Jumat, 04 Juni 2010

Menyelamatkan Mental Anak

Menyelamatkan Mental Anak

Saat-saat ini, waktu-waktu penerimaan peserta didik baru (PPDB), selalu akan dijumpai dua kemungkinan yang terjadi atas diri anak yang mendaftar sebagai peserta didik baru (PDB). Pertama, anak (berhasil) diterima menjadi calon PDB. Kedua, (dapat juga) anak tak diterima sebagai calon PDB.

Anak yang berhasil diterima (tentu) merasakan kegembiraan. Sebab, ”perjuangan” yang telah dilakukan, baik melalui tes tertulis, praktik maupun psikotes, membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Sekali mengarahkan ke sasaran, tepat tak melesat. Jadi tak perlu lagi mencari sasaran lain. Dengan begitu dari sisi tenaga, waktu, dan biaya lebih efektif dan efisien. Dari sisi psikologis, anak merasakan ”kelegaan” dan ”kesegaran” batin, yang sangat menunjang dalam pertumbuhan (dirinya) ke depan. Memandang masa depan lebih cerah-ceria. Dan, kondisi ini sangat memotivasi diri anak lebih percaya diri.

Efek positif pun dirasakan oleh orang tua secara langsung. Orang tua tak lagi terbeban mencari sekolah lain. Waktu yang terkonsentrasi untuk pekerjaan tak lagi ”terbelah” untuk membantu anak mencari sekolah dan menyelasaikan pekerjaan. Hal itu akan dirasakan setiap orang tua yang kerjanya terikat oleh jam kantor, perusahaan, pabrik, atau apalah namanya, bahkan mungkin termasuk juga orang tua yang memiliki usaha sendiri. Orang tua tak perlu repot-repot jika anak sekali mendaftar langsung (dapat) diterima.

Berbeda dengan anak yang tak diterima. Umumnya anak tersebut kehilangan rasa kegembiraan. Kegagalan yang dialami seakan-akan menutup pintu harapan. Apalagi jika anak itu mengalami kegagalan berulang. Saya menjumpai kasus yang menimpa salah satu anak kebetulan teman anak saya. Ia telah mendaftar di sekolah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), namun tak diterima. Lantas mendaftar di sekolah imersi, juga tak diterima. Dua kali tak diterima mungkin (saja) menimbulkan kepedihan yang amat dalam. Secara psikologis, diakui atau tidak, menjadi beban anak. Bisa jadi ia malu, baik kepada teman-temannya maupun gurunya, bahkan mungkin juga lingkungan berdomisili. Dan, ini bisa jadi (akan) membenamkan dirinya. Tak lagi punya sikap percaya diri.

Sebelum ada pengumuman diterima di kelas imersi yang dibuka di salah satu SMP negeri, yang kebetulan anak saya mengikuti, ”terbacalah” kegelisahan yang ada dalam diri anak saya. Puncak kegelisahan itu terlihat jelas manakala terlontar pernyataan dari ujung bibirnya, begini: ”Yah, kalau aku tidak diterima bagaimana, Yah?”. Saya menduga yang ada di dalam pikiran dan benak anak saya, tentulah ia takut saya (atau ibunya) marahi, atau paling tidak ia malu jika tidak diterima. Malu terhadap teman-temannya, atau juga mungkin (takut) mempermalukan ayahnya karena ayahnya mengajar di SMP tersebut. Maka, saya katakan kepadanya bahwa sekolah itu tidak hanya di imersi. Kalau di imersi gagal, bisa (saja) masuk di reguler. Yang penting tetap memiliki semangat belajar. Karena semangat belajar inilah yang mampu mengantar meraih keberhasilan. Kalau di imersi, namun tak ada semangat belajar, niscaya tak membawa kebaikan; sebaliknya, meskipun di reguler jika punya semangat belajar (yakinlah) akan membawa harapan yang ”menyegarkan’ di masa depan.

Sejak itulah, meski masih dalam waktu-waktu menanti pengumuman penerimaan peserta didik imersi, anak saya tak lagi tampak gelisah. Keceriaannya, yang tenggelam oleh kegelisahan itu, muncul kembali. Malah terlihat tumbuh sikap percaya diri.

Nah, anak-anak yang benar-benar telah tak diterima (seperti yang menimpa teman anak saya) itu, perlu mendapat pendampingan secara khusus. Jangan sampai ”kegagalan” yang menimpa dirinya dipandang sebagai hal yang ”mematikan”, membunuh masa depannya. Rasa malu (jelas) akan menghantuinya. Tapi, perlu diupayakan tak sampai jiwa anak terlarut dalam rasa malu itu. Menanamkan sikap bahwa kegagalan itu dapat menimpa siapa pun, dalam hal apa pun, dan kapan pun rupanya sebuah pembelajaran yang penting. Agaknya tak ada orang yang sukses tanpa melewati kegagalan dalam fase tertentu. Peristiwa itu hal yang sangat alamiah.

Oleh karena itu, orangtua, sanak-saudara, guru, dan teman memiliki peran yang sama untuk membantu agar tak ada keterpurukan mental. Membangun kedekatan komunikasi penuh empati diyakini mampu memberi terapi. Agar, sikap percaya diri tumbuh kembali. Semoga!

4 komentar:

  1. bener sekali, pak sungkowo. anak2 kita masih sangat membutuhkan suntikan dan motivasi ketika sedang menghadapi tantangan. prestasi apa pun yang dia raih tetapi kita apresiasi. kita perlu membesarkan hati anak2 yang sedang menghadapi masalah.

    BalasHapus
  2. karena dari anaklah akan ditentukan bagaimana sikapnya ke depan kalo udah dewasa. bimbingan dan perhatian sangat vital perannya bagi masa kecil mereka

    BalasHapus
  3. Soal keberhasilan dan kegagalan, saya banyak ditempa di SMA saya dulu di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Pak.

    Sebelum masuk sana, saya selalu depresi kalau gagal melakukan sesuatu, tapi setelah dari De Britto, ketika gagal saya tak langsung depresi tapi menelisik dulu apa yang membuat gagal..:)

    BalasHapus
  4. Saya malah paling konyol dalam hal mempersiapkan mental anak. Walau anak saya nilai UN dan rapot termasuk 10 besar untuk lulusan SMP dan tertinggi di SDnya..saya menyiapkan dua sekolah, Negeri dan swasta. Walau diketawain teman..lha swasta kok Pangudi Luhur, dan Tarakanika saat si bungsu. Syukurlah akhirnya diterima di kedua sekolah itu dan lebih memilih negeri karena temannya banyak melanjutkan di sekolah negeri (lagipula SPP nya murah). Tapi kita memang harus menyiapkan mental anak, agar anak tak deperesi jika tak diterima.

    BalasHapus

""