Rabu, 30 Juni 2010

Pendidikan yang Memberi Ruang Berkreasi

Pendidikan yang Memberi Ruang Berkreasi

Disadari bahwa pendidikan dibangun sebenarnya salah satunya demi memberi ruang pertumbuhan kreativitas peserta didik. Pertumbuhan kreativitas peserta didik, yang senantiasa dimbangi dengan bimbingan, arahan, dan rangsangan guru/pembimbing akan dapat dipantau secara periodik. Melalui laporan hasil pembimbingan per semester, misalnya, perkembangan kreativitas peserta didik dapat diketahui. Hal itu, tentu akan memudahkan guru/pembimbing dan orang tua/wali murid untuk terus memberi pelayanan sesuai dengan tingkat pertumbuhan kreativitas mereka. Idealnya, dengan demikian, tidak ada potensi kreatif mereka yang tersumbat. Sehingga, terus berkembang menuju pada kemandirian berkreasi.

Kemandirian berkreasi itulah yang sebenarnya perlu ada di setiap peserta didik. Dengan kemandirian berkreasi, peserta didik (sendiri), guru, bahkan orang tua/wali murid tak perlu (lagi) merisaukan masa depan generasi penerus bangsa ini. Faktanya, kemandirian berkreasi yang dimiliki akan sangat membantu mereka dalam menjalani hidup kelak. Itulah sebabnya, ”meyakini” bahwa setiap peserta didik memiliki potensi khusus sebagai bekal membangun kemandirian berkreasi sangat penting. Keyakinan itu hendaknya mampu membentuk pribadi guru yang akhirnya mau menghargai keberagaman potensi khusus yang dimiliki peserta didik. Sehingga, semua mendapat ruang untuk berkembang.

Untuk memberi ruang pertumbuhan potensi khusus peserta didik, salah satu cara yang ditempuh sekolah adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Maka, wajar kalau di sekolah ada beragam ekskul, baik yang menampung bidang akademik maupun nonakademik. Namun harus diakui bahwa tak semua bidang dapat tertampung. Karena, di samping tenaga yang dibutuhkan tak selalu tersedia, juga (ini yang lebih sering menjadi persoalan di sekolah) anggaran yang tersedia sangat minim.

Sementara kegiatan intrakurikuler (sendiri), yang dilaksanakan pagi hari, lazimnya kurang mampu menampung semua aktivitas pengembangan keterampilan peserta didik. Karena dalam kegiatan intrakurikuler, peserta didik lebih dihadapkan pada penguasaan pengetahuan. Jadi, praktis aspek keterampilan kurang tersentuh. Apalagi di sekolah yang bersifat umum, seperti SMP dan SMA. Di SMK masih lebih beruntung karena aspek keterampilan yang terkait dengan praktik umumnya alokasi waktunya seimbang dengan aspek pengetahuan yang terkait dengan teori, atau bahkan lebih banyak. Itulah sebabnya lulusan SMK lebih siap memasuki dunia kerja ketimbang SMA, meski (keduanya) sama-sama jenjang pendidikan menengah.

Kegiatan ekskul, yang menjadi ruang potensi khusus peserta didik bertumbuh, sebenarnya sebagai wadah mematangkan keterampilan terkait dengan potensi khusus yang dimiliki peserta didik. Sayang, kegiatan yang lebih bersifat pengembangan diri itu, lebih banyak ”terputus” ketika peserta didik memasuki kelas akhir, seperti kelas IX untuk SMP dan kelas XII untuk SMA. Mereka umumnya tak diizinkan lagi mengikuti ekskul karena harus fokus terhadap persiapan menghadapi ujian nasional (unas). Unas, dengan demikian, menjadi semacam ”perintang” kebebasan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Masih lebih baik jika potensi khusus yang digumuli itu terkait dengan bidang akademik, seperti KIR dan jurnalistik, karena meski tak ikut ekskul (lagi), di jam intrakurikuler pun masih dijumpai. Berbeda dengan peserta didik yang berkecimpung di bidang nonakademik, semisal pencak silat, teater, dan band. ”Kegemaran” mereka jelas tak tersentuh lagi karena (memang) bidang tersebut jauh dari area materi unas.

Peserta didik harus mengorbankan hobinya demi memenangkan materi unas. Padahal, hobi umumnya memiliki nilai yang lebih prospektif. Karena berawal dari menekuni hobi (baca: potensi khusus) saja, ada banyak orang sukses ketika usia masih belia, sekalipun potensi khusus itu sering tak terkait dengan area unas. Maka, kurang pas jika peserta didik kelas akhir, yang menghadapi unas itu, harus ”dipisahkan” dengan aktivitas pengembangan potensi khususnya.

Barangkali masih ada sisi positifnya jika mereka tetap diizinkan mengikuti. Bukankah aktivitas yang terkait dengan kegemaran dapat menciptakan suasana batin dan pikiran senantiasa lebih segar? Kejenuhan dalam ”belajar” mempersiapkan unas justru akan ”tertolong” manakala anak masih diberi ruang untuk menggauli keterampilannya. Keterampilan, yang sangat dekat dengan potensi mereka itu, justru dapat menjadi ”penyeimbang” antara suasana benak dan otak, bahkan tak menutup kemungkinan ”kesegaran” diperoleh kembali dan belajar pun termotivasi.

Lebih jauh lagi unas sebagai produk politik pendidikan (ternyata) dicurigai banyak orang dapat mengerdilkan potensi khusus yang dimiliki peserta didik. Betapa tidak, taruhlah misalnya, peserta didik itu cerdas piano. Tapi, ia jeblok di salah satu mapel unas sehingga mengantarnya ”belum” lulus. Insiden tersebut, secara psikologis, dapat saja membuat peserta didik itu kehilangan ”gairah” belajar, yang boleh jadi berdampak (pula) pada ”hilangnya” semangat berpiano karena kecewa, malu, dan beban psikologis lainnya. Bahkan tak jarang peserta didik yang mengalami insiden demikian menarik diri dari pergaulan komunitasnya dan publik. Kran kreativitasnya lalu tersumbat.

Menarik ketika dibuka (SMK?) bergerak di bidang olahraga, di Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa tahun lalu. Anak-anak yang memiliki potensi khusus di bidang olahraga telah memiliki ruang pendidikan yang tepat serupa anak-anak yang mempunyai potensi seni yang telah memiliki arena pendidikan sendiri, yakni sekolah menengah kesenian Indonesia (SMKI). Unas, yang hanya mementingkan beberapa mata pelajaran (mapel) itu, tentunya tak lagi menjadi momok bagi mereka. Dengan demikian, belajar mereka dalam menekuni potensi khususnya ada dalam suasana menyenangkan dan menggairahkan.

8 komentar:

  1. itulah yang menyebabkan mutu pendidikan di negeri ini ndak pernah bergeser dari kubangan keterbelakangan, pak. model penyeragaman yang nyata2 tdk menghargai potensi siswa didik masih juga terjadi. perlu keberanian dan terobosan baru utk mengubah mind-set status quo.

    BalasHapus
  2. dulu di masa saya masih SMA kegiatan ekskul masih mendapatkan perhatian.... sekarang yg dipentingkan hanya bagaimana cara siswa agar bisa lulus dan ekskul kurang mendapat tempat lagi di sekolah, akibatnya anak sekolah serasa di penjara dan bisa dilihat sendiri ketika lulus mereka serasa lepas dari penjara akibatnya meraka merayakan kelulusan secara - pinjam istilah anak jaman sekarang - lebai

    BalasHapus
  3. kita harus tidak bosan-bosan menyuarakan ini pak. PEDIDIKAN TELAH KELUAR DARI ESENSINYA.
    aturan pendidikan telah memaksa bebek menjadi elang.
    peserta didik yang memiliki pretasi olahraga, kenapa harus memiliki nilai bahasa yang tinggi?
    peserta didik yang memiliki prestasi kebahasaan, mengapa harus memiliki nalai IPA yang tinggi...?
    ya... kadang pertanyaan di atas dijawab pra petinggi pendidika:
    1. mengapa gak sekolah olahraga?
    2. mengapa gak sekolah jurusan bahasa?
    sekolah selalu disalahkan

    BalasHapus
  4. Kemampuan untuk kreatif sebenarnya bisa dilatih sejak dini, antara lain dengan memberikan ruang untuk para siswa. Pendidikan yang lebih mengutamakan pada pengetahuan bisa membuat jiwa kering, serta juga bisa membosankan.

    Sebenarnya hal-hal seperti ini mestinya bisa didiskusikan antara para pemangku kepentingan, para guru, serta orangtua....ahh entahlah, saya membayangkan jadi Guru sekarang pasti pusing

    BalasHapus
  5. Yah, kata "kreasi" emang yang tidak begitu saya rasakan di dunia pendidikan kita. keteraturan yang diajarkan membuat pola pikir murid jadi kaku. saya rasa, untuk membuat pendidikan menjadi ajang kreasi, dibutuhkan juga guru yang kreatif.:)

    BalasHapus
  6. Sepakat banget dengan comment pak Budisan.

    BalasHapus
  7. itu memang yg memandekkan kreativitas anak bangsa ini paak..kita jadi ga kreatif nyari duit. pikirane konvensional mulu. akhire marak korupsi, kolusi, nepotisme yang ga sehat itu...ada lagi ide, ide itu yaitu buka pulau judi dengan hiburan selangkangannya itu...payah! padahal harta kekayaan kita dikeruk label 'kerjasama' dengan bangga kita bilang. "aku lho kerja di perusaahaan multinasional, perusahan asing, gajine gede!" lupa bahwa itu tanah kita....ha..ha..ha...*anak negeri akhirnya banyak yang miskin, jadi gelandangan, dan mengotorin wajah kota kita* begitulah pak...

    BalasHapus
  8. @Pak Wali:
    Ya, Pak, saya setuju. Sekalipun perubahan sering membawa "kekurangnyamanan" pihak-pihak tertentu.

    @Om Firdaus:
    Euforia mereka yang begitu berlebihan, bahkan sering tak masuk akal, lebih dipengaruhi oleh tipisnya tata moral mereka. Sebab, sulit menemukan figur bermoral dalam masyarakat luas.

    @Pak Budi:
    Setuju, Pak.

    @Bu Edratna:
    Diskusi yang digelar, baik lewat media maupun langsung, telah demikian sering dan kadang membosankan (tapi, Pak Budi mengingatkan: jangan bosan!)tak pernah ada solusi yang memberikan "kesejukan".

    @Tukang Colong:
    Kreativitas guru sering terpental karena benteng kebijakan pemangku pendidikan yang demikian "kuat".

    @tfd:
    Serupa benang kusut, ya Dok. Hahaha....

    BalasHapus

""