Jumat, 04 Juni 2010

Mulai Dapat Menerima

Mulai Dapat Menerima

Putri kami -saya sebut putri karena putra kami ini berjenis kelamin wanita- yang pertama, yang sebentar lagi hendak mmenikmati bangku sekolah menengah pertama (SMP), baru saja mencuci hasil karya kelompok yang berupa ”sulaman” sebelum diserahkan kepada guru sekolah dasar (SD)-nya. Saat mencuci, ia duduk di kursi plastik kecil. Terlihat asyik dan sungguh dapat menikmati. Sayang, suasana itu tak dapat lama dinikmati karena adiknya, putri kami yang kedua, usia 2,5 tahun, mulai mengganggu. Tak sekadar dengan ocehan-ocehan lucunya (seolah-olah telah merasa ”besar” dan mampu) dengan menyatakan keinginannya ikut mencuci, tapi (juga) meminta kursi yang dipakai kakaknya.

Dengan ”senjata” rengekan, yang awalnya kakaknya mempertahankan, ternyata tak lama juga pertahanan itu melemah, akhirnya kursi yang sedari tadi diduduki, kini beralih ke tangan adiknya. Berlarilah si kecil sembari mengangkat kursi itu menuju ke depan televisi yang kala itu memang menyala. Lantas melihat televisi sambil duduk di kursi, terlihat sangat gembira.

Tak peduli terhadap kakaknya yang akhirnya mencuci dengan jongkok. Si kecil menunjukkan sikap egoisnya. Ia belum memiliki rasa ”kasihan” terhadap orang lain, terlebih (terhadap) kakaknya sendiri yang setiap hari selalu berjumpa. Keinginannya selalu ingin dipenuhi meskipun harus ”menyakiti” hati orang lain. Bahkan kebiasaan yang muncul ketika barang atau sesuatu telah berhasil di tangannya, ”mengejek”, semisal dengan ungkapan, ”kasihan deh lo,”. Si kecil akhirnya ”menjadi” sosok yang menang-menangan.

Sebaliknya, si kakak menjadi pribadi yang dibuat kalah-kalahan. Inilah fakta yang terjadi dalam kehidupan keluarga yang di dalamnya terdapat anak, yang terdiri atas adik-kakak. Bahkan, sering orang tua melontarkan ungkapan-ungkapan seperti, ”sudahlah kamu kan kakak mengalah saja”, ”biarlah ini untuk adikmu saja”, dan sebagainya yang sejenis. Itu semua dilakukan untuk ”menjaga” agar si kecil tak ngambek, merengek, atau bahkan menangis. Sebab, kalau si kecil ngambek, merengek, atau menangis tentu akan merepotkan orang tua. Dan, bukan tidak mungkin hal tersebut akan mengganggu kelancaran semua aktivitas yang telah terencana.

Awalnya, putri kami yang pertama, si kakak, menanggapi perlakuan demikian, tidaklah senang. Tampak sekali sikap bencinya, dengan kadang masuk ke dalam kamar mengunci diri, wajahnya berubah menjadi ”jelek” serupa wajah nenek-nenek, bahkan pernah juga menangis. Tak lagi mau disapa, apalagi disuruh. Kebencian itu tentu tak cukup diarahkan kepada si kecil saja, tapi juga orang tua, bahkan jika dalam satu rumah itu ada banyak orang, semua kena imbasnya. Inilah konsekuensi logis ketika sesuatu mengalami perubahan, apalagi perubahan itu berasal dari hal yang ”enak” menuju ke kurang ”enak”, akan tampak semakin jelas.

Akan tetapi, lambat laun, secara alamiah, sikap ”pemberontakan” si kakak mulai runtuh, meski orang tua jarang melontarkan ungkapan ”pembelaan” terhadap si kecil. Si kakak agaknya telah mulai menerima perlakuan yang diberikan kepada si kecil. Bahkan, peristiwa yang dialami kedua putri kami, yang menginspirasi tulisan ini, menunjukkan bahwa si kakak mulai dapat menjadi lebih dewasa. Tanpa saya terlibat dalam ”persoalan” mereka itu, semua mengalir dengan baik. Si kecil memang masih demikian egois, tapi si kakak mulai dapat menerima keegoisan si adik, si kecil itu. Puji Tuhan!

7 komentar:

  1. hehe ... kok sama dengan saya dan nyonya ketika melihat anak2 sedang terlibat perselisihan, pak. kami mesti meminta agar kakak2nya lebih mengalah buat membesarkan hati adiknya, hihihi....

    BalasHapus
  2. He he he anak saya keduanya laki2 (yg besar kls 5 dan kcl kls 2), kalau pas berkelahi rame banget, pak. Sepanjang tidak sampai mengeluarkan kata2 kotor dan saling tonjok saya sering mendiamkannya. Paling kalau sudah keterlaluan dan sangat mengganggu suasana rumah keduanya saya 'penthelengi' lalu, biasanya, keduanya menangis dan selesailah. Inilah salah satu seni berumah tangga, ya?

    BalasHapus
  3. apalagi remaja ya pak? baru transisi, sedang si adek belum mengerti simpati...mudah2an lah dengan kebijaksanaan bapak sebagai orang tua dapat menggoreskan tinta2 kebaikan di hati keduanya putra putri bapak yang baik...amiinn...

    BalasHapus
  4. semoga anak bapak bisa menjadi anak yang bapak harapkan..:)

    BalasHapus
  5. pasti putri pak sungkowo, nurut dan nggak neko neko ya pak, semoga bisa membahagiakan orang tua kelak

    BalasHapus
  6. Tiba-tiba saya disadarkan pada satu nilai yang saya dapatkan dari tulisan ini... menjadi dewasa itu adalah dengan menjadi sosok pribadi yang ngalah dan nrimo ya, Pak :)

    BalasHapus
  7. beda banget ya pak dengan para pemimpin kita. mereka yg kita anggap sebagai kakak/orangtua gak pernah mau ngalah dengan kita yg noatabene sebagai anak/adik T_T

    BalasHapus

""