya.
    Terimakasih

    BalasHapus
  22. Maaf, Mas Sugeng, baru buka blog. Jadi, baru mengetahui kalau Mas berkunjung. Secara jujur, barangkali bagi beberapa orang yang memiliki talenta bisa "menulis indah", menulis ijazah boleh dianggap sebagai peluang untuk meraih rejeki. Akan tetapi, terkait dengan birokrasi pemerintah yang agak rumit dan apalagi ijazah sekolah mungkin kurang berani menyerahkan penulisan ijazah kepada pihak rekanan. Sampai saat ini, sepertinya masih memberdayakan guru-guru sekolah ybs untuk yang satu itu. Namun, baik kalau Mas mau mencoba menawarkan jasa kreasi itu kepada sekolah di tempat Mas berada. Semoga berhasil!

    BalasHapus
  23. kalau bisa dizaman yang nan canggih ini penulisan ijazahpun hendaknya harus melalui komputer, manfaatnya cukup besar dan kecepatanya pun semakin mantap... jadi bapak yang berkompeten dalam hal ini berikan lah kemudahan bagi penulis ijazah untuk dapat beralih kedua canggih... kalau ada yang mengatakan takut dipalsukan .. dizaman sekarang ini apa yang tak dapat difalsukan cuma satu nyawa....

    BalasHapus
  24. Saya pernah mngalami ijazah saya salah di tahun lahirnya, wsktu itu malah ijazah S1, dan pihak kampus memberikan surat keterangan ralat, shg dokumen ijazah saya dua lembar, ijazah asli dan ralat, sewaktu tes CPNS tidak ada masalah, surat ket ralat tsb saya sertakan,alhamdulillah saya lolos dan mjd pns sampai sekarang,insya Alloh jika memang benar,tidak masalah,

    BalasHapus
  25. maaf numpang tanya pak, saya berniat mau meralat ijazah SD SMP SMK yang tidak sesuai dengan Akta Kelahiran, tetapi katanya nanti ditambah surat keterangan dari sekolah saja. yg saya tanyakan apa nanti tidak terjadi permasalahan ya pak saat melamar kerja (PNS, BUMN dll)?
    terima kasih mohon jawabannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Untuk di ijazah SD, SMP, dan SMK, apakah nama, tempat tanggal lahir, dan nama orangtua mas, sudah sama? Jika sudah sama, mungkin perlu ralat Akta Kelahiran saja. Hal itu, tentu lebih mudah karena hanya sampai di kabupaten tempat akta tersebut diterbitkan. Dan, tentu tidak melibatkan banyak pihak seperti terkait dengan perubahan ijazah.
      2. Jika ternyata di ijazah SD, SMP, dan SMK identitas yang saya sebut di nomor 1 di atas berbeda, maka perlu diurus ijazahnya. Caranya, mas dapat membaca perundangan yang saya tulis ini: Anak Lampiran 1-b Keputusan Kepala BKN Nomor 11 Tahun 2002, Tanggal 17 Juni 2002. Lacaklah lewat google perundangan tersebut.
      3. Saat saya baca sekilas, setelah ada Surat Keterangan dari yang berwenang tentang keabsahan ijazah yang salah tulis, dapat dipakai untuk melamar CPNS atau di BUMN. Semoga info ini berguna, mas. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.

      Hapus
    2. Katanya sekarang hrus pakai drawing pen 0. 3 ya pak..?

      Hapus

""