Rabu, 23 Juni 2010

Menyerah Diri

Menyerah Diri

Saat tulisan ini mulai ditulis, Ariel Peterpan, yang belakangan bersama Luna Maya dan Cut Tari dipergunjingkan masyarakat tak hanya Indonesia, tapi juga dunia, karena tersebarnya video seronok, sekitar 24 jam yang lalu menyerahkan diri ke pihak yang berwajib. Penyerahan (mantan) vokalis Peterpan ke kepolisian itu, tak mengagetkan banyak orang. Sebab, sejak awal masyarakat telah menduga perzinahan yang terlihat dalam media digital itu memang melibatkannya. Bahkan, Ariel dapat dibilang sebagai ”pemeran” utama.

Hanya sayang, penyerahan Ariel kepada Mabes Polri itu menunggu waktu yang begitu lama. Tidak sejak dulu-dulu menyerahkan diri. Dan, realitas inilah yang (agaknya) memang sering terjadi di negeri ini. Siapa pun yang mengalami kesalahan selalu akan ”membela” diri benar agar tak dijatuhi konsekuensi. Namun, setelah publik mempergunjingkan keberadaan seseorang itu sampai nyaris tak berkutik, barulah menyerahkan diri.

Dengan demikian, jelas sudah bahwa sering penyerahan diri yang dilakukan oleh oknum itu bukan karena kesadaran diri. Bukan penyerahan diri yang berdasar pada inisiatif sendiri. Tapi, atas desakan banyak orang. Penyerahan diri yang demikian ini lebih banyak menimbulkan dendam. Artinya, jika konsekuensi yang dijatuhkan telah dialami dan selesai, oknum itu akan melakukan tindakan serupa di kemudian hari, yang bisa jadi lebih nekat.

Berbeda dengan ketika ada orang bersalah dan mengaku kesalahannya dengan jujur. Ia akan menyerahkan diri secara ikhlas kepada pihak yang berwajib. Di tengah-tengah masyarakat kita dapat juga kita jumpai perilaku positif seperti itu, meskipun jarang. Habis membunuh orang, misalnya, langsung lari ke kantor polisi dan menyerahkan diri. Habis menabrak seseorang tak dikenal di jalan, langsung menghilang dari kerumunan massa, tapi tiba-tiba muncul di kantor polisi. Memang, sering terjadi jika tetap berada di tempat kejadian perkara boleh jadi digebugin banyak orang karena emosi. Oleh akrena itu, tindakan menyerahkan diri itu lebih baik, lebih bijak. Sebab, ”urusan” tentu akan selesai dengan lebih berarti.

Penyerahan diri yang demikian itu, tak hanya akan meyelesaikan persoalan secara baik, tapi di kemudian hari umumnya orang-orang yang demikian itu tak mau lagi mengambil risiko. Artinya, mereka akan lebih berhati-hati. Ada perubahan sikap yang terjadi pada mereka. Kalau dulu penuh emosi, kini penuh kesabaran hati. Jika dulu di jalan ugal-ugalan mengendarai kendaraan, kini mematuhi rambu-rambu yang ada.

Apalagi jika, penyerahan diri itu tak cukup kepada pihak yang berwajib, tapi kepada Sang Khalik, niscaya akan membawa keharuman hidup di kelak kemudian hari. Karena, Tuhan akan menyediakan tempat yang mulia, baik di bumi ketika masih hidup maupun setelah ”masuk” di bumi yang baru bersama Tuhan. Jadi, pertobatan merupakan penyerahan diri secara hakiki. Bagaimanakah diri kita?

11 komentar:

  1. Saya tak mengikuti berita ini pak..akhir2 ini sibuk banget dan melakukan perjalanan keluar kota.

    BalasHapus
  2. Asyik banget ya, Bu, acaranya. Selalu menyegarkan. Selamat!

    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  3. video syahwat memang sedang menjadi perdebatan hangat, pak, termasuk di kalangan pakar hukum. soal menyerahkan diri, orang begitu phobi terhadap masalah hukum. pdahal konon, sebenarnya hukum bukan utk ditakuti, melainkan utk ditaati.

    BalasHapus
  4. yang saya kurang mengerti kenapa ariel diancam 12 tahun penjara dengan tuduhan menyetubuh wanita yang tidak sadar. padahal jelas-jelas cewek disitu sangat sadar.
    Kepastian itu ariel emangnya udah terbukti ya pak?
    Kalopun itu dia menurut saya dia adalah korban.
    ini musibah, seharusnya yang menyebarkanlah yang diusut.

    BalasHapus
  5. @Pak sawali:
    Benar, Pak, saya sepakat bahwa hukum bukan untuk ditakuti, tapi (memang) untuk ditaati. Sebab, ketika warga bangsa mau menaati hukum yang ada, niscaya hidup berbangsa akan lebih nyaman dan tentram.
    Salam kekerabatan.

    @Tukang Colong:
    Inti tulisan "Menyerah Diri", sebenarnya lebih mengarah pada bagaimana sikap hidup orang yang bersalah itu seharusnya, tak cukup di akhiri di tataran hukum dunia, tapi lebih hakiki jika diakhiri di hadapan Tuhan. Ada pertobatan sehingga tak mengulang kesalahan itu di kelak hari. Kasus Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari hanya pemancing inspirasi, tak lebih dari itu.

    Perihal kepastian Ariel bersalah atau tidak memang belum ditemukan secara hukum duniawi. Tapi, bagi saya justru sosok yang menyebarkan tanggung jawabnya lebih ringan dibanding dengan si pembuat. Sebab, ada distributor kan kalau ada produsen yang memproduksi barang/jasa. Tak mungkin disebarkan kalau tak ada barangnya. Inisiatif negatif, jelas muncul dari si produsen.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  6. Pornografi/pornoaksi dalam bentuk apapun sangat buruk bagi perkembangan moral/mental generasi muda kita. Maka siapaun yang kini tengah terjerat masalah itu sebaiknya segera taubat nasuha.

    BalasHapus
  7. Saya sangat setuju, Pak Mursyid.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus
  8. Saya menemukan dimensi tulisan yg berbeda ttg ariel di sini, Pak.
    Tntang sesuatu yang tak melulu menghakimi tapi lebih ke ajakan untuk pertobatan.

    MenariK!

    BalasHapus
  9. harus pinter-pinter ngambil hikmah untuk setiap kejadian berarti pak ya..?

    BalasHapus
  10. Kepalanya udah pening kali Pak...dengan hujatan kesana kemari

    BalasHapus
  11. @Tukang Colong:
    Betul,betul,betul....
    Salam kekerabatan.

    @Komunitas Salesmen:
    Mungkin juga ya.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus

""