Selasa, 27 Juli 2010

24 Jam, Kini Seakan Masih Kurang

24 Jam, Kini Seakan Masih Kurang

Ketika saya masih kecil, sekitar tiga dekade yang lalu, 24 jam sebagai waktu yang lebih dari cukup disediakan oleh Sang Khalik bagi umat-Nya. Siang hari, tepatnya dari pagi hingga sore, orang-orang sibuk bekerja. Di desa saya, kala itu, yang berprofesi sebagai petani bersibuk ria di kebun atau sawah. Lazimnya, pagi hingga siang. Pulang sebentar untuk makan dan istirahat, lantas kembali lagi bergelut dengan tanah sampai petang. Sementara itu, yang memiliki pekerjaan di kantor pemerintah/swasta, paginya bekerja di kantor; sorenya bersawah atau berladang. Malam menjadi waktu khusus untuk melepas lelah.

Jadi, suasana malam menjadi suasana yang nihil aktivitas. Kalau pun ada aktivitas, hanya di rumah-rumah orang yang kebetulan memiliki hajat. Atau, secara sembunyi-sembunyi aksi pencuri (di desa saya orang sering menyebut: maling) menyatroni rumah sasaran. Selain itu, tak ada gerak hidup. Orang-orang tidur di rumah masing-masing. Apalagi kala itu memang listrik belum masuk desa. Jadi, praktis kalau tak bulan purnama, gelap melingkupi seluruh wilayah desa. Tapi, suasana gelap itu ternyata merangsang hewan-hewan malam bersuara, melantunkan tembang-tembang alami keajaiban illahi. Menyenyakkan orang-orang dalam pelukan malam.

Menyingsing fajar, turun beraktivitas. Orang-orang kembali bekerja seperti kemarin. Ada yang di sawah/kebun, di pasar, di kantor pemerintah/swasta, dan di tempat lain. Siklus gerak kehidupan berulang. Namun, masih ada batas-batas yang ”dihormati” bersama untuk berhenti bekerja. Maka, kalau dalam rentang waktu orang harus berhenti bekerja, tapi ternyata masih dijumpai ada orang bergiat dalam kerja (kecuali orang berhajat), orang tersebut akan menjadi bahan pembicaraan (olok-olok) banyak orang, tetangga sekitar. Orang itu dianggap tak tahu adat, atau malah dibilang tak takut kualat. Kualat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti mendapat bencana (krn berbuat kurang baik kpd orang tua dsb); kena tulah; celaka; terkutuk. Itu peri kehidupan tempo dulu.

Kini, semua menjadi berubah. 24 jam menjadi waktu yang penuh dengan aktivitas. Di desa saya, sekarang, jalan depan rumah mertua dan mendiang orang tua tak lagi sepi dari kendaraan, meskipun bukan kendaranan omprengan, pengangkut penumpang. Truk-truk besar memuat bebatuan bahan produk pabrik melintas sambung-menyambung. Deru truk seakan telah menjelma jadi tetabuhan sepanjang malam yang menggantikan nyanyian alam para hewan. Di dalam rumah pun, kadang masih ada orang yang disibukkan oleh tayangan televisi yang memang 24 jam tanpa henti bertayang. Mertua saya, di desa, misalnya, sering melihat tayangan tinju di malam hari. Bahkan, sepak bola dunia (apakah itu piala dunia atau piala Eropa), tak menyurutkan orang begadang malam-malam.

Kompas, 4 Juli 2010 yang lalu, memuat tulisan, di antaranya bertajuk ”Jakarta 24 Jam Belum Cukup” dan ”Meraih Peluang di Kala Malam”. Dua tulisan itu menyodorkan betapa kesibukan Jakarta tak pernah ada usai. Siang dan malam memiliki nilai aktivitas yang sama. Kafe-kafe, warung-warung, bahkan cucian kendaraan buka selama 24 jam. Orang-orang malang-melintang bersibuk tak mengenal waktu siang atau malam mencari uang.

Rupanya, gaya hidup kota metropolitan, Jakarta, atau (mungkin) kota-kota besar lainnya, kini telah ”menginspirasi” kota-kota kecil, seperti Kudus, Jawa Tengah. Kalau beberapa tahun yang lalu, kesibukan malam hanya terlihat di rumah-rumah sakit, pabrik-pabrik, dan beberapa apotek, sekarang telah merambah ke banyak tempat pelayanan publik lainnya, seperti warung, POM bensin, indomart swalayan, rumah makan, cucian kendaraan, bahkan perempatan-perempatan jalan penuh dengan tukang ojek. Meski saya tak pernah tahu, saya yakin bahwa kota-kota kecil lain (di mana saja) serupa Kudus, pasti tak pernah senyap dari kesibukan aktivitas kala harus beristirahat tidur. Orang-orang telah ditelan kesibukan selama 24 jam, yang terus berputar. Mengais rejeki sepanjang hari selebar malam. Ah!

4 komentar:

  1. saya juga merasakan hal yang sama pak. jadi harus pinter bagi waktu dan memilih prioritas

    BalasHapus
  2. waktu juga terus bergerak mengikuti arus peradaban, pak. di kampung2 pun sekarang hampir tak pernah sepi dari aktivitas.

    BalasHapus
  3. "Nice artikel, inspiring ditunggu artikel - artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim's :)"

    BalasHapus
  4. Atau memang sebetulnya dunia makin cepat berputarnya? Rasanya memang waktu cepat sekali berlalu

    BalasHapus

""